entah kenapa aku ini. tak pernah habis aku memperhatikan orang dan segala hal di sekitarku. bukan memperhatikan dalam artian yang negatif, tapi hanya memperhatikan. itu saja.
kali ini, tak jauh-jauh, aku sedang memperhatikan sahabatku. rona namanya. kami berteman semenjak smp, sma, dan sampai kuliah di sini. hari ini rona begitu lekat memperhatikan seorang perempuan yang juga seorang temanku, ridha namanya. rona memang belum pernah bilang bahwa ia menyukai ridha, tapi aku secara nyata tahu itu. semenjak pertama kali menginjakan kaki di kampus ini rona tak pernah bisa berkutik jika berhadapan dengan ridha. perempuan itu punya daya magis yang mampu merontokan segala agresifitas dan reflek spontan rona.
hari ini, akhirnya, rona mengatakannya padaku. mengatakan bahwa ia menaruh pandangan dan hatinya pada ridha. dengan sedikit tak acuh aku merespon, “aku tahu…”. lalu aku mendekatkan bibirku ke telinganya. “bahkan, mungkin semua orang juga sudah tahu. bahkan mungkin lebih jauh lagi, ridha juga sudah tahu.”
sepertinya rona sadar akan satu hal. ridha adalah salah satu perpempuan paling populer di kampus. tak sedikit yang mengejarnya. mahasiswa yang memiliki kepopuleran setingkat dengan ridha jelas menjadi para pemburu utama. dan mahasiswa-mahasiswa seperti mereka memiliki tingkat kepercayaan diri yang jauh membuncah dari . . . rona, contohnya.
“ini kisah klasik di setiap jaman, ron. semua orang selalu menyukai orang yang populer. peter parker saja begitu. menatap mary jane merupakan agenda utamanya sebelum ia menjadi spiderman. bedanya peter parker mendapat kekuatan laba-laba yang secara tidak langsung berkontribusi untuk dekat dengan mary jane. nah, sekarang pertanyaannya, apa kekuatan kamu untuk dekat dengannya?”
rona hanya terdiam mendengar kata-kataku. dari sorot matanya, aku sedikit bisa mengira-ngira isi hatinya. dalam hatinya ia mungkin berkata, “jangankan kekuatan laba-laba, kepandaian setingkat peter parker saja aku tak punya.”
sedetik kemudian ponselku berdering. ada pesan singkat dari tina yang mengingatkanku untuk datang ke boscha. boscha adalah sebutan markas teropong kampus—sebuah ukm (unit kegiatan mahasiswa) yang kuikuti untuk mengisi waktu luangku. sebagai wartawan kampus, aku punya deadline yang harus dikejar. ada isu-isu yang belakangan ini beredar dan menjadi bahan yang menarik untuk diwartakan.
sebelum aku pergi, rona memberikan gambar karikatur yang kumintakan padanya seminggu yang lalu. karikatur ini berkaitan dengan rumor yang beredar bahwa uang spp akan dinaikkan. rumor ini beredar semenjak pergantian direktur kampus dan masih menjadi rumor karena manajemen kampus belum mengklarifikasikan hal ini.
***
hari-hari berikutnya aku tak sempat secara spesifik memperhatikan rona. ada hal yang begitu besar menyita perhatianku dan kawan-kawanku di teropong kampus, yakni regenerasi kepengurusan bem (badan eksekutif mahasiswa).
rumor beredar kencang mengenai nama-nama yang akan mengisi bursa kandidat calon ketua bem. orang-orang yang dirumorkan biasanya yang sudah populer dan aktif di keorganisasian, baik itu bem, ukm, atau pun himpunan masing-masing jurusan.
johan salah seorang yang dirumorkan. aku mengenalnya ketika pertama kali tes tertulis saringan masuk kampus ini. ia mahasiswa jurusan teknik mesin dan selama ini aktif di ukm otomotif dan robotika. bahkan, sebagai orang sumatera utara, ia menjabat sebagai wakil ketua imasu (ikatan mahasiswa sumatera utara).
selain johan, ada juga haikal. ia mahasiswa jurusan teknik sipil dan sudah aktif di bem, terutama bidang kerohanian, semenjak tingkat pertamanya. secara personal aku tak begitu mengenalnya, tetapi ia jelas lelaki santun yang punya visi kepemimpinan. kemampuannya memimpin sudah teruji di berbagai acara yang diselenggarakan bem.
ada juga praja muda. ia adalah mahasiswa teknik kimia dan seorang pemuda tangguh yang aktif di bem dan mapala—ukm pencinta alam. konon, liburan semester kemarin ia memimpin kawan-kawannya untuk menaklukkan puncak mahameru—tanah tertinggi di pulau jawa.
lalu ada januar. januar adalah mahasiswa teknik komputer. ia aktif di ukm robotika dan menjadi bagian penting dalam ikatan mahasiswa sumatera bagian selatan. secara personal, ia seorang yang sangat detail dan teliti. aku sempat melakukan liputan kegiatan ukm robotika yang mengikuti kejuaraan robot tingkat nasional dan januar adalah salah satu ketua tim yang dikirim ke event itu.
dua minggu belakangan ini aku mendatangi sekretariat bem berburu data calon kandidat yang mendaftar dan hasilnya : sebagian dari mereka yang dirumorkan benar-benar merealisasikannya. meski begitu, ada sedikit kejutan. praja muda mementahkan rumor yang menyebutkan dirinya akan maju sebagai salah satu kandidat. ia tak mendaftarkan diri meski kawan-kawannya mendorongnya untuk itu.
satu lagi kejutan datang dari wita—mahasiswa jurusan administrasi niaga. ia mencatatkan diri sebagai salah satu kandidat. sejauh yang aku tahu, wita memang aktif di ukm musik dan ialah ketua paduan suara kampus. entah apa yang memotivasinya untuk maju, tapi yang jelas hanya sedikit orang memprediksikan keikutsertaannya. hari berikutnya aku coba mencari jejak rekam wita. hasilnya : dia adalah ketua osis semasa sma-nya. selain itu, semasa sma ia pernah mewakili provinsi jawa barat menjadi pengibar bendera pusaka di istana negara. jelas bahwa ia perempuan luar biasa. apalagi dengan kemampuan akademis yang mencapai indeks prestasi kumulatif 3,91.
hari ini adalah hari terakhir pendaftaran. sore hari, dengan enggan aku mendatangi sekretariat bem karena tak yakin daftar nama itu akan bertambah. tetapi aku salah. sangat salah. kejutan terjadi. bukan hanya karena daftar itu bertambah, tetapi juga karena nama terakhir yang mencatatkan diri sebagai kandidat adalah temanku sendiri. sahabatku sendiri. rona aditya.
***
bukannya aku mau meremehkan sahabatku sendiri, tetapi sepertinya ada yang salah dengan hal ini. kenyataan bahwa ia mendaftarkan diri di bursa calon ketua bem sungguh di luar dugaan. rona jelas bukan tipe orang yang suka berorganisasi. ia memang aktif di hmak (himpunan mahasiswa akuntansi), tetapi ia bukanlah petinggi himpunan. ia termasuk anggota departemen seni di hmak dan memiliki peranan penting dalam menghidupkan majalah dinding dengan kemampuan grafisnya. tetapi, jelas bahwa ia bukan orang utama di hmak.
entah kenapa, tetapi aku gelisah dengan kenyataan yang ada maka aku segera mengkonfirmasikannya. aku mendatangi rona yang sedang ada di sc (student center) hmak. lalu membicarakannya empat mata.
“tak ada yang salah . . . ” ujarnya.
“tapi . . . ” aku berusaha memilih kata-kata agar tak menyinggung hatinya. “aku bukannya meremehkan kemampuanmu, tapi . . . oke . . . oke . . . sekarang aku ingin tahu apa motivasimu ikut bursa calon kandidat itu.”
dia terdiam seakan mencoba menghentikan waktu. berselang lima detik, ia menghela nafas cukup panjang dan berat. “aku tak tahu harus mulai darimana . . . tapi . . . remember when we talked about peter parker?”
aku tercenung sambil mengungkap memori itu. sesaat kemudian aku menyampaikan kesimpulanku. “jadi alasan kamu ikut bursa kandidat hanya karena ridha? apa kamu pikir dengan mencalonkan diri menjadi calon ketua bem akan menarik perhatiannya?”
“awalnya . . . ya. aku berpikir seperti itu. tetapi dalam proses pemikiran itu aku sadar akan satu hal. menjadi seorang pemimpin bukanlah hal kecil. terlalu naif jika aku melakukannya hanya karena ingin mendapatkan perhatian dari seorang perempuan.”
“okay, but why did you do that?”
“trust me, it’s no longer about her. it is about me. i know that I am no one. nothing. nobody knows me, but that’s okay. aku tergila-gila akan ridha. itu benar. sangat benar. satu hal yang aku inginkan ketika memikirkannya adalah bagaimana caranya menjadi orang yang lebih baik agar aku bisa berarti untuknya. but then I realized, I would never be good enough for her. so, everything turned back on me. and it is all about me now.
“ayahku pernah bilang bahwa untuk menjadi orang yang lebih baik, kita harus mengikatkan diri pada satu hal. satu hal yang membuat kita benar-benar terkendali. satu hal yang menjadikan kita terus mengevaluasi diri. dan hal itu disebut tanggung jawab.”
aku hanya terdiam seraya menertawakan diriku sendiri. dan tak ada ekspresi lain yang bisa aku tampilkan selain kekaguman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar