Bersamaan dengan acara pengukuhan
tim pengelola lembaga ATP di Musi Rawas tanggal 5 april 2017 lalu, saya bertemu
dengan kepala UPT Perlindungan Tanaman, namanya Pendi Affandi. Di usia yang
menjelang pensiun, ia membuat sebuah alat yang efektif dan efisien untuk
membasmi hama tikus. Di sela-sela acara tersebut, Pak Pendi mempresentasikan
alat itu kepada Bupati Musi Rawas, Ir. H. Hendra Gunawan dan Kepala Batan Prof.
Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto.
Pertama kali berkenalan, saya
merasa familiar dengan logat saat ia bicara. Dan setelah mengobrol beberapa
saat, terkonfirmasilah dugaan saya bahwa Pak Pendi adalah orang sunda. Ia lahir
dan besar di Majalengka, satu provinsi dengan kota lahir saya, Bandung. Ada
cerita menarik saat saya bertanya kenapa bisa sampai “terdampar” di Musi Rawas.
Saat itu, Pak Pendi bercerita, ia melamar pekerjaan ke Departemen Pertanian
yang membuka lowongan pekerjaan dengan formasi penyuluh pertanian. Waktu itu
(dugaan saya sekitar 35 tahun yang lalu), Pak Pendi lulus tes dan langsung
bekerja di Majalengka selama beberapa bulan. Tak lama, ia dan kawan-kawannya
dibawa sebuah bus tanpa diberitahu tujuannya (buat saya, ini seperti cerita
penculikan). Tanpa disangka, mereka sampai di Palembang. Mereka bekerja
beberapa bulan di sana. Suatu hari, cerita “penculikan” terulang. Sebagian dari
mereka, termasuk Pak Pendi, dibawa sebuah bus dan sampailah di Musi Rawas. Beberapa
kawan Pak Pendi ada yang tidak betah dan kabur. Berbeda dengan yang kabur, Pak
Pendi bertemu jodoh lantas menikah dan kemudian menetap di Musi Rawas sampai
sekarang.
Pak Pendi menjabat Kepala UPT
Perlindungan Tanaman Di Kabupaten Musi Rawas. Dugaan saya, sepertinya ia
menjabat eselon IV. Tetapi dugaan saya kali ini tidak terkonfirmasi benar atau
tidak. Tak masalah lah, jabatannya bukan hal yang terlalu penting. Poin yang
penting adalah ia membuat sebuah alat sederhana yang diakuinya dapat membasmi
hama tikus di sawah secara efektif dan efisien. Efektif karena dapat membasmi
sampai dengan 300-400an tikus dalam satu jam dan efisien karena alat yang
diperlukan mudah didapat dan relatif murah, ± Rp. 360.000. Alat itu dinamai
ABT TGA (Alat Basmi Tikus Tabung Gas Api).
Alat-alat yang dirakit dalam
pembuatan ABT TGA itu terdiri dari tabung gas elpiji 3 Kg, regulator tabung tekanan
tinggi (seperti yang biasa dipakai tukang nasi goreng), selang gas, stik pipa
yang terbuat dari besi, dan nosel ‘handmade’. Bagian termahalnya adalah tabung
gas elpiji 3 Kg yaitu sebesar Rp. 200.000. Tetapi, pemakaian selanjutnya, tentu
lebih murah lagi karena tabung gas hanya perlu diisi ulang seharga ± Rp.
30.000. Biaya-biaya lain yang timbul secara berkala jika diperlukan adalah
pemeliharaan/penggantian selang gas, stik, regulator tabung gas, maupun
noselnya. Tetapi tentu saja bukan biaya pengeluaran rutin.
Di tempat dipamerkannya ABT TGA
itu ada juga dua alat lainnya yang punya fungsi yang sama. Sebenarnya, prinsip
kerja ABT TGA ini sama dengan kedua alat tersebut, yaitu memanfaatkan oksigen
untuk pembakaran, bedanya pada bahan bakar yang digunakan. Alat yang pertama
bentuknya seperti alat vacum cleaner portabel. Cara menghasilkan pembakarannya
dengan angin yang dihasilkan dari kipas yang diputar dengan tangan. Kelemahan
alat ini ada pada sumber anginnya, putaran kipas tidak akan konsisten dan
justru semakin lama semakin lemah karena berkurangnya tenaga orang yang
menggunakan alat tersebut. Alat kedua, bahan bakarnya minyak tanah. Seperti
kita ketahui, minyak tanah sudah sangat sulit ditemukan (atau bahkan sudah tidak
ada lagi?). Dari perbandingan bahan bakarnya, jelas ABT TGA lebih baik. Selain
itu, ABT TGA juga lebih aman karena stik yang cukup panjang dapat menjauhkan
penggunanya dari ledakan yang dihasilkan alat tersebut.
![]() |
Alat-alat pembasmi tikus yang dipamerkan. |
![]() |
Pak Pendi mempresentasikan alat ciptaannya kepada Bupati Musi Rawas dan Kepala BATAN. |
Pak Pendi sempat
mendemonstrasikan cara kerja ABT TGA tersebut. Ada bahan lain yang digunakan
dalam pemakaian alat itu, yaitu belerang (harganya murah). Belerang itu,
menurut Pak Pendi, dijual bebas dan biasanya ada di toko alat pertanian. Dari
yang saya amati ada 4 langkah penggunaan alat tersebut. Langkah pertama, simpan
butiran belerang (± 2 sendok makan) di lubang yang diduga ada tikusnya.
Kedua, bakar kertas sebagai pemantik api. Ketiga, arahkan nosel ABT TGA ke
kertas yang dibakar sampai api muncul di ujung nosel. Keempat, bakar belerang
yang ada di lubang tikus. Secara alamiah, akan ada ledakan kecil (untuk
manusia) dari belerang tersebut yang akan menyebabkan kebakaran besar (untuk
tikus) di lubang tikus itu.
Penciptaan alat ini adalah
peluang usaha. Produksi massal, lalu jual ke petani yang membutuhkan. Dengan
harga jual Rp. 500.000, saya yakin untungnya akan bisa jadi tambahan
penghasilan yang berarti besar buat Pak Pendi, terutama setelah pensiun kelak. Peluang
bisnis itu terpikirkan oleh Pak Pendi, tetapi ia memilih untuk tidak
melakukannya. Ia bilang, “Udah tua begini mah, yang penting cari ladang amal.
Rejeki mah udah diatur.” Semoga kadar keikhlasannya tidak berkurang dengan
bicara begitu. Aamiin.
Selain tidak berniat
mengkomersialkan alat tersebut, Pak Pendi juga membuat dua ABT TGA yang
diberikan secara cuma-cuma kepada kelompok tani di kecamatan lain. Beberapa
kelompok tani bahkan sudah meniru membuat ABT TGA dan Pak Pendi tidak keberatan
sama sekali.
Di balik kemudahan penggunaan, keamanan,
efektifitas, dan efisiennya alat tersebut, saya tidak tahu apakah ada kelemahan
dari alat tersebut. Selain itu, terus terang, saya tidak tahu apa dampak yang
akan terjadi jika pembasmian tikus dengan cara dibakar seperti itu. Jika ada
yang tahu kelemahan dan dampak buruk pembasmian dengan cara tersebut, silakan mengkritisi.
![]() |
Pak Pendi dan saya foto bersama. |
Setelah selesai acara, kami
sempat berfoto bersama dan bertukar nomor ponsel. Pak Pendi minta tolong pada
saya untuk mencari cara agar ada pemantik otomatis yang dipasang di alatnya
(supaya tidak perlu membakar kertas untuk pemantik apinya). Saya bilang kalau
saya bukan insinyur, jadi tidak bisa membantunya. Tapi saya bilang akan
usahakan cari orang yang bisa memenuhi permintaannya. Atau ada yang bisa
bantu???