dalam salah satu novel dari tetralogi laskar pelangi, sang pemimpi, ada satu bab yang sungguh berkesan. bab itu berjudul Tuhan tahu, tapi menunggu (dikutip dari penulis bernama leo tolstoy). dalam bab itu, dikisahkan arai melakukan kejahatan sholat dengan mengucapkan ‘amin’ dengan nada melolong yang meliuk-liuk. hal itu ia lakukan karena ia tak suka dengan imam yang juga guru mengajinya, taikong hamim. perbuatan arai jelas merobek-robek wibawa taikong hamim.
menurut arai, kejahatan yang dilakukannya cukup aman karena taikong tak bisa menentukan siapa pelakunya diantara ratusan anak-anak di saf belakang. tetapi seperti judul bab itu, Tuhan tetap tahu dan Tuhan akan membalasnya di kemudian hari.
kisah itu berlanjut di novel lanjutannya, edensor. pada mozaik 38 dengan judul enam belas tahun Tuhan menunggu, ‘kejahatan’ arai dihunjam dengan balasan setimpal. dikisahkan bahwa ikal dan arai berkeliling eropa saat liburan musim panas. tiba saatnya mereka berada di negara austria. untuk melaksanakan shalat jumat, keduanya tiba di perkampungan muslim negara itu.
saat melaksanakan shalat jumat, seperti biasa, imam membaca surat al-fatihah dengan suara lantang nan lembut. karena terhanyut nuansa kelembutan, diakhir surat al-fatihah, arai melolongkan kata amin seperti enam belas tahun lalu—meliuk-liuk dan lantang. tetapi anehnya, lolongan itu hanya dilakukan oleh arai sendiri. ternyata muslim di perkampungan itu menganut mahzab yang hanya mengucapkan amin di dalam hati. sehingga malu hati lah arai karena melolongkan kata amin dengan meliuk-liuk seperti serigala. terlebih lagi, nada lolongan itu terdengar tidak sopan.
dengan rasa malu yang tak tertanggungkan, arai memohon maaf dan mengatakan semua terjadi di luar kesadarannya. sang imam hanya tersenyum simpul dan berkata, “tak selembar pun daun jatuh tanpa sepengetahuan Allah.” setelah itu arai dan ikal bergegas kabur meninggalkan segerombolan besar muslim yang menertawakan mereka sampai terduduk-duduk.
sejak membaca kisah itu, aku selalu penasaran dengan siapa sebenarnya leo tolstoy. Tuhan tahu, tapi menunggu, kalimat pendek tetapi mengandung makna yang sungguh mendalam. jelas sekali penulisnya adalah seorang yang kenyang akan pengalaman hidup. dan aku sungguh ingin membaca tulisan lengkapnya.
ternyata Tuhan memang benar-benar tahu. tetapi ia menunggu lebih dari setahun untuk menunjukkannya. sekitar sebulan yang lalu aku berkunjung ke rumah seorang kawan. tak disangka, ia memiliki koleksi buku karya leo tolstoy. tak pikir panjang, aku pun meminjamnya.
leo tolstoy hidup pada rentang tahun 1828-1910. ia merupakan sastrawan rusia yang memiliki pengaruh mendunia pada masanya. ada dua novel besarnya yang selalu dikenang dunia yang berjudul war and peace (1863) dan anna karenina (1873).
semasa hidupnya ada sebuah anekdot yang melukiskan betapa besar pengaruh tolstoy bagi bangsa rusi, yakni ada tiga hal yang paling penting di rusia saat itu: gereja katolik, tsar, dan leo tolstoy. ada dua hal utama yang selalu ia perjuangkan, yaitu cinta bagi seluruh umat manusia dan perlawanan tak kunjung usai terhadap kejahatan.
Tuhan maha tahu, tetapi Dia menunggu. itulah salah satu judul cerpen dalam buku kumpulan cerpen tolstoy yang berjudul ziarah. dalam cerpen itu, dikisahkan seseorang yang telah difitnah dan akhirnya dijebloskan ke penjara. sebagai mahluk Tuhan, ia justru menemukan kesadaran permanen di penjara sehingga ia selalu berserah diri kepada yang mahakuasa. 26 tahun kemudian, ia bertemu dengan orang yang memfitnahnya di penjara.
secara keseluruhan, tolstoy menghasilkan karya yang mudah dimengerti dan orisinil pada masanya. mudah bagi pembacanya untuk mengambil nilai moral dalam setiap karyanya seperti yang dilakukan andrea hirata dalam melengkapi karyanya, tetralogi laskar pelangi.
“… and to every action there is always an equal and opposite or contrary, reaction …” isaac newton (1643-1727)
Human ..., sometimes only remember God when the damn thing's happen. But we never know!
BalasHapusNice post, dude ...:D
nuhun boss....
BalasHapus