Indonesia memiliki cita-cita luhur untuk mensejahterakan rakyatnya sejak pertama kali negara ini dibentuk. Untuk mencapai cita-cita tersebut, maka dibentuklah perangkat-perangkat negara untuk menangani permasalahan yang sedang berkembang secara spesifik. Salah satu bidang yang perlu ditangani secara spesifik adalah bidang ketenaganukliran, maka dibentuklah Lembaga Tenaga Atom yang merupakan cikal bakal Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).
Meski pada awalnya kesejahteraan rakyat bukan alasan utama dibentuknya Batan, namun perkembangan selanjutnya menuntut adanya objektif yang nyata dari kegiatan yang dilaksanakan Batan. Untuk itu, disusunlah visi dan misi Batan dalam jangka panjang. Visi yang dicanangkan adalah “Terwujudnya iptek nuklir berkeselamatan handal sebagai pemicu dan pemacu kesejahteraan”. Sedangkan, misi-misi yang dikembangkan dalam rangka mewujudkan visi yang telah dicanangkan adalah sebagai berikut :
- Melaksanakan litbangyasa iptek nuklir untuk bidang energi dan non energi,
- Melakukan diseminasi hasil litbangyasa iptek nuklir,
- Melaksanakan kegiatan demi kepuasan pemangku kepentingan.
Dari visi dan misi Batan ini jelas bahwa kesejahteraan rakyat Indonesia lah yang diharapkan dapat diwujudkan. Oleh karena bidang yang ditekuni adalah ketenaganukliran, maka melalui ranah nuklir lah Batan harus mensejahterakan rakyat. Kongkritnya, Batan harus melaksanakan penelitian yang berkaitan dengan ketenaganukliran untuk menghasilkan produk-produk yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan.
Sejauh ini, produk-produk yang dihasilkan Batan meliputi bidang pertanian, peternakan, perikanan, kedokteran nuklir, pengawetan makanan, pelacakan air tanah, dan bidang energi atau PLTN. Untuk PLTN, meski masih belum dapat dipastikan kapan pembangunannya, tetapi penelitian ke arah sana terus dilaksanakan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah : sudah mampukah produk-produk yang dihasilkan Batan ini memberikan kontribusi dalam membangun kesejahteraan masyarakat?
Sebuah artikel di media nuklir populer Nu-Tech mungkin dapat menjawab pertanyaan ini. Dalam sebuah artikel yang berjudul “Industrializing Technology” yang ditulis oleh Dimas Irawan, dapat disimpulkan bahwa manajemen riset di Indonesia belum mampu memetakan dan mengarahkan dunia riset nasional untuk menghasilkan teknologi yang memiliki potensi dan menarik bagi pasar yang disertai dengan skema alih teknologi yang jelas.
Untuk itu, diperlukan sebuah penajaman tujuan-tujuan agar riset iptek nuklir yang dilaksanakan Batan mampu berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kepentingan negara secara formal. Selain itu, yang juga tak kalah penting adalah bagaimana hasil riset ini mampu menggerakkan ekonomi rakyat Indonesia secara keseluruhan sehingga secara otomatis akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Millennium Development Goals (MDGs)
Pada pergantian millennium ketiga, para pemimpin dunia merasa perlu untuk merapatkan barisan dan menyusun kesepakatan untuk memecahkan berbagai masalah yang terjadi di dunia. Hal ini ditandai dengan penandatanganan deklarasi millennium. Deklarasi ini disepakati oleh 189 negara pada bulan September tahun 2000 di ibu kota PBB, New York.
Bagian dari deklarasi tersebut berisikan Millenium Development Goals (MDGs) atau Sasaran Pembangunan Milenium. MDGs merupakan 8 (delapan) tujuan yang sedianya diupayakan untuk dicapai pada tahun 2015. Kedelapan tujuan tersebut adalah tantangan-tantangan global yang dihadapi dunia yang perlu diatasi untuk mencapai kehidupan yang lebih sejahtera. Berikut adalah kedelapan sasaran tersebut :
1. Pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim.
2. Pemerataan pendidikan dasar.
3. Mendukung adanya persamaan gender dan pemberdayaan perempuan.
4. Mengurangi tingkat kematian anak.
5. Meningkatkan kesehatan ibu.
6. Perlawanan terhadap HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya.
7. Menjamin daya dukung lingkungan hidup.
8. Mengembangkan kemitraan global.
Sebagai sebuah kesepakatan global, sudah selayaknya pencapaian MDGs diupayakan semua negara yang menandatanganinya, termasuk Indonesia. Dalam hal penajaman tujuan-tujuan riset Batan, maka tujuan-tujuan yang tertuang dalam MDGs dapat dijadikan sebuah acuan yang penting.
Dengan penelitian yang dilaksanakan dan produk-produk yang telah dihasilkan, Batan harus mengarahkan segenap kemampuan untuk mencapai sasaran pembangunan millennium. Memang tidak semua ranah bisa dimasuki Batan tetapi ada beberapa ranah yang bisa dimasuki Batan yaitu dalam hal pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim, mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, penanggulangan HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya, dan menjamin daya dukung lingkungan hidup.
Pengentasan Kemiskinan dan Kelaparan Yang Ekstrim.
Berdasarkan data dari pusat informasi pangan Asia (AFIC), lebih dari 2 miliar penduduk Asia bergantung pada nasi untuk mensuplai 60–70% kebutuhan kalori perhari. Tingginya ketergantungan penduduk Asia kepada konsumsi nasi, menyebabkan riset untuk menciptakan varietas baru pada padi sangat maju. Sejauh ini, Batan telah melaksanakan penelitian di bidang pertanian dengan menghasilkan benih padi unggul yang sudah banyak nikmati oleh masyarakat.
Dengan luas lahan yang dimiliki Indonesia ditambah dengan tingkat kesuburan tanah yang tinggi, sudah seharusnya lah Indonesia menjadi salah satu lumbung pangan dunia. Oleh karena itu, pertanian merupakan salah satu ranah yang harus dimasuki Batan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia dan dunia.
Sejak tahun 1999 pemerintah menginstruksikan lembaga-lembaga negara untuk memfokuskan program kerjanya pada pengentasan kemiskinan masyarakat. Oleh Batan, kebijakan ini diaplikasikan dalam sebuah program yang dilaksanakan dalam rangka diseminasi iptek nuklir di bidang pertanian yang meliputi 23 provinsi. Produk yang didiseminasikan merupakan benih unggul padi. Benih unggul padi yang paling banyak dinikmati oleh sebagian masyarakat Indonesia adalah Diah Suci, Mira-1, dan Bestari. Benih unggul padi Batan ini memiliki keistimewaan yang membuatnya disukai oleh petani dan masyarakat. Selain rasanya yang enak, panen pun berlimpah karena untuk satu hektar lahan sawah berpotensi menghasilkan 9 ton gabah kering gilingan (GKG), tentu dengan perlakuan yang sudah ditetapkan dalam proses penanamannya.
Dengan hasil panen sebanyak itu, maka akan tercipta ketahanan pangan yang kuat dan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, khususnya di pedesaan. Ketahanan pangan merupakan hal yang penting karena bisa mengurangi beban impor beras sehingga menghemat devisa negara dan penggunaan devisa tersebut dapat dialihkan untuk sektor yang lebih memerlukan. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan mampu menumbuhkan daya saing masyarakat sehingga memacu kesejahteraan rakyat indonesia secara keseluruhan.
Itu baru di bidang pertanian, masih ada bidang lain seperti peternakan dan perikanan yang dapat dimaksimalkan dengan pola yang sama sehingga mampu meningkatkan ketahanan pangan yang bervariasi bagi Indonesia serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam waktu bersamaan.
Mengingat hal-hal yang telah dipaparkan di atas, sangat penting bagi Batan untuk melanjutkan penelitian di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan. Selain itu, diseminasi iptek nuklir di bidang tersebut penting dilaksanakan sebagai jembatan untuk menyampaikannya kepada masyarakat. Dengan demikian, Batan akan mampu mendukung upaya pemerintah dalam mencapai sasaran pembangunan millennium yang pertama yaitu pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim.
Meningkatkan Kesehatan Masyarakat Dengan Iptek Nuklir.
Kesehatan merupakan salah satu tema besar dari sasaran pembangunan millennium. Terkait dengan hal tersebut, kedokteran nuklir dengan penelitian pendukungnya merupakan ranah yang bisa dimasuki Batan untuk memberikan kontribusi dalam upaya pencapaian sasaran pembangunan millennium. Seharusnya penelitian yang dilaksanakan Batan pada bidang ini mengarah pada 3 sasaran pembangunan millennium yaitu mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, serta penanggulangan HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya.
Contohnya dalam hal mengurangi tingkat kematian anak, Batan sebaiknya melakukan penelitian dalam rangka pencegahan maupun pengobatan terhadap penyebab kematian anak yang paling banyak terjadi. Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan, dua penyebab utama kematian balita/bayi adalah diare dan pneumonia.
Di Indonesia, menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2007, diare menjadi penyebab kematian 25,2% anak usia 1 tahun hingga 4 tahun. Data tersebut juga menyatakan bahwa 88% penyebab diare adalah keterbatasan air bersih. Dalam bidang penyediaan air bersih inilah Batan bisa memberikan kontribusi besar. Batan telah memiliki teknologi pengawetan makanan, yang memungkinkan untuk membuat air menjadi lebih higienis, dan teknik pelacakan air tanah yang memungkinkan penyediaan air bersih bagi masyarakat di daerah yang telah diketahui kekurangan air bersih seperti daerah Jawa Tengah. Sementara untuk pneumonia, peran Batan dapat diaplikasikan dalam bentuk pembuatan vaksin dalam rangka pencegahan penyakit tersebut.
Demikian pula untuk sasaran pembangunan millennium bidang kesehatan lainnya seperti meningkatkan kesehatan ibu serta penanggulangan penyakit HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya, bisa dilakukan pola yang sama. Intinya, penelitian yang dilaksanakan Batan di bidang kesehatan haruslah memiliki landasan objektif yang nyata sehingga dapat diaplikasikan secara masal dan bermanfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Menjamin Daya Dukung Lingkungan Hidup.
Melaksanakan pembangunan dengan tetap menjamin daya dukung lingkungan hidup merupakan sebuah keharusan yang tak terelakan. Segala teknologi yang dikembangkan seharusnya mengarah ke sini karena mau tak mau kita harus menjaga lingkungan demi kebaikan kita sendiri. Untuk itu, diperlukan sebuah teknologi yang tidak hanya memicu dan memacu kesejahteraan manusia, tetapi juga mendukung lingkungan hidup agar tetap layak ditinggali. Teknologi nuklir menawarkan solusi kongkrit atas hal ini yang berupa PLTN.
Dengan jumlah kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat, pengadaan pembangkit yang hemat sumber daya dan ramah lingkungan merupakan keharusan. Tak diragukan lagi bahwa PLTN membutuhkan sumber daya yang relatif kecil dibandingkan dengan teknologi pembangkit tenaga listrik lainnya. Selain itu, PLTN juga tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca sehingga menurunkan potensi terjadinya efek rumah kaca yang merupakan penyebab pemanasan global.
Dari fakta di atas, penelitian terkait PLTN sudah selayaknya dilanjutkan demi kebaikan seluruh rakyat Indonesia. Proyek PLTN seharusnya dijadikan prioritas utama dalam peningkatan produksi listrik nasional, tentu dengan memperhatikan resiko-resiko yang mungkin akan ditimbulkan. Satu hal yang paling penting adalah mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang sudah mampu menguasai teknologi ini agar lebih siap membangun dan menjalankan PLTN dengan baik agar tak ada keraguan dari pemerintah maupun masyarakat.
Penerapan Sistem Manajemen Strategik Organisasi Demi Efektivitas dan Efisiensi.
Selain penajaman sasaran yang dirumuskan melalui sasaran pembangunan millennium, hal yang tak kalah penting adalah pembenahan organisasi dari praktek kerja yang boros. Budaya kerja yang efisien dan efektif harus dibangun agar setiap rupiah yang dibelanjakan Batan dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Selain itu, akuntabilitas Batan harus memberikan laporan secara transparan dan tidak ditutup-tutupi agar pengukuran kinerjanya dapat dilakukan secara akurat sehingga akan memberikan umpan balik bagi perbaikan kinerja di masa mendatang.
Kunci dari pelaksanaan anggaran yang efektif dan efisien adalah controlling. Controlling yang ketat akan menyediakan ruang yang sangat sempit bagi penyelewengan yang mungkin dilakukan. Untuk itu, controlling harus mulai diterapkan pada proses perencanaan kegiatan dengan menerapkan sistem manajemen strategik yang bersifat komprehensif dan menyeluruh.
Sebuah sistem manajemen strategik yang kini populer diterapkan di berbagai organisasi, termasuk organisasi pemerintah, adalah Balanced Scorecard. Kelebihan sistem manajemen strategik berbasis Balanced Scorecard dibandingkan konsep manajemen yang lain adalah bahwa ia menunjukkan indikator outcome dan output yang jelas, indikator internal dan eksternal, indikator keuangan dan non-keuangan, dan indikator sebab dan akibat.
Balanced scorecard diyakini dapat mengubah strategi menjadi tindakan, menjadikan strategi sebagai pusat organisasi, mendorong terjadinya komunikasi yang lebih baik antar karyawan dan manajemen, meningkatkan mutu pengambilan keputusan dan memberikan informasi peringatan dini, serta mengubah budaya kerja. Potensi untuk mengubah budaya kerja ada karena dengan Balanced Scorecard, organisasi lebih transparan, informasi dapat diakses dengan mudah, pembelajaran organisasi dipercepat, umpan balik menjadi obyektif, terjadwal, dan tepat untuk organisasi dan individu; dan membentuk sikap mencari konsensus karena adanya perbedaan awal dalam menentukan sasaran, langkah-langkah strategis yang diambil, dan ukuran yang digunakan. Dengan demikian, internal control terlaksana sejak proses perencanaan dimulai.