26 Juli 2012

DIPONEGORO (Seri Chairil Anwar)


Pernah suatu kali Sjamsulridwan berkunjung ke rumah. Kala itu badanku penuh luka gara-gara menerabas pagar tanaman rumah orang pada waktu balapan sepeda dengan Eros. Ban sepedaku yang agak gundul tak mampu mencengkeram tanah saat menikungnya dari luar. Alhasil aku kalah, sakit pula.

Sjam, begitu aku menyebutnya, melihat keadaanku, ia terbahak-bahak sampai guling-guling. Hampir aku menghajarnya kalau saja ia tak segera minta maaf. Sungguh tak sopan!!

Waktu itu Sjam pamerkan sesuatu padaku. Sebuah keris. Dia bilang, pamannya yang merantau ke Jawa baru saja pulang kampung dan membawa oleh-oleh yang macamnya beragam. Ia pamerkan keris itu dan bilang, “Kau tahu? Keris ini punya Pangeran Diponegoro. Pusaka ini benda, Ril.”

Aku coba tak begitu hiraukan kesombongannya karena aku tertarik dengan benda yang katanya pusaka itu. Keris itu ku minta dari tangan Sjam, ia menolak sambil berlagak dengan gaya tak jelas. Akhirnya kurebut juga keris itu. “Ah, berat juga ini keris, Sjam!”

“Sudah kubilang itu benda pusaka. Begitu saja sudah kau bilang berat.” Sjamsulridwan menyeringai. “Kau tahu? Pangeran Diponegoro gunakan ini buat perang lawan kompeni. Lima tahun kompeni kewalahan. Padahal, kompeni itu punya lebih dari dua puluh ribu serdadu. Hebat nian bukan?”

Lantas, Sjam makin menjadi. Ia seolah terbakar dalam gelora. Ia bercerita tentang Pangeran Diponegoro dengan lagak sok tahu sambil teriak-teriak. Ia katakan ini, ia katakan itu seolah dia kenal dengan sang pangeran. Sebal aku melihat tingkahnya, tapi isi ceritanya seakan menggedor-gedor jantungku. Semangat pantang menyerah sang pangeran bagaikan luapan air bah yang membuncah berhamburan tanpa henti. Tak pernah gentar meski lawan banyaknya ratusan kali.

“Binasa lebih luhur daripada hidup menghamba dan ditindas.” Sjam berdiri sambil bertingkah seperti seorang guru yang mengajari muridnya. “Itu prinsip sang pangeran. Mengerti kau Chairil Anwar?”

Menjelang akhir cerita, Sjam menjadi lembut. Ia tak lagi teriak-teriak. “Setelah sempat dibuang ke Menado, akhirnya, Makassar jadi tempat pengasingannya di penghujung hidup. Di balik kesunyian penjara Fort Rotterdam yang dingin, sang pangeran menyerah pada nasib. Mati.”

“Aku tak mau sok tahu sepertimu Sjam, tapi tidak mau kah kau mempertimbangkan bahwa sang pangeran mungkin tak menderita dibalik dinginnya Fort Rotterdam? Bisa jadi ia malah terbakar kebanggaan atas apa yang dilakukannya. Mati cuma tahap yang harus terjadi bukan? Sang pangeran tetap akan mati walau tak di penjara. Kita semua pun pasti mati. Itu pasti!” Entah apa yang merasukiku sampai-sampai aku bisa mengungkapkan kalimat-kalimat tadi. Sejujurnya, justru akulah yang terbakar kebanggan akan hadirnya sosok sang pangeran di bagian lain negeri ini.

“Mati hanyalah mati, Sjam. Yang penting kita berarti, begitu bukan Sjamsulridwan?” lanjutku mantap.

***

Hari ini sudah hampir setahun Belanda pergi. Jepang yang awalnya memberikan hembusan angin sorga, ternyata tak lain dari Belanda. Bahkan lebih sinting!! Aku dengar orang-orang Jawa tersiksa lebih sadis. Tanah dirampas dan mereka dipaksa bertani tanpa bayaran.

Hari ini aku berharap luapan semangat sang pangeran dapat kurasakan lagi. Di sini.


DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.

Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.

Februari 1943

21 Juli 2012

NISAN (Seri Chairil Anwar)



Nisan itu masih basah saat aku melangkah meninggalkannya. Setelah terus-terusan berurai air mata, kali ini wajahku terasa agak ringan.

Kilasan-kilasan semasa nenek masih ada membuat bibirku melengkungkan senyum. Satu hal yang paling ku ingat ada pada waktu nenek meneriakkan, “Satu ekor ayam panggang ini untuk Chairil.”. Girang bukan kepalang hatiku. Lain lagi dengan kakakku, Ani, yang cuma mendapat sepotong saja.

Sesampainya di rumah, wajah itu berubah lagi. Meski tak ada air mata, tetapi suasana keharuan rumah membuat hatiku perih. Terbayang saat nenek tergolek lemah di kursi teras. “Aku tak mau mati di tempat tidur!!” itu kata nenek saat hari menjelang siang. Terang saja, seisi rumah syok. Apa pun kata-kata untuk membuainya tetap tak menggerakkan hatinya untuk berubah. Akhirnya kami membopongnya ke teras.

Sejak saat itu, aku mulai berpikir. Berpikir tentang hidup dan mati. Pernah aku dengar bahwa hidup di dunia adalah persiapan untuk menghadapi hidup yang kekal di akhirat. Tapi kenapa hidup kekal itu harus di akhirat? Kalau memang aturannya begitu, kenapa tidak kita dilahirkan saja di akhirat, supaya tidak ada kematian yang memilukan hati dan jiwa?

Kehidupan dunia—bagiku—hanya permainan bagi manusia yang diciptakan Tuhan. Entah untuk apa aku tak mengerti. Manusia dilahirkan, lalu tumbuh besar, mengalami sakit, ada yang dapat prestasi, ada yang punya banyak teman, ada yang tidak punya teman sama sekali, ada yang suka menyiksa batin dan jiwa orang lain, ada yang terseret-seret waktu dalam kecacatan, dan masih banyak lagi yang aku pun tak tahu.

“Tuhan punya kuasa atas hidup dan mati, anakku.” Begitu tandas ayah saat aku menangis tersedu. “Berat memang. Dan hanya keridlaan yang membuatnya lebih terasa lebih ringan.”

“Tuhan yang maha tinggi punya kuasa atas segalanya. Bahkan debu sekalipun tak luput dari kuasanya.”. Kali ini ibu angkat pendapat menasihatiku.

Lantas, saat kematian datang, haruskan hanya kita—manusia—yang merasakan duka? Apa yang dilakukan Tuhan saat itu terjadi? Apakah Tuhan ikut berduka atau malah tertawa seiring berlangsungnya permainan yang Dia ciptakan?

Kali ini ayah dan ibu terdiam cukup lama. Bukan cukup lama, tapi sangat lama.



Nisan

Untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta

Oktober 1942