21 Desember 2010

Soe Hok Gie, Sang Legenda Yang Mempertanyakan Perannya

Soe Hok Gie adalah legenda. Terlahir pada 17 Desember 1942 dan meninggal pada 16 Desember 1969, Gie banyak membuat tulisan kritis terhadap fenomena kebangsaan, kemahasiswaan, dan kemanusiaan. Sebagian tulisannya dipublikasikan di media massa nasional atau sekedar forum kemahasiswaan.


Untuk memperingati momen kelahiran dan kematiannya, saya ketik ulang tulisannya yang sangat tajam mengkritisi kecenderungan pemikiran manusia. Tulisan ini saya kutip langsung (tanpa ada penambahan ataupun pengurangan konten, bahkan tanda baca sekalipun) dari buku kumpulan tulisan-tulisan Gie yang berjudul “Zaman Peralihan”. Tulisan ini berjudul “Siapakah Saya?”, bersumber dari dokumentasi sang kakak Dr. Arief Budiman tanpa pernah dipublikasikan di media massa sebelumnya.


Selamat menikmati dan selamat berefleksi…



Siapakah Saya?


Belum lama berselang di hadapan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Sastra UI telah diputar sebuah film Cekoslovakia: “…Dan Penunggang Kuda Kelima Adalah Ketakutan” (“….And The Fifth Rider Is Fear”). Film ini adalah kisah tentang manusia dan ketakutannya lalu bagaimana ia menemukan dirinya dan mengalahkan ketakutan. Musik pengambilan tema maupun suasana film ini sedemikian rupa sehingga mencekam hati manusia.


Kisahnya tentang seorang dokter Yahudi yang dilarang oleh Nazi di kota pendudukan Praha pada waktu Perang Dunia II. Oleh orang-orang Nazi, ia disuruh untuk menjadi penjaga barang-barang sitaan. Suatu hari, ia disuruh untuk menolong seorang partisan yang tertembak dan disembunyikan dekat kamarnya. Ia menolak karena mengetahui apa akibatnya jika ia ketahuan oleh pihak polisi rahasia.

“Saya bukan seorang dokter, saya hanyalah seorang penjaga gudang dan oleh karena itu bukanlah kewajiban saya untuk menolongnya,” katanya. Tapi ia tidak dapat membohongi kata hatinya, bahwa ia seorang dokter (walaupun sekarang dilarang praktik) dan harus menolong siapapun juga. Akhirnya setelah melawan dirinya sendiri, ia memutuskan untuk menolong partisan yang luka itu.


Pada waktu itu seseorang dapat dihukum jika ia tidak melaporkan sesuatu yang mencurigakan. Seorang tetangganya yang curiga dengan tingkah laku sang dokter melaporkan pada polisi. Karena ia takut akibatnya jika tidak melaporkan pada polisi. Sang dokter ditangkap. Ia ditanya mengapa ia melakukan hal itu. Jawabnya sangat sederhana: “Seorang manusia adalah seperti yang dipikirkannya, kau tak dapat mengubahnya.” (A man is as he thinks you can’t change it)


*


Persoalan yang dilontarkan pada kita oleh film ini adalah persoalan kemanusiaan. Dan sebagai mausia kita dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang meragukan. Sebelum melakukan sesuatu kita harus menanyakan pada diri kita sendiri: “Siapakah saya?” Dan jawaban kita menentukan pilihan-pilihan kita. Sang dokter tadi harus menjawab pertanyaan besar ini. Jika menyatakan hanya seorang penjaga gudang (profesi resminya) maka soalnya selesai. Demikian pula halnya dengan tetangganya yang melaporkan pada polisi. Jika ia memutuskan ia hanyalah warga yang harus patuh pada polisi maka tindakannya adalah benar. Tetapi jika ia menyatakan dirinya adalah manusia Cekoslovakia yang harus membantu perjuangan bangsanya, soalnya sangat berubah. Kitalah yang menentukan diri kita dalam menentukan pilihan-pilihan.


“Ya, saya cuma bawahan kecil yang hanya menurut perintah atasan. Jika atasan saya bilang X maka saya harus patuh,” kata seorang pembantu letnan pada seorang dosen UI ketika ditanyakan mengapa ia mau melakukan perintah yang jelas-jelas merupakan tindakan manipulasi. Sang pembantu letnan tadi telah menentukan dirinya sebagai manusia kecil dan tidak pernah berkembang menjadi MANUSIA dengan M Besar.


Seorang jenderal membiarkan dirinya diperalat seorang pedagang besar (katakanlah diangkat sebagai presiden direktur boneka) biasanya berkata: “Gaji saya tidak cukup, dan anak saya banyak. Lagi pula teman-teman saya juga melakukan hal yang sama.” Ia juga telah menjawab siapakah dia. Dia telah menentukan dirinya seorang alat dan sebagai alat ia harus memfungsikan dirinya sebaik-baiknya. Sebagai alat ia tak akan pernah menjadi pemimpin yang baik.


Orang Indonesia sekarang amat mudah merasionalisasikan keadaan. Kepengecutannya dirasionalisasikan sebagai kepatuhan. Kemalasan dirasionalisasikan sebagai kesulitan ekonomi (ada seorang dosen malas yang selalu bilang tak ada ongkos jika ditanyakan mengapa ia tidak mengajar)


Kadang-kadang kita bertanya kepada diri kita sendiri “Siapakah saya?” Apakah saya seorang fungsionaris partai yang kebetulan menjadi mahasiswa sehingga harus patuh pada instruksi dari bapak-bapak saya dalam partai. Apakah saya seorang politikus yang harus selalu realistis dan bersedia menerima kompromi-kompromi prinsipiil dan tidak boleh punya idealisme yang muluk-muluk? Apakah saya seorang kecil yang harus patuh pada setiap keputusan dalam DPP ormas saya, atau pimpinan fakultas saya, atau pemimpin-pemimpin saya? Ataukah saya seorang manusia yang sedang belajar dalam kehidupan ini dan mencoba terus-menerus untuk berkembang dan menilai secara kritis segala situasi. Walaupun pengetahuan dan pengalaman saya terbatas?


Setiap hari pertanyaan tadi datang. Saya katakan pada diri saya sendiri. Saya adalah seorang mahasiswa. Sebagai mahasiswa saya tidak boleh mengingkari ujud saya. Sebagai pemuda yang masih belajar dan mempunyai banyak cita-cita, saya harus bertindak sesuai dengan ujud tadi.


Karena itu saya akan berani untuk berterus terang, walaupun ada kemungkinan saya akan salah tindak. Lebih baik bertindak keliru daripada tidak bertindak karena takut salah. Kalaupun saya jujur terhadap diri saya, saya yakin akhirnya saya akan menemukan arah yang tepat. Saya adalah seorang manusia dan bukan alat siapapun. Kebenaran tidaklah datang dalam bentuk instruksi dari siapapun juga, tetapi harus dihayati secara ‘kreatif’. A man is as he thinks.


*


KADANG saya bertanya pada kenalan-kenalan saya, “Siapakah kamu?” Seorang tokoh mahasiswa menjawab: “Saya adalah antek partai saya. Kebenaran ditentukan oleh DPP Partai.”