![]() |
| Kepala BATAN, memberikan sambutan di acara pengukuhan tim pengelola ATP Musi Rawas. (foto:@yudh1t) |
Bupati Musi Rawas, Ir. H. Hendra Gunawan, mengukuhkan tim pengelola lembaga Agro Techno Park (ATP) Musi Rawas pada hari rabu tanggal 5 april 2017. Acara tersebut dilaksanakan di desa Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas yang dihadiri oleh Kepala BATAN, Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto didampingi oleh Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), Totti Tjiptosumirat, M.Sc. Eng beserta jajarannya dan para kelompok tani kabupaten Musi Rawas. Dalam acara tersebut, telah dikukuhkan Hendi, SP, MM menjadi kepala ATP Musi Rawas beserta jajaran di bawahnya. Dasar hukum pengukuhan tersebut mengacu pada Peraturan Bupati Musi Rawas Nomor 72 Tahun 2016 tentang Pembentukan Lembaga Agro Techno Park yang ditindaklanjuti dengan Keputusan Bupati Musi Rawas nomor 94/KPTS/Bappeda/2017 tanggal 24 januari 2017.
Dalam sambutannya, Hendra menyampaikan ucapan terima kasih atas upaya yang telah dirintis oleh BATAN dengan menginisiasi pembentukan ATP di Kabupaten Musi Rawas. Pembentukan ATP bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya melalui penciptaan dan peningkatan ekosistem yang mendukung inovasi untuk peningkatan daya saing. Hal tersebut sejalan dengan cita-cita pemerintah kabupaten agar petani Musi Rawas menjadi petani yang makmur dan sejahtera serta menjadikan Musi Rawas sebagai lumbung pangan di Sumatera Selatan.
Pengukuhan pengelola lembaga ATP Musi Rawas ini merupakan pencapaian target yang telah digariskan dalam Blue Print NSTP dan ATP BATAN yang telah dirintis sejak tahun 2015. “Harapan kami, setelah tahun 2019 nanti, lembaga ATP ini mampu secara mandiri menjalankan kegiatan bisnisnya”, ujar Djarot.
![]() |
| Tim pengelola ATP Musi Rawas berfoto bersama Bupati Musi Rawas, Kepala BATAN, dan Kepala PAIR. (foto:@yudh1t) |
“Kami ini sering ditanya oleh masyarakat tentang hubungan teknologi nuklir dengan pertanian dan peternakan. Di sini, kami mau menjelaskan bahwa justru keunggulan BATAN ada di teknologi pertanian dan peternakannya. Produk-produk BATAN di bidang inilah yang langsung menyentuh masyarakat. Dan ini sesuai dengan visi dari ATP yang bertujuan menerapkan teknologi di daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat”, ujar Djarot.
Acara dilanjutkan dengan rapat teknis tim pengelola ATP yang dipimpin langsung oleh Kepala Bappeda Kabupaten Musi Rawas, Ir. H. Suharto Patih, MM. Dalam diskusi tersebut disampaikan prospek inkubator oleh peneliti bidang peternakan PAIR BATAN, Ir. Firsoni dan kajian studi kelayakan untuk kegiatan akselerasi pemanfaatan program BATAN oleh Kepala Sub Bidang Manajemen Inovasi PDK BATAN, Wibowo, S.si.
Di dalam agenda pembangunan strategis, RPJMN 2015-2019, Presiden Joko Widodo menetapkan target “Membangun sejumlah Science dan Techno Park di daerah, politeknik, dan SMK-SMK dengan prasarana dan sarana dengan teknologi terkini”. Sebagai perwujudannya, maka ditetapkan target untuk membangun 100 Science Techno Park (STP) di seluruh Indonesia. Pembangunan tersebut dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kesejahteraan (PMK) untuk dilaksanakan oleh tujuh Kementerian/Lembaga (K/L) yang terkait, antara lain: Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti), Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Kelautan dan Perikanan (Kemen KP), Kementerian Perindustrian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).
![]() |
| Peresmian kantor ATP Musi Rawas. (foto:@yudh1t) |
Science Techno Park (STP) didefinisikan sebagai sebuah kawasan yang dikelola secara professional bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya melalui penciptaan dan peningkatan ekosistem yang mendukung inovasi untuk peningkatan daya saing dari industri-industri dan institusi-institusi yang berada naungannya. Tujuan pembangunan STP adalah untuk merangsang dan mengelola arus pengetahuan dan teknologi di universitas, lembaga litbang, dan industri yang berada di lingkungannya; memfasilitasi penciptaan dan pertumbuhan perusahaan berbasis inovasi melalui inkubasi bisnis dan proses spin-off, dan menyediakan layanan peningkatan nilai tambah lainnya, melalui penyediaan ruang dan fasilitas berkualitas tinggi pendukung.
Dalam rangka mendukung program 100 STP tersebut, BATAN mengemban tugas membangun 4 STP yang berfokus pada diseminasi hasil penelitian di bidang pertanian dan peternakan. Penghargaan Outstanding Achievement Award di bidang pemuliaan tanaman dari IAEA-FAO pada tahun 2014 menjadi alasan mengapa bidang pertanian dan peternakan yang dibangun dalam program STP BATAN. Selain itu, produk-produk BATAN di bidang pertanian dan peternakan dinilai mampu menjadi teknologi yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat dan dapat menjadi ajang sosialisasi yang tepat bahwa teknologi nuklir tidak melulu berkaitan dengan PLTN maupun bom nuklir.
Adapun perwujudan STP tersebut berbentuk satu National Science Techno Park (NSTP) dan tiga Agro Techno Park (ATP). NSTP berlokasi di Kawasan Nuklir Pasar Jumat (KNPJ) Jakarta, sementara itu ATP dibangun di tiga kabupaten, yaitu di Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Polewali Mandar, dan Kabupaten Klaten.
Secara teori, NSTP diproyeksikan menjadi pusat pengembangan sains dan teknologi pertanian maju serta pusat penumbuhan wirausaha baru di bidang teknologi maju dan pusat layanan teknologi maju ke masyarakat. Kendala yang dihadapi dalam pembangunan NSTP yang paling utama adalah semakin menuanya umur fasilitas nuklir yang dimiliki BATAN. Oleh karena itu, revitalisasi fasilitas nuklir menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar. Pada tahun 2015-2016, BATAN telah merevitalisasi sebanyak 13 fasilitas laboratorium pertanian, kimia, biologi, hidrologi, kebun percobaan, green house, dan irradiator. Selain itu, peremajaan peralatan laboratorium dan pendukung telah dilakukan secara bertahap. Dengan revitalisasi fasilitas nuklir dan peralatan pendukungnya diharapkan dapat menciptakan interaksi dan kolaborasi antara penghasil teknologi dan pengguna iptek.
ATP memiliki peran layaknya inkubator teknologi atas produk litbangyasa yang dihasilkan NSTP. Selain itu, ATP berfungsi sebagai tempat pelatihan, pemagangan, pusat diseminasi teknologi, dan pusat advokasi bisnis ke masyarakat luas. ATP ini diproyeksikan menjadi badan usaha yang mandiri dan memberikan kontribusi peningkatan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.
Dengan 3 (tiga) lokasi berbeda pulau (Sumatera, Jawa, dan Sulawesi) ternyata permasalahan yang dihadapi tidak jauh berbeda. Kecenderungan alih fungsi tanah lahan pertanian menjadi lahan yang digunakan untuk non pertanian menjadi masalah yang serupa di ketiga lokasi ATP. Kerjasama dengan Bappeda dan Dinas terkait menjadi prioritas agar perencanaan daerah yang terukur dapat membantu terlaksananya program ini dengan menyiapkan lahan pertanian yang diperlukan beserta perangkat daerah lainnya. Permasalahan umum lainnya adalah rendahnya sikap kewirausahaan dari pelaku usaha. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan terkait kewirausahaan agar setelah program ini selesai di tahun 2019, roda ekonomi ATP masing-masing daerah dapat terus berputar. Pada tahun 2015-2016, program pelatihan kewirausahaan dilaksanakan di masing-masing daerah dengan partisipan sebanyak 150 orang. Tahun 2017 juga ditargetkan setiap ATP memiliki satu produsen benih BATAN.
Terkait dengan hal tersebut, ATP Musi Rawas telah memiliki calon produsen benih BATAN yaitu Bapak Martono. Beliau memiliki jaringan luas dengan petani penangkar di wilayah Musi Rawas, sehingga diharapkan dapat mengakselerasi pencapaian target yang sudah ditetapkan.
Dalam pengembangannya, telah disusun strategi yang meliputi aspek-aspek tertentu, yaitu :
- Aspek ekonomi, strategi ini berfokus pada peningkatan pendapatan masyarakat khususnya petani dan peternak. Hal tersebut dilakukan dengan cara intensifikasi, eksetensifikasi, dan diversifikasi produk pertanian dan peternakan.
- Aspek infrastruktur, pembangunan fasilitas dibagi dalam tiga zona yaitu utama, penunjang, dan pelayanan.
- Aspek sumber daya manusia, peningkatan kemampuan SDM dilakukan dengan cara penyuluhan dan pendampingan baik secara teknis maupun manajerial.
- Aspek kelembagaan, peran kelompok tani akan dimaksimalkan sebagai mediator antara petani dengan ATP, pemerintah, maupun pihak lain. Soliditas kelompok tani akan memberikan posisi tawar yang besar dalam hubungannya dengan pihak lain sehingga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada petani.
- Aspek pembiayaan, strategi pembiayaan saat ini dilakukan oleh BATAN bekerja sama dengan Pemerintah daerah dalam bentuk cost sharing.
- Aspek teknologi, penerapan teknologi pertanian secara terpadu akan dilakukan secara berkelanjutan agar mencapai zero waste dalam aktivitas pertanian dan peternakan.
Semua pihak tentu berharap pembangunan STP yang diemban oleh BATAN dalam bentuk NSTP dan ATP dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan blue print yang telah ditetapkan. Dengan semua indikator kinerja dari masing-masing aspek, pada akhirnya keberhasilan dan keberlanjutan NSTP dan ATP diharapkan akan berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Daftar Pustaka : Blue Print NSTP Dan ATP BATAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar