07 November 2009

surrogates : kehidupan nyata atau virtual???

sambil menggenggam segelas air di tangannya, thomas greer berjalan menyusuri koridor rumahnya. ia tampak sangat rapi dengan balutan setelan jas yang biasa ia kenakan saat bekerja. meski tidak tampan, wajah yang terlampau muda itu terlihat begitu cerah dan sehat, padahal baru saja ia bekerja seharian. begitu memasuki kamarnya, ia terpaku sejenak menatap sesosok dirinya yang tertentang di atas sebuah alat menyerupai tempat keramas di salon-salon mahal. sosok yang di hadapannya itu lebih tua 20 tahun darinya, tetapi begitu mirip dengannya. berselang 5 detik, ia menyimpan segelas air yang ia bawa dan segera berjalan menuju lemari. ia pun berdiri dengan posisi menghadap keluar lemari itu dan terdiam. kemudian sosok tua itu terbangun dan mengambil segelas air yang tepat berada di meja samping. ia berdiri dan menatap sesosok tubuh muda yang berdiri tersimpan dalam lemari.

itulah sedikit cuplikan adegan dari film surrogates. sebuah film aksi fiksi ilmiah yang bersetingkan masa depan. diceritakan bahwa pada masa depan, manusia tidak berkeliaran dengan tubuh aslinya. keberadaan mereka di dunia luar diwakili sesosok robot yang menyerupainya yang disebut surrogates. sedangkan manusia yang asli berada di rumah masing-masing dan mengendalikan kehidupan mereka di dunia luar melalui sebuah alat.

secara keseluruhan, film ini terkesan menyindir kehidupan manusia yang begitu tergantung pada teknologi—dalam hal ini bisa diartikan sebagai dunia maya. atas dasar keselamatan dan kesehatan manusia, teknologi surrogates diberlakukan. namun ternyata teknologi itu secara tak sengaja mengabaikan sifat alamiah manusia yang disebut rasa.

meski dibalut dengan serangkaian adegan aksi, tetapi film ini tak terjebak pada tipikal film action biasa. hal tersebut dapat dilihat dari adanya porsi besar permasalahan krisis interaksi sang tokoh utama dengan istrinya paska kematian anak mereka. di film ini, pemeran tokoh utama, bruce wilis, bermain apik dengan memerankan tokoh yang sebenarnya memiliki dua kehidupan dan permasalahan yang berbeda, yaitu sebagai penyelidik fbi dan pria rapuh yang merasakan hubungan yang tidak harmonis dengan istrinya akibat teknologi surrogates.

kisah ini mengerucut pada aksi seseorang yang ingin mengembalikan keadaan dunia ke keadaan semula. orang tersebut merasakan bahwa keberadaan teknologi surrogates adalah salah. kemudian ia berupaya untuk menghancurkan semua surrogates yang ada. bukan hanya itu, ia pun berniat mengakhiri keberadaan teknologi surrogates selamanya dengan membunuh dirinya sendiri.

ide bahwa suatu hari kelak kita mungkin dihadapkan pada pilihan untuk hidup dan menjalani kehidupan secara langsung atau secara virtual benar-benar tergambarkan di sini oleh sang sutradara. para surrogates diperlihatkan sebagai sosok yang tidak memiliki emosi, bahkan saat berdebat atau adanya kejadian yang seharusnya memicu kemarahan. selain karena akting para pemerannya, hal itu tidak terlepas dari kerja tim make-up yang menjadikan para surrogates terlihat sangat kontras dengan sosok manusia yang diwakilinya. selain aksi yang memikat, film ini menampilkan twist yang tak terduga, namun tetap mudah dicerna.

untuk yang belum menonton atau yang sudah menonton tapi ingin melihat filmnya dengan lebih cermat, silakan klik di sini.


04 November 2009

Indonesia Perlu Bom Nuklir?

sumber : http://ahmadtaufik-ahmadtaufik.blogspot.com/2007/05/indonesia-perlu-bom-nuklir.html

ini merupakan kutipan langsung dari sumber di atas

Iklan pelayanan masyarakat tentang perlunya memanfaatkan tenaga nuklir untuk pembangkit listrik atau keperluan sipil lainnya belakangan ini lancar dikampanyekan di televisi. Dalam advertensi itu tampak pelawak Gogon yang semula menentang penggunaaan tenaga nuklir akhirnya menerima setelah diterangkan penyanyi Dewi Yull dan petugas Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Bahkan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Indonesia, Kusmayanto Kadiman kepada pers menyatakan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mendukung pembangunan reaktor nuklir sipil sebagai politik nasional negara. Serta berniat akan membangun reaktor nuklir ini hingga tahun 2010. Menurut Menristek reaktor nuklir di Indonesia akan beroperasi pada tahun 2016. Bahkan pekan lalu di Jakarta diadakan petemuan negara-negara pengguna bahan nuklir untuk kepentingan sipil.

Iklan layanan masyarakat, pernyataan Menristek dan niat Presiden Yudhoyono kini justru berbanding terbalik dengan dukungan pemerintah Indonesia terhadap resolusi 1747, yang memberi sanksi terhadap Iran karena membangun reaktor nuklir untuk kepentingan negrinya. Bahkan asumsinya, pemerintah Indonesia yakin bahan nuklir di Iran untuk senjata (kepentingan perang). Walaupun pemerintah Iran berkali-kali menyatakan nuklir digunakan untuk kepentingan sipil, pembangkit tenaga listrik.

Memang sih, sampai saat ini Indonesia belum berhasil membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dan belum ada sebuah PLTN yang dapat dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang semakin meningkat.

Di Indonesia, ide pertama untuk pembangunan dan pengoperasian PLTN sudah dimulai pada tahun 1956. Setelah beberapa seminar dan workshop yang diadakan beberapa universitas di Bandung dan Yogyakarta. Lalu ide tersebut diwujudkan dengan dibentuknya Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN) oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) pada 1972. Setelah itu diputuskan PLTN akan dikembangkan di Indonesia, dengan menunjuk lima tempat yang potensial untuk pembangunan PLTN.

Namun tak mudah membangunnya, walaupun tapaknya sudah ditunjuk di Ujung Lemah Abang dan Semenanjung Muria, Jawa Tengah. pelaksanaan studi kelayakan tentang introduksi PLTN yang pertama pada tahun 1978 dengan bantuan Pemerintah Itali. Lalu pada 1985 pekerjaan dimulai dengan melakukan reevaluasi dan pembaharuan studi yang sudah dilakukan dengan bantuan International Atomic Energy Agency (IAEA), Pemerintah Amerika Serikat melalui perusahaan Bechtel International, Perusahaan Perancis melalui perusahaan SOFRATOME, dan Pemerintah Itali melalui perusahaan CESEN.

Pada bulan Agustus 1991, menurut situs milik Batan, sebuah perjanjian kerja tentang studi kelayakan telah ditandatangani oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan Perusahaan Konsultan NEWJEC Inc. Perjanjian kerja ini berjangka waktu 4,5 tahun dan meliputi pelaksanaan pekerjaan tentang pemilihan dan evaluasi tapak PLTN, serta suatu studi kelayakan yang komprehensif tentang kemungkinan pembangunan berbagai jenis PLTN dengan daya total yang dapat mencapai 7.000 MWe. Pada saat Menteri Ristek dijabat Hatta Rajasa, bahkan penandatanganan kerjasama dengan Korea Selatan ditandatangani di kantor pusat IAEA, Wina Austria.

Walaupun semua tahap sudah jelas, tapi hambatan masih tetap saja ada. Kendalanya mulai dari dana, soal pembebasan lahan dan penentangan sejumlah kelompok anti nuklir. Bahkan Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) pernah menentang dengan cara akan berpuasa dan duduk bersama-sama pengikutnya di kawasan yang rencananya di bangun PLTN itu.

Memang kalau melihat kebutuhan akan listrik sepertinya kita perlu tenaga nuklir yang lebih cepat dan besar kekuataannya. Walaupun pembangkit listrik tenaga lain yang banyak sumbernya, seperti air, gas, uap, angin,dan surya belum dimaksimaliasi, Tentu nampaknya perlunya penggunaan nuklir tak lepas dari proyek yang pasti dan menguntungkan banyak pihak.

Namun, jika mengingat Indonesia yang rawan bencana alam, seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang dan lain sebagainya, bahaya pembangkit tenaga nuklir akan sangat membahayakan kehidupan masyarakat Indonesia, terutama yang berada di sekitar daerah tempat PLTN itu berada, sampai radius yang cukup jauh. Apalagi petugas kita juga cenderung ceroboh dan tak bertangung jawab terhadap pekerjaannya. Lihat saja kasus Lumpur Lapindo, akibat kesalahan teknis berakibat cukup besar, apalagi jika kesalahan terjadi pada pengunaan nuklir, bisa dibayangkan.

Rusia saja tak pernah mengumumkan secara jelas, kecelakaan chernobhyl, walaupun lawannya AS sudah memasok informasi tentang kecelakaan itu. Bahkan Washington DC yang juga pernah mengalami kecelakaan nuklir tak pernah menginformasikan secara jelas dampak kecelakaan itu. Belum lagi negara-negara yang tak melaporkan kecelakaan-kecelakaan proyek-proyek nuklirnya. Sampai kini tak ada data yang jelas.

Nah, jika di Indonesia dibangun pembangkit listrik tenaga nuklir, bukan tidak mungkin kecelekaan dan bencana besar bisa terjadi. Mengingat wilayah Indonesia termasuk rawan berbagai bencana. Masih banyak, sumber tenaga lain yang bisa digunakan, antara lain, air, surya ataupun angin.

Jadi bagi Indonesia saat ini bukan "proyek" pembangkit tenaga nuklir, yang dibutuhkan Indonesia kini justru adalah bom nuklir. Agar Indonesia tidak ditindas dan ditakuti-takuti negara-negara pemilik bom nuklir.

Karena sampai sekarang tak ada disiplin pelarangan penggunaan bom nuklir. Selain itu juga terjadi diskriminasi kepemilikan bom nuklir. Jika diskriminasi masih terjadi tak ada salahnya Indonesia juga membuat bom nuklir. Pembuatan bom nuklir juga tak menggunakan biaya besar, cuma perlu sejumlah plutonium dan uranium. Sebuah negara juga tak perlu memiliki itu cukup membeli ke negara-negara yang memiliki barang tambang tersebut.

Karena itu belum tentu negara tetangga kita ; Singapura, Malaysia, Thailand atau Australia tak punya bom nuklir. Karena laporan kepada IAEA (badan tenaga nuklir dunia) juga bisa saja tak transaparan serta disembunyikan kepemilikan bahan-bahan nuklir. Seperti halnya, di Timur Tengah, Israel bebas memiliki bahan-bahan pembuat bom nuklir. Sedangkan negara-negara di kawasan itu, seperti Iran misalnya, langsung terkena sanksi. Walaupun, pengakuan negeri pimpinan Presiden Ahmadinejad itu hanya menggunakan nuklir untuk program sipil, bukan senjata untuk menyerang orang lain. Who's know?

Ahmad Taufik
Ketua Umum Garda Kemerdekaan

03 November 2009

ini bukan soal negara kapitalis yang menjajah indonesia, tetapi ini soal indonesia


“kenapa yah kok orang-orang pada keranjingan blackberry?”

“yah, lagi tren aja kali…”

“bodoh aja kali orang yang beli blackberry kalo cuma karena tren…”

itu aku yang mengatakan kalimat terakhir. maaf jika ada yang tersinggung karena aku menyebut kata ‘bodoh’. tapi realitas yang ada mengirim sinyal ke otakku untuk memberikan instruksi seperti itu kepada bibirku. ini berkaitan dengan pertumbuhan penjualan blackberry yang pada tahun 2008 saja bisa mencapai 494%. sungguh angka yang fantastis sekaligus mengerikan untuk ukuran negara indonesia yang masih menyandarkan diri pada utang luar negeri untuk melangsungkan hidupnya.

mungkin akan ada yang mencibir saat membaca tulisanku ini. “dia kan nulis begitu karena ga mampu beli blackberry!!!”. sebelum ada yang mencibir begitu, aku ingin mengatakan bahwa tulisan ini bukanlah soal mampu atau tidak mampu membeli, tapi jauh lebih penting dari sekedar itu. tapi oke lah, jika memang ada yang mencibir seperti itu, maka aku bisa jawab bahwa aku mampu membeli blackberry jika aku memang mau. titik.

kembali ke soal blackberry, komoditi dari kanada ini memang menciptakan fenomena dan pengalaman baru dalam berponsel-ria. dari mulai desain yang menerobos dan meruntuhkan pakem yang ada, blackberry seolah mengoyak kedigdayaan ponsel pintar merek apapun. dan layanan internet yang ada didalamnya pun menjadi daya tarik yang menggiurkan karena kemudahan berinternet menjadi lebih menyenangkan.

kehadiran blackberry memang membuat gairah baru saat kejenuhan melanda tren ponsel yang ada dan pasar ponsel pun meningkat drastis yang kemudian mampu memutar ekonomi rakyat secara lebih dinamis. dengan harga (pada awalnya) di atas 5 jutaan, ponsel ini memang memiliki eksklusifitasnya sendiri dan ditujukan untuk kalangan ekonomi menengah ke atas. tapi tentu research in motion, sang produsen, tak mau jika konsumennya terbatas pada kalangan itu saja, kemudian si produsen memproduksi blackberry ekonomis yang berharga sekitar 3 jutaan. akhirnya, masyarakat kalangan ekonomi pas-pasan pun memaksakan diri untuk mengkonsumsinya. dan untung besar lah rim.

blackberry memang membuat sebagian orang menikmati keuntungan, tetapi masalahnya, sebagian besar uang hasil penjualan blackberry mengalir ke luar negeri. dan yang tersisa di indonesia hanyalah konsumerisme yang bersifat adiktif dan ketergantungan. makanya aku tadi bilang bahwa tulisan ini lebih dari sekedar persoalan mampu atau tidak mampu membeli. lebih jauh dari itu, ini berkaitan dengan ketahanan negara.

ini tidak hanya berlaku untuk kasus blackberry saja. dalam hal minyak, indonesia juga dibodohi oleh amerika. amerika menyadari bahwa era minyak akan segera berakhir. diperlukan sumber energi lain yang dapat menggantikannya dan amerika sudah mulai sejak lama penelitian-penelitian untuk itu. tetapi amerika tak kan bergantung dari hasil penelitiannya saja, sebisa mungkin amerika akan berusaha menguasai sumber energi yang ada di dunia, termasuk minyak.

perusahaan-perusahaan minyak asal amerika mengeruk minyak yang ada di indonesia dan menimbunnya sehingga saat semua negara kehabisan minyaknya, amerika dapat memonopoli penjualan minyak yang mereka punya. bukan hanya itu saja, sumber daya manusia indonesia yang potensial juga dibajak habis-habisan. mereka diberi segala kenyamanan dan kemewahan yang akan meruntuhkan nasionalisme dan patriotismenya pada negara sehingga suatu waktu jika memang diperlukan, mereka bisa disetir semaunya oleh amerika. sekali lagi, ini soal ketahanan negara!!!

tulisan ini bukan soal amerika atau pun negara kapitalis lainnya yang menjajah ekonomi dan budaya indonesia. tetapi soal indonesia.

coba ingat-ingat, tanggal 10 agustus 1995, putra-putri indonesia merilis pesawat penumpang dengan kode n250 atau biasa disebut 'gatot kaca'. jika dikelola secara benar, bukankah seharusnya pesawat penumpang yang dipakai sekarang adalah produk lokal?? bahkan mungkin seharusnya tahun 2000an, indonesia sudah bisa membuat pesawat tempur. atau paling tidak merintisnya.

kemudian logikaku berjalan, jika pesawat saja bisa dibuat, menurut akal awamku, bukankah seharusnya memproduksi mobil lokal cuma perkara membalik telapak tangan? begitu pula dengan ponsel. begitu pula komputer dan laptop.

lalu ada apa dengan indonesia? pt dirgantara indonesia hancur. mobil timor dan bimantara nyaris tak berjejak. ponsel? dikuasai sepenuhnya oleh produsen luar. bahkan baut sekali pun, indonesia mengimpor dari china.

masalah yang ada bukanlah soal ketidakmampuan. tetapi ketidakmauan untuk berusaha memproduksi barang sendiri karena dianggap membutuhkan waktu yang lama dan keuntungan pun hanya bisa merayap naik secara perlahan. yang ada hanyalah keinginan mendapatkan keuntungan secara cepat dengan menjual dan menjejali negeri ini dengan barang impor.

selain itu, penyakit masyarakat bernama konsumtif terlalu mengakar sehingga melemahkan kemampuan produksi. dan materialisme yang berpandangan bahwa segala penilaian terletak pada materi juga melunturkan kemauan untuk belajar memproduksi barang hanya karena barang tersebut sudah ada di pasaran.

tapi semuanya bukan tak bisa diatasi. mulailah untuk menahan diri dari mengkonsumsi barang impor secara berlebihan. bahkan, pemerintah bisa melarang impor barang yang hanya berorientasi pada fesyen dan gaya hidup. percuma pemerintah menggembar-gemborkan ‘cintailah produk dalam negeri’ jika keran impor terus deras mengalir membanjiri.

jadi, yuk, kita bangun bangsa ini dengan kerja dan amal nyata…