10 April 2017

Alat Basmi Tikus Sawah Buatan Bapak Pendi Affandi

Bersamaan dengan acara pengukuhan tim pengelola lembaga ATP di Musi Rawas tanggal 5 april 2017 lalu, saya bertemu dengan kepala UPT Perlindungan Tanaman, namanya Pendi Affandi. Di usia yang menjelang pensiun, ia membuat sebuah alat yang efektif dan efisien untuk membasmi hama tikus. Di sela-sela acara tersebut, Pak Pendi mempresentasikan alat itu kepada Bupati Musi Rawas, Ir. H. Hendra Gunawan dan Kepala Batan Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto.

Pertama kali berkenalan, saya merasa familiar dengan logat saat ia bicara. Dan setelah mengobrol beberapa saat, terkonfirmasilah dugaan saya bahwa Pak Pendi adalah orang sunda. Ia lahir dan besar di Majalengka, satu provinsi dengan kota lahir saya, Bandung. Ada cerita menarik saat saya bertanya kenapa bisa sampai “terdampar” di Musi Rawas. Saat itu, Pak Pendi bercerita, ia melamar pekerjaan ke Departemen Pertanian yang membuka lowongan pekerjaan dengan formasi penyuluh pertanian. Waktu itu (dugaan saya sekitar 35 tahun yang lalu), Pak Pendi lulus tes dan langsung bekerja di Majalengka selama beberapa bulan. Tak lama, ia dan kawan-kawannya dibawa sebuah bus tanpa diberitahu tujuannya (buat saya, ini seperti cerita penculikan). Tanpa disangka, mereka sampai di Palembang. Mereka bekerja beberapa bulan di sana. Suatu hari, cerita “penculikan” terulang. Sebagian dari mereka, termasuk Pak Pendi, dibawa sebuah bus dan sampailah di Musi Rawas. Beberapa kawan Pak Pendi ada yang tidak betah dan kabur. Berbeda dengan yang kabur, Pak Pendi bertemu jodoh lantas menikah dan kemudian menetap di Musi Rawas sampai sekarang.

Pak Pendi menjabat Kepala UPT Perlindungan Tanaman Di Kabupaten Musi Rawas. Dugaan saya, sepertinya ia menjabat eselon IV. Tetapi dugaan saya kali ini tidak terkonfirmasi benar atau tidak. Tak masalah lah, jabatannya bukan hal yang terlalu penting. Poin yang penting adalah ia membuat sebuah alat sederhana yang diakuinya dapat membasmi hama tikus di sawah secara efektif dan efisien. Efektif karena dapat membasmi sampai dengan 300-400an tikus dalam satu jam dan efisien karena alat yang diperlukan mudah didapat dan relatif murah, ± Rp. 360.000. Alat itu dinamai ABT TGA (Alat Basmi Tikus Tabung Gas Api).

Alat-alat yang dirakit dalam pembuatan ABT TGA itu terdiri dari tabung gas elpiji 3 Kg, regulator tabung tekanan tinggi (seperti yang biasa dipakai tukang nasi goreng), selang gas, stik pipa yang terbuat dari besi, dan nosel ‘handmade’. Bagian termahalnya adalah tabung gas elpiji 3 Kg yaitu sebesar Rp. 200.000. Tetapi, pemakaian selanjutnya, tentu lebih murah lagi karena tabung gas hanya perlu diisi ulang seharga ± Rp. 30.000. Biaya-biaya lain yang timbul secara berkala jika diperlukan adalah pemeliharaan/penggantian selang gas, stik, regulator tabung gas, maupun noselnya. Tetapi tentu saja bukan biaya pengeluaran rutin.


Di tempat dipamerkannya ABT TGA itu ada juga dua alat lainnya yang punya fungsi yang sama. Sebenarnya, prinsip kerja ABT TGA ini sama dengan kedua alat tersebut, yaitu memanfaatkan oksigen untuk pembakaran, bedanya pada bahan bakar yang digunakan. Alat yang pertama bentuknya seperti alat vacum cleaner portabel. Cara menghasilkan pembakarannya dengan angin yang dihasilkan dari kipas yang diputar dengan tangan. Kelemahan alat ini ada pada sumber anginnya, putaran kipas tidak akan konsisten dan justru semakin lama semakin lemah karena berkurangnya tenaga orang yang menggunakan alat tersebut. Alat kedua, bahan bakarnya minyak tanah. Seperti kita ketahui, minyak tanah sudah sangat sulit ditemukan (atau bahkan sudah tidak ada lagi?). Dari perbandingan bahan bakarnya, jelas ABT TGA lebih baik. Selain itu, ABT TGA juga lebih aman karena stik yang cukup panjang dapat menjauhkan penggunanya dari ledakan yang dihasilkan alat tersebut.

Alat-alat pembasmi tikus yang dipamerkan.


Pak Pendi mempresentasikan alat ciptaannya kepada Bupati Musi Rawas dan Kepala BATAN.

Pak Pendi sempat mendemonstrasikan cara kerja ABT TGA tersebut. Ada bahan lain yang digunakan dalam pemakaian alat itu, yaitu belerang (harganya murah). Belerang itu, menurut Pak Pendi, dijual bebas dan biasanya ada di toko alat pertanian. Dari yang saya amati ada 4 langkah penggunaan alat tersebut. Langkah pertama, simpan butiran belerang (± 2 sendok makan) di lubang yang diduga ada tikusnya. Kedua, bakar kertas sebagai pemantik api. Ketiga, arahkan nosel ABT TGA ke kertas yang dibakar sampai api muncul di ujung nosel. Keempat, bakar belerang yang ada di lubang tikus. Secara alamiah, akan ada ledakan kecil (untuk manusia) dari belerang tersebut yang akan menyebabkan kebakaran besar (untuk tikus) di lubang tikus itu.

Penciptaan alat ini adalah peluang usaha. Produksi massal, lalu jual ke petani yang membutuhkan. Dengan harga jual Rp. 500.000, saya yakin untungnya akan bisa jadi tambahan penghasilan yang berarti besar buat Pak Pendi, terutama setelah pensiun kelak. Peluang bisnis itu terpikirkan oleh Pak Pendi, tetapi ia memilih untuk tidak melakukannya. Ia bilang, “Udah tua begini mah, yang penting cari ladang amal. Rejeki mah udah diatur.” Semoga kadar keikhlasannya tidak berkurang dengan bicara begitu. Aamiin.

Selain tidak berniat mengkomersialkan alat tersebut, Pak Pendi juga membuat dua ABT TGA yang diberikan secara cuma-cuma kepada kelompok tani di kecamatan lain. Beberapa kelompok tani bahkan sudah meniru membuat ABT TGA dan Pak Pendi tidak keberatan sama sekali.

Di balik kemudahan penggunaan, keamanan, efektifitas, dan efisiennya alat tersebut, saya tidak tahu apakah ada kelemahan dari alat tersebut. Selain itu, terus terang, saya tidak tahu apa dampak yang akan terjadi jika pembasmian tikus dengan cara dibakar seperti itu. Jika ada yang tahu kelemahan dan dampak buruk pembasmian dengan cara tersebut, silakan mengkritisi.


Pak Pendi dan saya foto bersama.

Setelah selesai acara, kami sempat berfoto bersama dan bertukar nomor ponsel. Pak Pendi minta tolong pada saya untuk mencari cara agar ada pemantik otomatis yang dipasang di alatnya (supaya tidak perlu membakar kertas untuk pemantik apinya). Saya bilang kalau saya bukan insinyur, jadi tidak bisa membantunya. Tapi saya bilang akan usahakan cari orang yang bisa memenuhi permintaannya. Atau ada yang bisa bantu???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar