sambil menggenggam segelas air di tangannya, thomas greer berjalan menyusuri koridor rumahnya. ia tampak sangat rapi dengan balutan setelan jas yang biasa ia kenakan saat bekerja. meski tidak tampan, wajah yang terlampau muda itu terlihat begitu cerah dan sehat, padahal baru saja ia bekerja seharian. begitu memasuki kamarnya, ia terpaku sejenak menatap sesosok dirinya yang tertentang di atas sebuah alat menyerupai tempat keramas di salon-salon mahal. sosok yang di hadapannya itu lebih tua 20 tahun darinya, tetapi begitu mirip dengannya. berselang 5 detik, ia menyimpan segelas air yang ia bawa dan segera berjalan menuju lemari. ia pun berdiri dengan posisi menghadap keluar lemari itu dan terdiam. kemudian sosok tua itu terbangun dan mengambil segelas air yang tepat berada di meja samping. ia berdiri dan menatap sesosok tubuh muda yang berdiri tersimpan dalam lemari.
itulah sedikit cuplikan adegan dari film surrogates. sebuah film aksi fiksi ilmiah yang bersetingkan masa depan. diceritakan bahwa pada masa depan, manusia tidak berkeliaran dengan tubuh aslinya. keberadaan mereka di dunia luar diwakili sesosok robot yang menyerupainya yang disebut surrogates. sedangkan manusia yang asli berada di rumah masing-masing dan mengendalikan kehidupan mereka di dunia luar melalui sebuah alat.
secara keseluruhan, film ini terkesan menyindir kehidupan manusia yang begitu tergantung pada teknologi—dalam hal ini bisa diartikan sebagai dunia maya. atas dasar keselamatan dan kesehatan manusia, teknologi surrogates diberlakukan. namun ternyata teknologi itu secara tak sengaja mengabaikan sifat alamiah manusia yang disebut rasa.
meski dibalut dengan serangkaian adegan aksi, tetapi film ini tak terjebak pada tipikal film action biasa. hal tersebut dapat dilihat dari adanya porsi besar permasalahan krisis interaksi sang tokoh utama dengan istrinya paska kematian anak mereka. di film ini, pemeran tokoh utama, bruce wilis, bermain apik dengan memerankan tokoh yang sebenarnya memiliki dua kehidupan dan permasalahan yang berbeda, yaitu sebagai penyelidik fbi dan pria rapuh yang merasakan hubungan yang tidak harmonis dengan istrinya akibat teknologi surrogates.
kisah ini mengerucut pada aksi seseorang yang ingin mengembalikan keadaan dunia ke keadaan semula. orang tersebut merasakan bahwa keberadaan teknologi surrogates adalah salah. kemudian ia berupaya untuk menghancurkan semua surrogates yang ada. bukan hanya itu, ia pun berniat mengakhiri keberadaan teknologi surrogates selamanya dengan membunuh dirinya sendiri.
ide bahwa suatu hari kelak kita mungkin dihadapkan pada pilihan untuk hidup dan menjalani kehidupan secara langsung atau secara virtual benar-benar tergambarkan di sini oleh sang sutradara. para surrogates diperlihatkan sebagai sosok yang tidak memiliki emosi, bahkan saat berdebat atau adanya kejadian yang seharusnya memicu kemarahan. selain karena akting para pemerannya, hal itu tidak terlepas dari kerja tim make-up yang menjadikan para surrogates terlihat sangat kontras dengan sosok manusia yang diwakilinya. selain aksi yang memikat, film ini menampilkan twist yang tak terduga, namun tetap mudah dicerna.
untuk yang belum menonton atau yang sudah menonton tapi ingin melihat filmnya dengan lebih cermat, silakan klik di sini.
itulah sedikit cuplikan adegan dari film surrogates. sebuah film aksi fiksi ilmiah yang bersetingkan masa depan. diceritakan bahwa pada masa depan, manusia tidak berkeliaran dengan tubuh aslinya. keberadaan mereka di dunia luar diwakili sesosok robot yang menyerupainya yang disebut surrogates. sedangkan manusia yang asli berada di rumah masing-masing dan mengendalikan kehidupan mereka di dunia luar melalui sebuah alat.
secara keseluruhan, film ini terkesan menyindir kehidupan manusia yang begitu tergantung pada teknologi—dalam hal ini bisa diartikan sebagai dunia maya. atas dasar keselamatan dan kesehatan manusia, teknologi surrogates diberlakukan. namun ternyata teknologi itu secara tak sengaja mengabaikan sifat alamiah manusia yang disebut rasa.
meski dibalut dengan serangkaian adegan aksi, tetapi film ini tak terjebak pada tipikal film action biasa. hal tersebut dapat dilihat dari adanya porsi besar permasalahan krisis interaksi sang tokoh utama dengan istrinya paska kematian anak mereka. di film ini, pemeran tokoh utama, bruce wilis, bermain apik dengan memerankan tokoh yang sebenarnya memiliki dua kehidupan dan permasalahan yang berbeda, yaitu sebagai penyelidik fbi dan pria rapuh yang merasakan hubungan yang tidak harmonis dengan istrinya akibat teknologi surrogates.
kisah ini mengerucut pada aksi seseorang yang ingin mengembalikan keadaan dunia ke keadaan semula. orang tersebut merasakan bahwa keberadaan teknologi surrogates adalah salah. kemudian ia berupaya untuk menghancurkan semua surrogates yang ada. bukan hanya itu, ia pun berniat mengakhiri keberadaan teknologi surrogates selamanya dengan membunuh dirinya sendiri.
ide bahwa suatu hari kelak kita mungkin dihadapkan pada pilihan untuk hidup dan menjalani kehidupan secara langsung atau secara virtual benar-benar tergambarkan di sini oleh sang sutradara. para surrogates diperlihatkan sebagai sosok yang tidak memiliki emosi, bahkan saat berdebat atau adanya kejadian yang seharusnya memicu kemarahan. selain karena akting para pemerannya, hal itu tidak terlepas dari kerja tim make-up yang menjadikan para surrogates terlihat sangat kontras dengan sosok manusia yang diwakilinya. selain aksi yang memikat, film ini menampilkan twist yang tak terduga, namun tetap mudah dicerna.
untuk yang belum menonton atau yang sudah menonton tapi ingin melihat filmnya dengan lebih cermat, silakan klik di sini.