03 November 2009

ini bukan soal negara kapitalis yang menjajah indonesia, tetapi ini soal indonesia


“kenapa yah kok orang-orang pada keranjingan blackberry?”

“yah, lagi tren aja kali…”

“bodoh aja kali orang yang beli blackberry kalo cuma karena tren…”

itu aku yang mengatakan kalimat terakhir. maaf jika ada yang tersinggung karena aku menyebut kata ‘bodoh’. tapi realitas yang ada mengirim sinyal ke otakku untuk memberikan instruksi seperti itu kepada bibirku. ini berkaitan dengan pertumbuhan penjualan blackberry yang pada tahun 2008 saja bisa mencapai 494%. sungguh angka yang fantastis sekaligus mengerikan untuk ukuran negara indonesia yang masih menyandarkan diri pada utang luar negeri untuk melangsungkan hidupnya.

mungkin akan ada yang mencibir saat membaca tulisanku ini. “dia kan nulis begitu karena ga mampu beli blackberry!!!”. sebelum ada yang mencibir begitu, aku ingin mengatakan bahwa tulisan ini bukanlah soal mampu atau tidak mampu membeli, tapi jauh lebih penting dari sekedar itu. tapi oke lah, jika memang ada yang mencibir seperti itu, maka aku bisa jawab bahwa aku mampu membeli blackberry jika aku memang mau. titik.

kembali ke soal blackberry, komoditi dari kanada ini memang menciptakan fenomena dan pengalaman baru dalam berponsel-ria. dari mulai desain yang menerobos dan meruntuhkan pakem yang ada, blackberry seolah mengoyak kedigdayaan ponsel pintar merek apapun. dan layanan internet yang ada didalamnya pun menjadi daya tarik yang menggiurkan karena kemudahan berinternet menjadi lebih menyenangkan.

kehadiran blackberry memang membuat gairah baru saat kejenuhan melanda tren ponsel yang ada dan pasar ponsel pun meningkat drastis yang kemudian mampu memutar ekonomi rakyat secara lebih dinamis. dengan harga (pada awalnya) di atas 5 jutaan, ponsel ini memang memiliki eksklusifitasnya sendiri dan ditujukan untuk kalangan ekonomi menengah ke atas. tapi tentu research in motion, sang produsen, tak mau jika konsumennya terbatas pada kalangan itu saja, kemudian si produsen memproduksi blackberry ekonomis yang berharga sekitar 3 jutaan. akhirnya, masyarakat kalangan ekonomi pas-pasan pun memaksakan diri untuk mengkonsumsinya. dan untung besar lah rim.

blackberry memang membuat sebagian orang menikmati keuntungan, tetapi masalahnya, sebagian besar uang hasil penjualan blackberry mengalir ke luar negeri. dan yang tersisa di indonesia hanyalah konsumerisme yang bersifat adiktif dan ketergantungan. makanya aku tadi bilang bahwa tulisan ini lebih dari sekedar persoalan mampu atau tidak mampu membeli. lebih jauh dari itu, ini berkaitan dengan ketahanan negara.

ini tidak hanya berlaku untuk kasus blackberry saja. dalam hal minyak, indonesia juga dibodohi oleh amerika. amerika menyadari bahwa era minyak akan segera berakhir. diperlukan sumber energi lain yang dapat menggantikannya dan amerika sudah mulai sejak lama penelitian-penelitian untuk itu. tetapi amerika tak kan bergantung dari hasil penelitiannya saja, sebisa mungkin amerika akan berusaha menguasai sumber energi yang ada di dunia, termasuk minyak.

perusahaan-perusahaan minyak asal amerika mengeruk minyak yang ada di indonesia dan menimbunnya sehingga saat semua negara kehabisan minyaknya, amerika dapat memonopoli penjualan minyak yang mereka punya. bukan hanya itu saja, sumber daya manusia indonesia yang potensial juga dibajak habis-habisan. mereka diberi segala kenyamanan dan kemewahan yang akan meruntuhkan nasionalisme dan patriotismenya pada negara sehingga suatu waktu jika memang diperlukan, mereka bisa disetir semaunya oleh amerika. sekali lagi, ini soal ketahanan negara!!!

tulisan ini bukan soal amerika atau pun negara kapitalis lainnya yang menjajah ekonomi dan budaya indonesia. tetapi soal indonesia.

coba ingat-ingat, tanggal 10 agustus 1995, putra-putri indonesia merilis pesawat penumpang dengan kode n250 atau biasa disebut 'gatot kaca'. jika dikelola secara benar, bukankah seharusnya pesawat penumpang yang dipakai sekarang adalah produk lokal?? bahkan mungkin seharusnya tahun 2000an, indonesia sudah bisa membuat pesawat tempur. atau paling tidak merintisnya.

kemudian logikaku berjalan, jika pesawat saja bisa dibuat, menurut akal awamku, bukankah seharusnya memproduksi mobil lokal cuma perkara membalik telapak tangan? begitu pula dengan ponsel. begitu pula komputer dan laptop.

lalu ada apa dengan indonesia? pt dirgantara indonesia hancur. mobil timor dan bimantara nyaris tak berjejak. ponsel? dikuasai sepenuhnya oleh produsen luar. bahkan baut sekali pun, indonesia mengimpor dari china.

masalah yang ada bukanlah soal ketidakmampuan. tetapi ketidakmauan untuk berusaha memproduksi barang sendiri karena dianggap membutuhkan waktu yang lama dan keuntungan pun hanya bisa merayap naik secara perlahan. yang ada hanyalah keinginan mendapatkan keuntungan secara cepat dengan menjual dan menjejali negeri ini dengan barang impor.

selain itu, penyakit masyarakat bernama konsumtif terlalu mengakar sehingga melemahkan kemampuan produksi. dan materialisme yang berpandangan bahwa segala penilaian terletak pada materi juga melunturkan kemauan untuk belajar memproduksi barang hanya karena barang tersebut sudah ada di pasaran.

tapi semuanya bukan tak bisa diatasi. mulailah untuk menahan diri dari mengkonsumsi barang impor secara berlebihan. bahkan, pemerintah bisa melarang impor barang yang hanya berorientasi pada fesyen dan gaya hidup. percuma pemerintah menggembar-gemborkan ‘cintailah produk dalam negeri’ jika keran impor terus deras mengalir membanjiri.

jadi, yuk, kita bangun bangsa ini dengan kerja dan amal nyata…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar