selasa, 4 agustus 2009 mbah surip meninggal. aku perkirakan banyak postingan, baik blog ataupun lainnya, yang muncul dengan topik itu. bahkan, facebook pun penuh dengan update status berkaitan dengan meninggalnya sang mbah yang fenomenal itu. jadi aku pikir tak perlu lah aku ikut menyumbang suara. lagi pula, meski fenomenal dan meninggalkan kesan bervariasi, mbah surip (dengan tanpa mengurangi rasa hormat) (menurutku) bukanlah putra terbaik bangsa ini.
berhubungan dengan bulan kemerdekaan indonesia, aku ingin mengulas salah seorang putra terbaik bangsa indonesia yang dilupakan baik secara sengaja maupun tidak. aku menyebutnya “secara sengaja maupun tidak” karena sebetulnya putra terbaik bangsa ini merupakan pahlawan nasional yang diakui secara hukum melalui keputusan presiden no. 53 tahun 1963. namun, (aku ambil contoh yang paling mudah) tidak ada satu pun nama jalan yang menggunakan namanya dan tak ada satu pun bandara berdasar pada namanya. nama—yang menurutku sangat melayu—itu adalah tan malaka.
dalam buku sejarah anak sekolah nama pejuang ini sesekali disebut meski tak sepopuler nama bung karno, hatta, maupun syahrir. padahal, diakui atau tidak, suka tidak suka, tan malaka telah berkontribusi besar terhadap perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan indonesia. penentangan dan pemikiran kritisnya membuat pihak belanda, inggris, amerika, dan jepang ketar-ketir karena ia merupakan tokoh pertama yang menulis gagasan berdirinya republic indonesia. jika bung tomo ibarat bensin, maka tan malaka bak sebuah pemantik yang menyalakan semangat juang anak muda saat itu.
terlahir pada tahun 1897 di minangkabau, ia diberi nama ibrahim datuk tan malaka. setelah menyelesaikan pendidikannya di hindia belanda, ia hijrah ke belanda. warga negeri jajahan sekolah di negeri penjajahnya, ini bukti bahwa ia adalah seorang yang cerdas. di sana tan berkenalan dengan politik. kemudian pada tahun 1919 ia kembali ke hindia belanda dengan cita-cita : mengubah nasib bangsa indonesia!!!
dalam perjuangannya ia mengarungi hampir separuh bumi mulai dari harleem di belanda, kemudian ke berlin, moskow, kanton, manila, singapura, bangkok, pulau amoy, shanghai, hongkong, Rangoon, dan penang dan tentu saja indonesia. dari semua tempat yang ia singgahi, tak satu pun tempat yang memberikan kenyamanan. ia dikejar dan diburu terus menerus oleh polisi lokal yang bekerja sama dengan belanda, inggris, amerika, maupun jepang.
ketika soekarno menyatakan bahwa dengan bantuan jepang maka bangsa ini dapat merdeka, tan malaka lah yang pertama menentangnya. ia berdebat dengan soekarno di depan pubik mengenai hal itu. berkaitan dengan itu, ia mangatakan “orang tidak akan berunding dengan maling di rumahnya.”. sangat inspiratif bukan??
perjuangannya tak sebatas lewat politik dan fisik. ia pun menulis buku. madilog (materialisme dialektika logika) merupakan salah satu karyanya yang paling penting. inti dari madilog adalah mengajak dan mengajar rakyat indonesia untuk berpikir ilmiah dengan jalan dan cara yang sesuai dengan akar-akar dan urat-urat kebudayaan sendiri sebagai bagian dari kebudayaan dunia. buku lain yang tak kalah pentingnya adalah dari penjara ke penjara. dalam buku ini, ia menceritakan perjalanannya dalam memperjuangkan pemikiran indonesia merdeka yang membuatnya masuk satu penjara dan diteruskan ke penjara yang lain.
sekali lagi, sangat disayangkan, iya tak begitu dikenal oleh anak-anak bangsa ini. berkaitan dengan hal itu, aku sempat membaca tulisan soe hok gie yang memaparkan ‘perjuangan’ kaum komunis di indonesia. dari bukunya itu, gie menyebutkan bahwa tan malaka adalah salah seorang pejuang komunis. mungkin karena dekatnya hubungan tan malaka dengan komunis, maka orde baru—yang merupakan musuh besar komunis—mendiskreditkan namanya. padahal, sebagai seorang pemikir ia sering tidak cocok dengan gagasan PKI (ortodoks), termasuk ketidak setujuannya terhadap rencana pemberontakan melawan pemerintah Kolonial Belanda 1926/1927 yang kemudian gagal.
dan akhirnya, meski tak sepopuler mbah surip, aku sangat berharap anak-anak bangsa ini mengenal atau paling tidak bergairah untuk mencari siapa sebenarnya tan malaka agar anak-anak bangsa ini bisa meneldani kisah hidupnya, bukannya mencontoh gaya hidup rokok dan kopi-nya mbah surip.