10 April 2017

Alat Basmi Tikus Sawah Buatan Bapak Pendi Affandi

Bersamaan dengan acara pengukuhan tim pengelola lembaga ATP di Musi Rawas tanggal 5 april 2017 lalu, saya bertemu dengan kepala UPT Perlindungan Tanaman, namanya Pendi Affandi. Di usia yang menjelang pensiun, ia membuat sebuah alat yang efektif dan efisien untuk membasmi hama tikus. Di sela-sela acara tersebut, Pak Pendi mempresentasikan alat itu kepada Bupati Musi Rawas, Ir. H. Hendra Gunawan dan Kepala Batan Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto.

Pertama kali berkenalan, saya merasa familiar dengan logat saat ia bicara. Dan setelah mengobrol beberapa saat, terkonfirmasilah dugaan saya bahwa Pak Pendi adalah orang sunda. Ia lahir dan besar di Majalengka, satu provinsi dengan kota lahir saya, Bandung. Ada cerita menarik saat saya bertanya kenapa bisa sampai “terdampar” di Musi Rawas. Saat itu, Pak Pendi bercerita, ia melamar pekerjaan ke Departemen Pertanian yang membuka lowongan pekerjaan dengan formasi penyuluh pertanian. Waktu itu (dugaan saya sekitar 35 tahun yang lalu), Pak Pendi lulus tes dan langsung bekerja di Majalengka selama beberapa bulan. Tak lama, ia dan kawan-kawannya dibawa sebuah bus tanpa diberitahu tujuannya (buat saya, ini seperti cerita penculikan). Tanpa disangka, mereka sampai di Palembang. Mereka bekerja beberapa bulan di sana. Suatu hari, cerita “penculikan” terulang. Sebagian dari mereka, termasuk Pak Pendi, dibawa sebuah bus dan sampailah di Musi Rawas. Beberapa kawan Pak Pendi ada yang tidak betah dan kabur. Berbeda dengan yang kabur, Pak Pendi bertemu jodoh lantas menikah dan kemudian menetap di Musi Rawas sampai sekarang.

Pak Pendi menjabat Kepala UPT Perlindungan Tanaman Di Kabupaten Musi Rawas. Dugaan saya, sepertinya ia menjabat eselon IV. Tetapi dugaan saya kali ini tidak terkonfirmasi benar atau tidak. Tak masalah lah, jabatannya bukan hal yang terlalu penting. Poin yang penting adalah ia membuat sebuah alat sederhana yang diakuinya dapat membasmi hama tikus di sawah secara efektif dan efisien. Efektif karena dapat membasmi sampai dengan 300-400an tikus dalam satu jam dan efisien karena alat yang diperlukan mudah didapat dan relatif murah, ± Rp. 360.000. Alat itu dinamai ABT TGA (Alat Basmi Tikus Tabung Gas Api).

Alat-alat yang dirakit dalam pembuatan ABT TGA itu terdiri dari tabung gas elpiji 3 Kg, regulator tabung tekanan tinggi (seperti yang biasa dipakai tukang nasi goreng), selang gas, stik pipa yang terbuat dari besi, dan nosel ‘handmade’. Bagian termahalnya adalah tabung gas elpiji 3 Kg yaitu sebesar Rp. 200.000. Tetapi, pemakaian selanjutnya, tentu lebih murah lagi karena tabung gas hanya perlu diisi ulang seharga ± Rp. 30.000. Biaya-biaya lain yang timbul secara berkala jika diperlukan adalah pemeliharaan/penggantian selang gas, stik, regulator tabung gas, maupun noselnya. Tetapi tentu saja bukan biaya pengeluaran rutin.


Di tempat dipamerkannya ABT TGA itu ada juga dua alat lainnya yang punya fungsi yang sama. Sebenarnya, prinsip kerja ABT TGA ini sama dengan kedua alat tersebut, yaitu memanfaatkan oksigen untuk pembakaran, bedanya pada bahan bakar yang digunakan. Alat yang pertama bentuknya seperti alat vacum cleaner portabel. Cara menghasilkan pembakarannya dengan angin yang dihasilkan dari kipas yang diputar dengan tangan. Kelemahan alat ini ada pada sumber anginnya, putaran kipas tidak akan konsisten dan justru semakin lama semakin lemah karena berkurangnya tenaga orang yang menggunakan alat tersebut. Alat kedua, bahan bakarnya minyak tanah. Seperti kita ketahui, minyak tanah sudah sangat sulit ditemukan (atau bahkan sudah tidak ada lagi?). Dari perbandingan bahan bakarnya, jelas ABT TGA lebih baik. Selain itu, ABT TGA juga lebih aman karena stik yang cukup panjang dapat menjauhkan penggunanya dari ledakan yang dihasilkan alat tersebut.

Alat-alat pembasmi tikus yang dipamerkan.


Pak Pendi mempresentasikan alat ciptaannya kepada Bupati Musi Rawas dan Kepala BATAN.

Pak Pendi sempat mendemonstrasikan cara kerja ABT TGA tersebut. Ada bahan lain yang digunakan dalam pemakaian alat itu, yaitu belerang (harganya murah). Belerang itu, menurut Pak Pendi, dijual bebas dan biasanya ada di toko alat pertanian. Dari yang saya amati ada 4 langkah penggunaan alat tersebut. Langkah pertama, simpan butiran belerang (± 2 sendok makan) di lubang yang diduga ada tikusnya. Kedua, bakar kertas sebagai pemantik api. Ketiga, arahkan nosel ABT TGA ke kertas yang dibakar sampai api muncul di ujung nosel. Keempat, bakar belerang yang ada di lubang tikus. Secara alamiah, akan ada ledakan kecil (untuk manusia) dari belerang tersebut yang akan menyebabkan kebakaran besar (untuk tikus) di lubang tikus itu.

Penciptaan alat ini adalah peluang usaha. Produksi massal, lalu jual ke petani yang membutuhkan. Dengan harga jual Rp. 500.000, saya yakin untungnya akan bisa jadi tambahan penghasilan yang berarti besar buat Pak Pendi, terutama setelah pensiun kelak. Peluang bisnis itu terpikirkan oleh Pak Pendi, tetapi ia memilih untuk tidak melakukannya. Ia bilang, “Udah tua begini mah, yang penting cari ladang amal. Rejeki mah udah diatur.” Semoga kadar keikhlasannya tidak berkurang dengan bicara begitu. Aamiin.

Selain tidak berniat mengkomersialkan alat tersebut, Pak Pendi juga membuat dua ABT TGA yang diberikan secara cuma-cuma kepada kelompok tani di kecamatan lain. Beberapa kelompok tani bahkan sudah meniru membuat ABT TGA dan Pak Pendi tidak keberatan sama sekali.

Di balik kemudahan penggunaan, keamanan, efektifitas, dan efisiennya alat tersebut, saya tidak tahu apakah ada kelemahan dari alat tersebut. Selain itu, terus terang, saya tidak tahu apa dampak yang akan terjadi jika pembasmian tikus dengan cara dibakar seperti itu. Jika ada yang tahu kelemahan dan dampak buruk pembasmian dengan cara tersebut, silakan mengkritisi.


Pak Pendi dan saya foto bersama.

Setelah selesai acara, kami sempat berfoto bersama dan bertukar nomor ponsel. Pak Pendi minta tolong pada saya untuk mencari cara agar ada pemantik otomatis yang dipasang di alatnya (supaya tidak perlu membakar kertas untuk pemantik apinya). Saya bilang kalau saya bukan insinyur, jadi tidak bisa membantunya. Tapi saya bilang akan usahakan cari orang yang bisa memenuhi permintaannya. Atau ada yang bisa bantu???

06 April 2017

Agro Techno Park BATAN

Kepala BATAN, memberikan sambutan di acara pengukuhan tim pengelola ATP Musi Rawas. (foto:@yudh1t)
Bupati Musi Rawas, Ir. H. Hendra Gunawan, mengukuhkan tim pengelola lembaga Agro Techno Park (ATP) Musi Rawas pada hari rabu tanggal 5 april 2017. Acara tersebut dilaksanakan di desa Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas yang dihadiri oleh Kepala BATAN, Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto didampingi oleh Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), Totti Tjiptosumirat, M.Sc. Eng beserta jajarannya dan para kelompok tani kabupaten Musi Rawas. Dalam acara tersebut, telah dikukuhkan Hendi, SP, MM menjadi kepala ATP Musi Rawas beserta jajaran di bawahnya. Dasar hukum pengukuhan tersebut mengacu pada Peraturan Bupati Musi Rawas Nomor 72 Tahun 2016 tentang Pembentukan Lembaga Agro Techno Park yang ditindaklanjuti dengan Keputusan Bupati Musi Rawas nomor 94/KPTS/Bappeda/2017 tanggal 24 januari 2017.

Dalam sambutannya, Hendra menyampaikan ucapan terima kasih atas upaya yang telah dirintis oleh BATAN dengan menginisiasi pembentukan ATP di Kabupaten Musi Rawas. Pembentukan ATP bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya melalui penciptaan dan peningkatan ekosistem yang mendukung inovasi untuk peningkatan daya saing. Hal tersebut sejalan dengan cita-cita pemerintah kabupaten agar petani Musi Rawas menjadi petani yang makmur dan sejahtera serta menjadikan Musi Rawas sebagai lumbung pangan di Sumatera Selatan.

Pengukuhan pengelola lembaga ATP Musi Rawas ini merupakan pencapaian target yang telah digariskan dalam Blue Print NSTP dan ATP BATAN yang telah dirintis sejak tahun 2015. “Harapan kami, setelah tahun 2019 nanti, lembaga ATP ini mampu secara mandiri menjalankan kegiatan bisnisnya”, ujar Djarot.

Tim pengelola ATP Musi Rawas berfoto bersama Bupati Musi Rawas, Kepala BATAN, dan Kepala PAIR. (foto:@yudh1t)

“Kami ini sering ditanya oleh masyarakat tentang hubungan teknologi nuklir dengan pertanian dan peternakan. Di sini, kami mau menjelaskan bahwa justru keunggulan BATAN ada di teknologi pertanian dan peternakannya. Produk-produk BATAN di bidang inilah yang langsung menyentuh masyarakat. Dan ini sesuai dengan visi dari ATP yang bertujuan menerapkan teknologi di daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat”, ujar Djarot.

Acara dilanjutkan dengan rapat teknis tim pengelola ATP yang dipimpin langsung oleh Kepala Bappeda Kabupaten Musi Rawas, Ir. H. Suharto Patih, MM. Dalam diskusi tersebut disampaikan prospek inkubator oleh peneliti bidang peternakan PAIR BATAN, Ir. Firsoni dan kajian studi kelayakan untuk kegiatan akselerasi pemanfaatan program BATAN oleh Kepala Sub Bidang Manajemen Inovasi PDK BATAN, Wibowo, S.si.

Di dalam agenda pembangunan strategis, RPJMN 2015-2019, Presiden Joko Widodo menetapkan target “Membangun sejumlah Science dan Techno Park di daerah, politeknik, dan SMK-SMK dengan prasarana dan sarana dengan teknologi terkini”. Sebagai perwujudannya, maka ditetapkan target untuk membangun 100 Science Techno Park (STP) di seluruh Indonesia. Pembangunan tersebut dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kesejahteraan (PMK) untuk dilaksanakan oleh tujuh Kementerian/Lembaga (K/L) yang terkait, antara lain: Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti), Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Kelautan dan Perikanan (Kemen KP), Kementerian Perindustrian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

Peresmian kantor ATP Musi Rawas. (foto:@yudh1t)

Science Techno Park
 (STP) didefinisikan sebagai sebuah kawasan yang dikelola secara professional bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya melalui penciptaan dan peningkatan ekosistem yang mendukung inovasi untuk peningkatan daya saing dari industri-industri dan institusi-institusi yang berada naungannya. Tujuan pembangunan STP adalah untuk merangsang dan mengelola arus pengetahuan dan teknologi di universitas, lembaga litbang, dan industri yang berada di lingkungannya; memfasilitasi penciptaan dan pertumbuhan perusahaan berbasis inovasi melalui inkubasi bisnis dan proses spin-off, dan menyediakan layanan peningkatan nilai tambah lainnya, melalui penyediaan ruang dan fasilitas berkualitas tinggi pendukung.

Dalam rangka mendukung program 100 STP tersebut, BATAN mengemban tugas membangun 4 STP yang berfokus pada diseminasi hasil penelitian di bidang pertanian dan peternakan. Penghargaan Outstanding Achievement Award di bidang pemuliaan tanaman dari IAEA-FAO pada tahun 2014 menjadi alasan mengapa bidang pertanian dan peternakan yang dibangun dalam program STP BATAN. Selain itu, produk-produk BATAN di bidang pertanian dan peternakan dinilai mampu menjadi teknologi yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat dan dapat menjadi ajang sosialisasi yang tepat bahwa teknologi nuklir tidak melulu berkaitan dengan PLTN maupun bom nuklir.

Adapun perwujudan STP tersebut berbentuk satu National Science Techno Park (NSTP) dan tiga Agro Techno Park (ATP). NSTP berlokasi di Kawasan Nuklir Pasar Jumat (KNPJ) Jakarta, sementara itu ATP dibangun di tiga kabupaten, yaitu di Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Polewali Mandar, dan Kabupaten Klaten.

Secara teori, NSTP diproyeksikan menjadi pusat pengembangan sains dan teknologi pertanian maju serta pusat penumbuhan wirausaha baru di bidang teknologi maju dan pusat layanan teknologi maju ke masyarakat. Kendala yang dihadapi dalam pembangunan NSTP yang paling utama adalah semakin menuanya umur fasilitas nuklir yang dimiliki BATAN. Oleh karena itu, revitalisasi fasilitas nuklir menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar. Pada tahun 2015-2016, BATAN telah merevitalisasi sebanyak 13 fasilitas laboratorium pertanian, kimia, biologi, hidrologi, kebun percobaan, green house, dan irradiator. Selain itu, peremajaan peralatan laboratorium dan pendukung telah dilakukan secara bertahap. Dengan revitalisasi fasilitas nuklir dan peralatan pendukungnya diharapkan dapat menciptakan interaksi dan kolaborasi antara penghasil teknologi dan pengguna iptek.

ATP memiliki peran layaknya inkubator teknologi atas produk litbangyasa yang dihasilkan NSTP. Selain itu, ATP berfungsi sebagai tempat pelatihan, pemagangan, pusat diseminasi teknologi, dan pusat advokasi bisnis ke masyarakat luas. ATP ini diproyeksikan menjadi badan usaha yang mandiri dan memberikan kontribusi peningkatan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.

Dengan 3 (tiga) lokasi berbeda pulau (Sumatera, Jawa, dan Sulawesi) ternyata permasalahan yang dihadapi tidak jauh berbeda. Kecenderungan alih fungsi tanah lahan pertanian menjadi lahan yang digunakan untuk non pertanian menjadi masalah yang serupa di ketiga lokasi ATP. Kerjasama dengan Bappeda dan Dinas terkait menjadi prioritas agar perencanaan daerah yang terukur dapat membantu terlaksananya program ini dengan menyiapkan lahan pertanian yang diperlukan beserta perangkat daerah lainnya. Permasalahan umum lainnya adalah rendahnya sikap kewirausahaan dari pelaku usaha. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan terkait kewirausahaan agar setelah program ini selesai di tahun 2019, roda ekonomi ATP masing-masing daerah dapat terus berputar. Pada tahun 2015-2016, program pelatihan kewirausahaan dilaksanakan di masing-masing daerah dengan partisipan sebanyak 150 orang. Tahun 2017 juga ditargetkan setiap ATP memiliki satu produsen benih BATAN.

Terkait dengan hal tersebut, ATP Musi Rawas telah memiliki calon produsen benih BATAN yaitu Bapak Martono. Beliau memiliki jaringan luas dengan petani penangkar di wilayah Musi Rawas, sehingga diharapkan dapat mengakselerasi pencapaian target yang sudah ditetapkan.

Dalam pengembangannya, telah disusun strategi yang meliputi aspek-aspek tertentu, yaitu :
  1. Aspek ekonomi, strategi ini berfokus pada peningkatan pendapatan masyarakat khususnya petani dan peternak. Hal tersebut dilakukan dengan cara intensifikasi, eksetensifikasi, dan diversifikasi produk pertanian dan peternakan.
  2. Aspek infrastruktur, pembangunan fasilitas dibagi dalam tiga zona yaitu utama, penunjang, dan pelayanan.
  3. Aspek sumber daya manusia, peningkatan kemampuan SDM dilakukan dengan cara penyuluhan dan pendampingan baik secara teknis maupun manajerial.
  4. Aspek kelembagaan, peran kelompok tani akan dimaksimalkan sebagai mediator antara petani dengan ATP, pemerintah, maupun pihak lain. Soliditas kelompok tani akan memberikan posisi tawar yang besar dalam hubungannya dengan pihak lain sehingga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada petani.
  5. Aspek pembiayaan, strategi pembiayaan saat ini dilakukan oleh BATAN bekerja sama dengan Pemerintah daerah dalam bentuk cost sharing.
  6. Aspek teknologi, penerapan teknologi pertanian secara terpadu akan dilakukan secara berkelanjutan agar mencapai zero waste dalam aktivitas pertanian dan peternakan.

Semua pihak tentu berharap pembangunan STP yang diemban oleh BATAN dalam bentuk NSTP dan ATP dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan blue print yang telah ditetapkan. Dengan semua indikator kinerja dari masing-masing aspek, pada akhirnya keberhasilan dan keberlanjutan NSTP dan ATP diharapkan akan berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Daftar Pustaka : Blue Print NSTP Dan ATP BATAN

25 Februari 2014

Peluang Selalu Ada

Bicara soal peluang Anies Baswedan menjadi Presiden itu memang agak rumit. Ia bukanlah Prabowo Subianto yang berhasil membesarkan Gerindra menjadi salah satu kekuatan politik, meski belum dominan, tapi cukup diperhitungkan. Anies Baswedan meniti karir di bidang pendidikan dan berada jauh dari hingar bingar dunia politik. 


Untuk menjadi Presiden, Anies Baswedan mesti memenangkan persaingan di konvensi Partai Demokrat. Jika pun menang, ia tak otomatis menjadi Capres karena keputusan sepenuhnya ada di Majelis Tinggi PD. Bisa saja Majelis Tinggi PD membatalkan keputusan hasil konvensinya. Oke, kita asumsikan Anies Baswedan menang konvensi dan dicalonkan secara resmi oleh PD. Langkah selanjutnya pun masih belum pasti, hal ini terkait dengan perolehan suara PD. Jika PD mampu menjadi partai dengan perolehan suara signifikan, bisa jadi langkahnya lebih mudah. Namun, lain halnya jika ternyata perolehan suara PD tak lebih dari 10% suara nasional, PD bisa jadi tak bisa menentukan Capres pilihannya karena harus tarik menarik kepentingan dalam koalisi yang nanti terbentuk. Rumit kan?

Ketika ditanya soal peluangnya, Anies Baswedan menjawab seperti ini: 

Saya bedakan antara Kalah dan Menyerah. Memang belum tentu bisa menang, bisa jadi saya kalah, itu resikonya. Tapi saya tidak menyerah dan tinggal diam.

Segala hal yang kita lakukan pasti hanya akan berujung pada dua hasil : sukses atau gagal. Itu lumrah dan semua orang tahu itu. Tapi apakah setiap orang yang tahu itu menyerah sebelum berjuang? Bukankah orang tua kita bilang, "kalau ada niat pasti ada jalan"? Dan Tuhan jelas tak pernah tidur, Ia pasti melihat ikhtiar yang dilakukan oleh hamba-Nya. 

Jadi, ketika kita tidak tahu usaha kita akan sukses atau gagal, kita hanya perlu menanamkan satu hal: KEYAKINAN. Keyakinan bahwa kita sedang memperjuangkan sesuatu yang benar dan keyakinan bahwa tujuan kita akan tercapai. 


Keyakinan ini penting dan perlu terus dipupuk agar semangat kita terpompa dalam melakukan usaha untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Usaha itu harus terus disuarakan dalam bentuk ajakan untuk memilih Anies Baswedan karena memang begitulah aturannya, siapa yang paling banyak dipilih dialah yang menang. Nah, seberapa besar peluang ajakan kita akan digubris tentu itu tergantung dari cara kita mengajaknya, tetapi ada hitung-hitungan teoritis yang bisa dijadikan semacam gambaran seberapa besar harapan kita.

Pada tahun 2005, saat dalam keadaan menganggur karena baru lulus kuliah, saya pernah diajak seorang teman untuk mengikuti acara seminar tentang dunia kerja. Saya mengiyakan dan ikut hadir di acara tersebut. Ternyata acara itu bukan seminar, melainkan semacam event promosi perusahaan MLM Tiens dengan skala yang cukup besar. Itu terlihat dari jumlah pesertanya yang saya perkirakan lebih dari 1000 orang.

Terus terang, saya tidak tertarik pada bisnis MLM, tetapi ada poin penting dari yang disampaikan salah satu pembicaranya. Inilah satu-satunya poin yang saya ingat sampai sekarang. Disampaikan oleh pembicara, bahwa dalam teori persuasif dikenal sebuah pola 1:1:8. Sederhananya begini, saat kita mengajak 10 orang, maka akan ada 1 orang yang pasti ikut, 1 orang yang pasti menolak, dan 8 orang yang masih belum memutuskan ikut atau menolak.

Begitulah peluang kita dalam mengajak orang untuk memilih Anies Baswedan menjadi Presiden. Tak perlu kita fokus pada 1 orang kedua, tapi fokuslah menjaga 1 orang pertama dan memelihara peluang 8 orang ketiga.


Sekarang, mari lupakan segala kerumitan hitung-hitungan politisnya. Mari kita berusaha dan berusaha karena peluang selalu ada. Sepertinya hanya satu hal yang tak pernah diciptakan Tuhan : kemustahilan. 

23 Februari 2014

Nigel Gan

Malam kemarin (22/2) saya sempat disapa oleh seseorang melalui facebook messenger. Ia memuji anak saya setelah saya memposting foto anak saya yang sedang membuka-buka buku. Sebenarnya, anak saya belum bisa membaca, ia baru 3 tahun pada 1 januari lalu. Saya sengaja memotretnya dan memberi kesan kalau ia sedang membacanya. Saya merasa itu momen yang bagus untuk diabadikan. Buku yang ia buka itulah hasil tulisan orang yang menyapa saya, Nigel Gan namanya.


Saya tidak tahu apakah Nigel Gan itu nama aslinya atau bukan. Ia orang Singapura. Saya mengenalnya melalui facebook karena kami memiliki satu kesamaan, kami adalah Laziale. Bagi yang kurang tahu sepak bola, Laziale itu bahasa italia yang berarti pendukung klub sepak bola SS Lazio.

Obrolan kami berlanjut tentang perjalanan dia ke kota Roma beberapa hari sebelumnya. FYI, sejak 2011, setiap tahun ia berangkat ke kota Roma, stadion Olimpico tepatnya, untuk menyaksikan Derby Della Capitale (DDC). DDC itu artinya pertandingan antara dua tim kota Roma, SS Lazio lawan AS Roma. Nigel selalu berangkat ke Roma sendiri sambil membawa banner yang bertuliskan "Da Singapore 10.000 KM Per Te" yang berarti "Dari Singapura 10.000 KM Untukmu".


Lantas saya bertanya, berapa biaya yang diperlukan untuk berangkat ke Roma dan pulang kembali ke Singapura. Ia menjawab sekitar $3.000USD. Sebuah harga yang sebenarnya wajar, tapi saya bereaksi seperti orang tidak percaya karena sadar bahwa itu harga yang sangat mahal untuk diri saya pribadi.
Sekitar pertengahan tahun 2013, Nigel menerbitkan buku yang memaparkan pengalamannya berangkat ke Roma dan deskripsi-deskripsi yang menjelaskan betapa besar cintanya kepada SS Lazio. Terus terang, pertama kali memutuskan membeli buku itu agak ragu juga bakal selesai dibaca atau tidak karena bahasa yang digunakannya bahasa inggris. Tapi ternyata penggunaan bahasa inggrisnya mudah dipahami sehingga tamat juga akhirnya.


Dari buku itu, saya menilai sosok Nigel sebagai penulis profesional karena alur tulisannya terasa nyaman dibaca sehingga memberikan kesan bahwa Nigel adalah penulis yang berpengalaman. Penilaian saya itu akhirnya terungkap kesalahannya. Kemarin malam saya sampai pada pertanyaan soal pekerjaan Nigel. Dia menjawab, "Security guard".

Saya mengerti arti harfiah dari 'Security guard'. Tentu saja artinya Satpam. Tapi karena membayangkan sudah 4 kali Nigel berangkat ke Roma, saya bersikeras menyangkal arti yang saya pahami. Menurut saya, pekerjaan satpam, terutama di Indonesia, bukanlah pekerjaan yang bisa membuat orang berangkat ke Roma 4 kali berturut-turut setiap tahun.

Kemudian saya bersikap seolah tak mengerti dan berharap ada arti lain dari arti yang saya pahami. Nigel akhirnya menjelaskan bahwa profesinya itu ya memang satpam. Akhirnya pula, saya menyerah karena penyangkalan saya salah.

Satu hal yang bisa saya simpulkan dari perbincangan itu adalah bahwa sebagai negara, Indonesia telah kalah jauh, benar-benar jauh, dari Singapura. Singapura, sebuah negara pulau yang sangat kecil, yang bahkan tak punya bahasa ibu, mampu memberikan kesejahteraan secara finansial kepada warga negaranya. Bukan hanya soal finansial, tapi coba renungkan, seorang satpam memiliki kemampuan menulis yang luar biasa baik. Bagi saya, itu adalah prestasi sebuah negara.

Hal lain yang menarik adalah reaksi Nigel menanggapi reaksi saya. Ia bilang, "Imposible is nothing. I don't earn a lot too, but I saved up."
Wow....

Menggenjot Popularitas Anies Baswedan

Saat ini, rasanya cuma popularitas yang kurang dari sosok Anies Baswedan. Di kalangan akademisi tentu saja ia adalah sosok yang sangat populer, tetapi di kalangan masyarakat umum boleh jadi Farhat Abbas jauh lebih populer. Soal popularitas inilah yang sepertinya harus benar-benar digenjot oleh Anies Baswedan dan para relawannya. 

Ada anggapan bahwa popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan elektabilitas. Popularitas hanya sebuah indikator seberapa banyak sosok seseorang dikenal oleh rakyat, sedangkan elektabilitas lebih berbobot, dalam hal pemilu, karena merupakan indikator seberapa banyak sosok seseorang akan dipilih oleh rakyat. Profil Anies Baswedan yang besar di lingkungan pendidikan tentu kumandangnya tak seluas jika dibandingkan dengan seseorang yang besar di dunia politik atau selebritis, misalnya.

http://kreavi.com/data/user-project/3937-603a7cc07f-kreavi.jpg

Kembali ke soal popularitas dan elektabilitas, sebenarnya yang dibutuhkan oleh Anies Baswedan adalah popularitas, karena bagi seseorang dengan rekam jejak sebaik beliau, anggapan bahwa popularitas tak sejalan dengan elektabilitas bisa dipatahkan. Konklusinya begini, semakin populer Anies Baswedan, maka semakin besar pula elektabilitasnya. Alasannya tentu saja rekam jejak yang sangat baik. Sehingga ketika rakyat tahu siapa Anies Baswedan maka mereka akan memilihnya sebagai pemimpin. Rakyat tentunya sangat ingin dipimpin oleh seseorang yang memiliki rekam jejak yang bersih, berintegritas, mampu berpikir global sekaligus memiliki kearifan lokal yang tinggi dan memiliki dedikasi yang besar pada apa yang diperjuangkannya.

Nah, untuk menjadi populer ini, Anies Baswedan sama sekali tak mau mengekor Aburizal Bakrie atau Prabowo Subianto yang begitu genjar dengan biaya besar mengiklankan diri melalui media massa dengan jangkauan nasional. Anies Baswedan cukup cerdas untuk mengerti bahwa biaya politik yang tinggi pasti akan melahirkan pemimpin yang korup, itu alamiah. Oleh karena itu, ia melakukan sebuah gerakan yang disebut Turun Tangan. Ini adalah sebuah gerakan massa yang bersifat sukarela, yang tujuan jangka pendeknya, mempopulerkan sosok Anies Baswedan menjadi sosok yang dikenal rakyat Indonesia dengan pembiayaan seminimal mungkin. Bagaimana itu bisa berhasil? Pembuktian keberhasilan itu memang belum terlihat, tetapi arahnya menuju ke sana. Contohnya tulisan yang sedang anda baca sekarang ini. Saya tidak dibayar sama sekali untuk menuliskan ini, bahkan penggunaan fasilitas untuk menulis pun merupakan properti pribadi. Kenapa saya mau? Karena saya relawan.

Kemampuan menggerakan inilah yang harus dimiliki oleh pemimpin dan itu ada pada Anies Baswedan. Terkait dengan popularitas Anies yang tak sebagus Jokowi, Ruhut Sitompul pernah mengalihkan isu dengan berkata bahwa Jokowi itu bekerja sendiri, tapi Anies Baswedan mampu menginspirasi orang untuk melakukan sesuatu. Saya bukan fans dari Ruhut, tapi saya setuju dengan ucapannya. Tanpa memiliki kekuasaan (pemerintahan) pun Anies Baswedan mampu menggerakkan orang melakukan sesuatu yang baik (contoh Indonesia Mengajar), apalagi jika ia nanti diberi kekuasaan, tentu dampaknya bisa lebih besar lagi.

Saya bukan orang yang kontra dengan Jokowi. Prestasi Jokowi pantas diapresiasi. Tetapi Anies Baswedan dan Jokowi akan lebih baik bersinergi daripada berkompetisi. Lagipula, Jokowi masih punya utang pada warga Jakarta yang memilihnya. Pencapresannya hanya akan menunjukan betapa pragmatisnya PDIP.

Sekali lagi, Anies Baswedan perlu untuk populer. Ia perlu dikenal atas prestasinya. Visi, misi, dan program kerjanya perlu diinformasikan. Publik harus diberitahu pencalonannya sebagai Presiden RI 2014-2019. 

Saya mendukungnya. Saya menugaskan diri saya untuk membuat Anies Baswedan populer dan saya akan melakukannya dengan segala yang saya bisa. 

20 Desember 2012

Taman Hati

15 Agustus 2012

Pasrah


Kucoba menata hatiku tuk menerimamu kembali di celahku
Tak sedikit keluh tak terucap berhambur genangi hati yang kaku
Cobalah kau hentikan kehilanganku
Karena tak sedikit yang pergi dariku

Kuingat labuhan yang pernah kita singgahi
Menikmati derasnya aliran keindahan
Menantang keruhnya palung keharuan
Tetapi, ingatkah perih yang pernah kau tinggal ?
Aku tak ingin mengungkapnya
Tetapi tak sanggup kutahan menghadirkannya

Saat ini, hanya janjimu tempatku bersandar
Meski kabut keraguan mengepung dan menyebar

Hanya satu yang terngiang di resahku
Masihkah kau selalu berubah ?
Atau justru kau terlalu berubah ?

Dan tahukah kau ?
Tak banyak yang bisa kulakukan
Karena terlalu banyak yang telah kau lakukan



21 Desember 2004 

26 Juli 2012

DIPONEGORO (Seri Chairil Anwar)


Pernah suatu kali Sjamsulridwan berkunjung ke rumah. Kala itu badanku penuh luka gara-gara menerabas pagar tanaman rumah orang pada waktu balapan sepeda dengan Eros. Ban sepedaku yang agak gundul tak mampu mencengkeram tanah saat menikungnya dari luar. Alhasil aku kalah, sakit pula.

Sjam, begitu aku menyebutnya, melihat keadaanku, ia terbahak-bahak sampai guling-guling. Hampir aku menghajarnya kalau saja ia tak segera minta maaf. Sungguh tak sopan!!

Waktu itu Sjam pamerkan sesuatu padaku. Sebuah keris. Dia bilang, pamannya yang merantau ke Jawa baru saja pulang kampung dan membawa oleh-oleh yang macamnya beragam. Ia pamerkan keris itu dan bilang, “Kau tahu? Keris ini punya Pangeran Diponegoro. Pusaka ini benda, Ril.”

Aku coba tak begitu hiraukan kesombongannya karena aku tertarik dengan benda yang katanya pusaka itu. Keris itu ku minta dari tangan Sjam, ia menolak sambil berlagak dengan gaya tak jelas. Akhirnya kurebut juga keris itu. “Ah, berat juga ini keris, Sjam!”

“Sudah kubilang itu benda pusaka. Begitu saja sudah kau bilang berat.” Sjamsulridwan menyeringai. “Kau tahu? Pangeran Diponegoro gunakan ini buat perang lawan kompeni. Lima tahun kompeni kewalahan. Padahal, kompeni itu punya lebih dari dua puluh ribu serdadu. Hebat nian bukan?”

Lantas, Sjam makin menjadi. Ia seolah terbakar dalam gelora. Ia bercerita tentang Pangeran Diponegoro dengan lagak sok tahu sambil teriak-teriak. Ia katakan ini, ia katakan itu seolah dia kenal dengan sang pangeran. Sebal aku melihat tingkahnya, tapi isi ceritanya seakan menggedor-gedor jantungku. Semangat pantang menyerah sang pangeran bagaikan luapan air bah yang membuncah berhamburan tanpa henti. Tak pernah gentar meski lawan banyaknya ratusan kali.

“Binasa lebih luhur daripada hidup menghamba dan ditindas.” Sjam berdiri sambil bertingkah seperti seorang guru yang mengajari muridnya. “Itu prinsip sang pangeran. Mengerti kau Chairil Anwar?”

Menjelang akhir cerita, Sjam menjadi lembut. Ia tak lagi teriak-teriak. “Setelah sempat dibuang ke Menado, akhirnya, Makassar jadi tempat pengasingannya di penghujung hidup. Di balik kesunyian penjara Fort Rotterdam yang dingin, sang pangeran menyerah pada nasib. Mati.”

“Aku tak mau sok tahu sepertimu Sjam, tapi tidak mau kah kau mempertimbangkan bahwa sang pangeran mungkin tak menderita dibalik dinginnya Fort Rotterdam? Bisa jadi ia malah terbakar kebanggaan atas apa yang dilakukannya. Mati cuma tahap yang harus terjadi bukan? Sang pangeran tetap akan mati walau tak di penjara. Kita semua pun pasti mati. Itu pasti!” Entah apa yang merasukiku sampai-sampai aku bisa mengungkapkan kalimat-kalimat tadi. Sejujurnya, justru akulah yang terbakar kebanggan akan hadirnya sosok sang pangeran di bagian lain negeri ini.

“Mati hanyalah mati, Sjam. Yang penting kita berarti, begitu bukan Sjamsulridwan?” lanjutku mantap.

***

Hari ini sudah hampir setahun Belanda pergi. Jepang yang awalnya memberikan hembusan angin sorga, ternyata tak lain dari Belanda. Bahkan lebih sinting!! Aku dengar orang-orang Jawa tersiksa lebih sadis. Tanah dirampas dan mereka dipaksa bertani tanpa bayaran.

Hari ini aku berharap luapan semangat sang pangeran dapat kurasakan lagi. Di sini.


DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.

Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.

Februari 1943

21 Juli 2012

NISAN (Seri Chairil Anwar)



Nisan itu masih basah saat aku melangkah meninggalkannya. Setelah terus-terusan berurai air mata, kali ini wajahku terasa agak ringan.

Kilasan-kilasan semasa nenek masih ada membuat bibirku melengkungkan senyum. Satu hal yang paling ku ingat ada pada waktu nenek meneriakkan, “Satu ekor ayam panggang ini untuk Chairil.”. Girang bukan kepalang hatiku. Lain lagi dengan kakakku, Ani, yang cuma mendapat sepotong saja.

Sesampainya di rumah, wajah itu berubah lagi. Meski tak ada air mata, tetapi suasana keharuan rumah membuat hatiku perih. Terbayang saat nenek tergolek lemah di kursi teras. “Aku tak mau mati di tempat tidur!!” itu kata nenek saat hari menjelang siang. Terang saja, seisi rumah syok. Apa pun kata-kata untuk membuainya tetap tak menggerakkan hatinya untuk berubah. Akhirnya kami membopongnya ke teras.

Sejak saat itu, aku mulai berpikir. Berpikir tentang hidup dan mati. Pernah aku dengar bahwa hidup di dunia adalah persiapan untuk menghadapi hidup yang kekal di akhirat. Tapi kenapa hidup kekal itu harus di akhirat? Kalau memang aturannya begitu, kenapa tidak kita dilahirkan saja di akhirat, supaya tidak ada kematian yang memilukan hati dan jiwa?

Kehidupan dunia—bagiku—hanya permainan bagi manusia yang diciptakan Tuhan. Entah untuk apa aku tak mengerti. Manusia dilahirkan, lalu tumbuh besar, mengalami sakit, ada yang dapat prestasi, ada yang punya banyak teman, ada yang tidak punya teman sama sekali, ada yang suka menyiksa batin dan jiwa orang lain, ada yang terseret-seret waktu dalam kecacatan, dan masih banyak lagi yang aku pun tak tahu.

“Tuhan punya kuasa atas hidup dan mati, anakku.” Begitu tandas ayah saat aku menangis tersedu. “Berat memang. Dan hanya keridlaan yang membuatnya lebih terasa lebih ringan.”

“Tuhan yang maha tinggi punya kuasa atas segalanya. Bahkan debu sekalipun tak luput dari kuasanya.”. Kali ini ibu angkat pendapat menasihatiku.

Lantas, saat kematian datang, haruskan hanya kita—manusia—yang merasakan duka? Apa yang dilakukan Tuhan saat itu terjadi? Apakah Tuhan ikut berduka atau malah tertawa seiring berlangsungnya permainan yang Dia ciptakan?

Kali ini ayah dan ibu terdiam cukup lama. Bukan cukup lama, tapi sangat lama.



Nisan

Untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta

Oktober 1942

30 Januari 2012

Kukuh


Dia begitu kukuh.
Seperti sauh.
Hati yang lain dikayuh menjauh
Tapi hatinya tetap tanpa keluh

Jiwanya tak pernah runtuh.
Selalu utuh.
Mimpi yang lain tercemari keruh.
Tapi mimpinya tetap tak tersentuh.

Cinta oh cinta
Apa yang coba kau cipta
Ketika kata tak sekedar kata.
Ketika cahaya lebih dari pelita.
Dan ketika kisah tak hanya cerita. 

Cinta dan cinta
Lihatlah dunia nyata
Ada janji hanya sekedar kata
Ada suara bisikan terbata-bata
Dan ada kabar yang menyalahi fakta

Tapi dia tetap kukuh
Mimpinya tak terbunuh
Karena mencintai itu tanpa keluh
Meski tak semua dapat direngkuh
Dan yang ia mau hanyalah itu

*Didedikasikan buat semua Laziale

No Saint


Sometimes people hide in their own pride to camouflage the worst card.

Day by day we push away everything that interrupt what we say.

Continuously, we act swallowing a candy even though it tastes like chili.

Sounds insane, but my friend, obviously none of us are saint.


Negeri Potensi


"Sumpah demi apapun,
negeri ini penuh potensi"


Negeri ini penuh potensi untuk berjaya dan bertaji
Tapi, sayang itu belum juga terjadi
Karena setiap yang terbaik ingin ke luar negeri
Demi gaji atau sekedar gengsi

Di sana mereka berserakan
Tapi tentu tak bisa disalahkan
Karena semua juga mencari makan
Kawan, silakan direnungkanApa yang tersisa dan seberapa kita kehilangan


Mereka dibeli dengan harga tinggi
Difasilitasi
Diakuisisi dengan pasti
Jika yang terbaik pergi, lantas siapa yang berbuat untuk negeri?

Esemka, contohnya, kini berjaya bahkan mungkin dipuja
Tapi apa kita punya daya saat para kreatornya nanti diberi harta, diberi kenikmatan tiada tara untuk bekerja membuat negeri lain jaya?

Negeri ini penuh potensi
Sumpah demi apapun, negeri ini penuh potensi
Dan semoga itu lebih berarti dari sekedar potensi

Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150553062144718




21 Desember 2010

Soe Hok Gie, Sang Legenda Yang Mempertanyakan Perannya

Soe Hok Gie adalah legenda. Terlahir pada 17 Desember 1942 dan meninggal pada 16 Desember 1969, Gie banyak membuat tulisan kritis terhadap fenomena kebangsaan, kemahasiswaan, dan kemanusiaan. Sebagian tulisannya dipublikasikan di media massa nasional atau sekedar forum kemahasiswaan.


Untuk memperingati momen kelahiran dan kematiannya, saya ketik ulang tulisannya yang sangat tajam mengkritisi kecenderungan pemikiran manusia. Tulisan ini saya kutip langsung (tanpa ada penambahan ataupun pengurangan konten, bahkan tanda baca sekalipun) dari buku kumpulan tulisan-tulisan Gie yang berjudul “Zaman Peralihan”. Tulisan ini berjudul “Siapakah Saya?”, bersumber dari dokumentasi sang kakak Dr. Arief Budiman tanpa pernah dipublikasikan di media massa sebelumnya.


Selamat menikmati dan selamat berefleksi…



Siapakah Saya?


Belum lama berselang di hadapan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Sastra UI telah diputar sebuah film Cekoslovakia: “…Dan Penunggang Kuda Kelima Adalah Ketakutan” (“….And The Fifth Rider Is Fear”). Film ini adalah kisah tentang manusia dan ketakutannya lalu bagaimana ia menemukan dirinya dan mengalahkan ketakutan. Musik pengambilan tema maupun suasana film ini sedemikian rupa sehingga mencekam hati manusia.


Kisahnya tentang seorang dokter Yahudi yang dilarang oleh Nazi di kota pendudukan Praha pada waktu Perang Dunia II. Oleh orang-orang Nazi, ia disuruh untuk menjadi penjaga barang-barang sitaan. Suatu hari, ia disuruh untuk menolong seorang partisan yang tertembak dan disembunyikan dekat kamarnya. Ia menolak karena mengetahui apa akibatnya jika ia ketahuan oleh pihak polisi rahasia.

“Saya bukan seorang dokter, saya hanyalah seorang penjaga gudang dan oleh karena itu bukanlah kewajiban saya untuk menolongnya,” katanya. Tapi ia tidak dapat membohongi kata hatinya, bahwa ia seorang dokter (walaupun sekarang dilarang praktik) dan harus menolong siapapun juga. Akhirnya setelah melawan dirinya sendiri, ia memutuskan untuk menolong partisan yang luka itu.


Pada waktu itu seseorang dapat dihukum jika ia tidak melaporkan sesuatu yang mencurigakan. Seorang tetangganya yang curiga dengan tingkah laku sang dokter melaporkan pada polisi. Karena ia takut akibatnya jika tidak melaporkan pada polisi. Sang dokter ditangkap. Ia ditanya mengapa ia melakukan hal itu. Jawabnya sangat sederhana: “Seorang manusia adalah seperti yang dipikirkannya, kau tak dapat mengubahnya.” (A man is as he thinks you can’t change it)


*


Persoalan yang dilontarkan pada kita oleh film ini adalah persoalan kemanusiaan. Dan sebagai mausia kita dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang meragukan. Sebelum melakukan sesuatu kita harus menanyakan pada diri kita sendiri: “Siapakah saya?” Dan jawaban kita menentukan pilihan-pilihan kita. Sang dokter tadi harus menjawab pertanyaan besar ini. Jika menyatakan hanya seorang penjaga gudang (profesi resminya) maka soalnya selesai. Demikian pula halnya dengan tetangganya yang melaporkan pada polisi. Jika ia memutuskan ia hanyalah warga yang harus patuh pada polisi maka tindakannya adalah benar. Tetapi jika ia menyatakan dirinya adalah manusia Cekoslovakia yang harus membantu perjuangan bangsanya, soalnya sangat berubah. Kitalah yang menentukan diri kita dalam menentukan pilihan-pilihan.


“Ya, saya cuma bawahan kecil yang hanya menurut perintah atasan. Jika atasan saya bilang X maka saya harus patuh,” kata seorang pembantu letnan pada seorang dosen UI ketika ditanyakan mengapa ia mau melakukan perintah yang jelas-jelas merupakan tindakan manipulasi. Sang pembantu letnan tadi telah menentukan dirinya sebagai manusia kecil dan tidak pernah berkembang menjadi MANUSIA dengan M Besar.


Seorang jenderal membiarkan dirinya diperalat seorang pedagang besar (katakanlah diangkat sebagai presiden direktur boneka) biasanya berkata: “Gaji saya tidak cukup, dan anak saya banyak. Lagi pula teman-teman saya juga melakukan hal yang sama.” Ia juga telah menjawab siapakah dia. Dia telah menentukan dirinya seorang alat dan sebagai alat ia harus memfungsikan dirinya sebaik-baiknya. Sebagai alat ia tak akan pernah menjadi pemimpin yang baik.


Orang Indonesia sekarang amat mudah merasionalisasikan keadaan. Kepengecutannya dirasionalisasikan sebagai kepatuhan. Kemalasan dirasionalisasikan sebagai kesulitan ekonomi (ada seorang dosen malas yang selalu bilang tak ada ongkos jika ditanyakan mengapa ia tidak mengajar)


Kadang-kadang kita bertanya kepada diri kita sendiri “Siapakah saya?” Apakah saya seorang fungsionaris partai yang kebetulan menjadi mahasiswa sehingga harus patuh pada instruksi dari bapak-bapak saya dalam partai. Apakah saya seorang politikus yang harus selalu realistis dan bersedia menerima kompromi-kompromi prinsipiil dan tidak boleh punya idealisme yang muluk-muluk? Apakah saya seorang kecil yang harus patuh pada setiap keputusan dalam DPP ormas saya, atau pimpinan fakultas saya, atau pemimpin-pemimpin saya? Ataukah saya seorang manusia yang sedang belajar dalam kehidupan ini dan mencoba terus-menerus untuk berkembang dan menilai secara kritis segala situasi. Walaupun pengetahuan dan pengalaman saya terbatas?


Setiap hari pertanyaan tadi datang. Saya katakan pada diri saya sendiri. Saya adalah seorang mahasiswa. Sebagai mahasiswa saya tidak boleh mengingkari ujud saya. Sebagai pemuda yang masih belajar dan mempunyai banyak cita-cita, saya harus bertindak sesuai dengan ujud tadi.


Karena itu saya akan berani untuk berterus terang, walaupun ada kemungkinan saya akan salah tindak. Lebih baik bertindak keliru daripada tidak bertindak karena takut salah. Kalaupun saya jujur terhadap diri saya, saya yakin akhirnya saya akan menemukan arah yang tepat. Saya adalah seorang manusia dan bukan alat siapapun. Kebenaran tidaklah datang dalam bentuk instruksi dari siapapun juga, tetapi harus dihayati secara ‘kreatif’. A man is as he thinks.


*


KADANG saya bertanya pada kenalan-kenalan saya, “Siapakah kamu?” Seorang tokoh mahasiswa menjawab: “Saya adalah antek partai saya. Kebenaran ditentukan oleh DPP Partai.”


29 September 2010

fuck yourself, dont fuck others



Posting ini ditujukan kepada MUI dengan kekonyolannya yang beberapa waktu lalu mengeluarkan fatwa haram untuk rokok dengan beberapa pengecualian. Tak perlu jadi ulama untuk mengetahui rokok adalah HARAM MUTLAK!!!!

Selain itu, posting ini juga ditujukan kepada para perokok. Please fuck yourself, don't fuck others!!!!


26 Agustus 2010

hak asasi manusia

A : gapapa donk ngerokok. kan ini negara bebas. dan ngerokok itu kan hak asasi manusia.
B : ini bukan negara bebas, man. tapi negara hukum. dan kalo lu udah bisa ngisep semua asap rokok dari rokok yang lu sundut, silakan ngomong soal hak asasi manusia

08 April 2010

i can't fly but i can kick your ass

perubahan paling ekstrim apa yang kamu lakukan saat hidup mulai membosankan? memotong rambut dengan gaya baru? membuat tato di leher? atau mencoba narkoba? bagaimana kalau menjadi seorang pahlawan bertopeng? inilah plot utama yang diusung film adaptasi komik karya mark millar terbaru berjudul “kick ass”.

berbeda dengan film-film adaptasi komik lainnya, hak cipta film “kick ass” sudah terjual bahkan sebelum edisi perdana komiknya dirilis. fakta ini mencerminkan bagaimana menariknya kisah yang disuguhkan dalam komiknya bagi produser.

film yang di sutradarai matthew vaughn ini bermula saat seorang kutu buku, dave lizewski, merasa bosan dengan kehidupan yang dijalaninya. untuk itulah, ia mencoba meniru aksi dari komik-komik superhero yang sering ia baca. masalahnya adalah ia sama sekali tak punya kualitas menjadi seorang superhero!!! terang saja, aksi perdananya membuat dirinya babak belur. namun, aksi heroiknya (atau bodoh?) menjadi buah bibir ketika di dunia maya mencium keberadaannya. maka media massa pun mendapuknya sebagai pahlawan bertopeng berjuluk “kick ass”.

tanpa disadari, aksi heroiknya (idiot?) berbuah konsekuensi panjang, yaitu konfrontasi dengan organisasi mafia kelas kakap new york karena mengira kick ass membantai anak buahnya. tapi ada kabar baiknya, aksinya itu menginspirasi orang lain yang justru memiliki kekuatan super untuk mengikuti jejaknya.

“kick ass” bukanlah film berbujet besar seperti iron man 2 yang juga akan dirilis tahun ini. bahkan pada awalnya sang sutradara membiayai film itu secara independen dengan bantuan investor lain, salah satunya brad pitt. selain itu, pemeran karakter paling terkenal hanya ada nicholas cage (national treasure) dan mark strong yang menjadi antagonis dalam “sherlock holmes” yang rilis beberapa bulan lalu. sementara lainnya hanya aktor dan aktris pendatang baru. selain itu, special efek yang ditampilkan juga standar saja, tak ada yang begitu istimewa.

meski bukan film dengan bujet besar, tapi proyek ini menyedot banyak animo masyarakat karena para masyarakat (amerika) menyukai komiknya. satu hal lagi yang menarik dari film ini adalah pertama kalinya komik superhero terbitan baru diadaptasi menjadi film. karena terbitan baru, maka di dalamnya pun terdapat budaya populer masa kini seperti youtube, myspace, the dark knight, america’s next top model dan CSI.

komiknya sendiri cukup unik. guna memperkenalkan karyanya ini, komikus mark millar melakukan beberapa viral campaign antara lain dengan membuat video pendek seolah-olah rekaman candid saat kick ass sedang beraksi dan membuat akun myspace yang dikesankan dimiliki oleh karakter kick ass. sayangnya, komik ini baru beredar di amerika dan belum ada kabar akan terbit di indonesia.

jika dilihat secara satir, film ini bisa jadi merupakan sindiran bagi aparat berwenang. mereka yang memiliki wewenang dan kekuasaan mengatur masyarakat seringkali lupa dengan tugas yang diamanahkan pada mereka sehingga kejahatan tumbuh subur, bahkan tak sedikit dari aparat yang menjadi bagian dari kejahatan itu sendiri. maka tak heran jika orang biasa, yang tak diberi amanah, justru malah turun tangan berusaha menangani kekacauan yang ada.

jika sang sutradara setia pada komiknya, bukan tidak mungkin “kick ass” benar-benar menghajar film-film unggulan lain yang tayang musim panas tahun ini, terutama di wilayah amerika utara. karena biasanya sebuah film adaptasi akan sukses di pasaran jika setia pada sumbernya. sedangkan di luar amerika utara, film ini bisa saja sukses besar jika ditunjang dengan promosi yang gencar.

27 Maret 2010

malaikat pun jatuh cinta pada manusia

pernah dengar kisah film dengan plot seorang malaikat jatuh cinta kepada manusia? sebagian orang mungkin akan langsung berteriak “city of angel”. tapi mungkin tak banyak yang tahu bahwa tahun 1998 itu setidaknya ada dua film yang mengusung plot yang mirip. film yang pertama itu ‘city of angel’, sedangkan yang kedua adalah ‘meet joe black’.

film yang pertama disebut mungkin lebih populer karena plot cerita yang benar-benar fokus pada persoalan cinta dan promosi yang lebih besar. apalagi endingnya yang menyedihkan jelas memberi kesan di memori lebih lekat. sedangkan film yang kedua sepertinya memiliki tingkat popularitas di bawahnya.

di film ‘meet joe black’, faktor brad pitt mungkin menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi kaum hawa (dan sebagian kaum adam??). tapi sebenarnya, daya tarik paling besar ada di kisahnya itu sendiri. kisah itu disusun dalam sebuah naskah yang baik. seperti yang diketahui, naskah film yang baik seharusnya mampu menyusun sebuah plot cerita dalam balutan percakapan-percakapan cerdas dan logis. hal ini lah yang tergambar di film meet joe black.

plot bermula saat malaikat maut hendak mencabut nyawa seorang pengusaha telekomunikasi, william parrish. tetapi ada ketertarikan sang malaikat maut untuk melihat secara langsung bagaimana manusia menjalani kesehariannya. maka, sebelum mencabut nyawanya, ia membuat perjanjian dengan parrish. perjanjiannya adalah bahwa ia akan memberi parrish waktu lebih lama asalkan ia bersedia menjadi pemandunya di dunia.

plot cerita ini sedikit terganggu dengan adanya sub kisah romantis antaran joe (malaikat maut) dengan susan parrish (putri kedua william parrish). meski sebagian orang menganggapnya sebagai bumbu penyedap, tetapi ini sub kisah ini beresiko dianggap mencontek kisah di city of angel yang lebih dulu rilis. hanya saja, ending tak biasa dari sub kisah romantis cukup mengobati kekecewaan dan justru memberi makna tersendiri.

seperti yang diketahui, brad pitt memang tidak pernah sembarangan memilih film. ia selalu mencari karakter yang kuat dan kisah yang menggugah. lihat saja film fight club (1999), the curious case of benjamin button (2008), dan inglorious basterd (2009). begitu pula dengan film meet joe black ini. Secara implisit, kisah ini menunjukkan bagaimana menariknya menjadi manusia sampai-sampai seorang malaikat pun ingin merasakan keseharian manusia. lebih jauh lagi, film ini menunjukkan bahwa manusia itu beruntung menjadi manusia karena diberi kesempatan untuk memilih dan memutuskan (hal yang berbeda dengan malaikat dan mahluk lainnya). selain itu, digambarkan pula bagaimana fatalnya menjadi manusia jika memilih keputusan yang buruk.

secara keseluruhan, meski tak mendapatkan penghargaan di ajang mana pun, film ini layak ditonton. turun naik alur cerita pun terjaga dengan baik sehingga, meski berdurasi sekitar 3 jam, film ini tidak terasa membosankan. apalagi percakapan yang ada bisa dibilang cukup cerdas sehingga tidak terasa datar dan dangkal.

ada sedikit pikiran nakal, bagaimana yah jika posisi william parrish digantikan gayus tambunan atau nurdin halid? :D

26 Maret 2010

SURAT KEPADA SETAN (Monolog) – Putu Wijaya

Satu

HARI ini usiaku 60 tahun. Radio mengobral lagu-lagu kebangsaan sejak subuh buta. Tepat pukul sepuluh pagi di lapangan parkir ada upacara menaikkan sang saka merah putih. Anak-anak menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan mengharukan. Sementara rumah-rumah sederhana di sepanjang rel kereta api membuat sungai merah putih yang berliku panjang. Rakyat jelata berlomba naik pohon pinang. Ibu-ibu rumah tangga tarik tambang. Penyandang cacat bertanding voli duduk. Bapak-bapak main sepak bola dengan memakai daster. Gadis-gadis kecil berlomba menangkap belut.

Sementara di permukiman mewah orang-orang masih tidur mendengkur menikmati hari libur. Banyak yang tak mau mengibarkan bendera. Untuk apa, kata mereka. Apa kibaran bendera satu hari bisa mengubah kebrengsekan yang sudah berkerak puluhan tahun?

Aku sendiri kelaparan. Gusti Allah, kataku bersemedi, apalagi yang bisa aku ganyang sekarang. Mulutku asem, harus olah raga sebab perutku gembung kebanyakan angin. Aku harus mengunyah, kalau tidak makan badanku lemes. Kalau lemes bagaimana aku bisa jaim?

Tapi aku tidak mau asal kenyang, aku mau makan enak. Lebih lezat, lebih mahal dari yang dimakan oleh orang lain. Itu baru namanya nikmat. Jadi supaya puas, ukurannya bukan lagi jumlah, itu matematika kuno, sekarang harus nomor satu, pokoknya lebih dari orang lain baru uenak tenan. Karena itu, bukan hanya asal enak, ngapain. Mereknya yang lebih penting. Dan merek yang bisa dipercaya hanya yang datang dari mancanegara. Paling sedikit yang dibeli di Singapura. Segala yang impor itu jaminan mutu, buatan Indonesia alah lebih banyak menipu. Makanya korupsi penting, itu sudah profesi yang paling afdol untuk melipatgandakan rezeki. Harga proyek satu juta, bodo kalau ongkos bikinnya tidak bisa diteken jadi sepuluh perak, lainnya digerogoti. Jangan takut, rakyat sudah biasa ditipu semalam suntuk. Mereka malah ketagihan.

Maaf lagi-lagi aku ngelantur, maklum usia sudah uzur. Buat manusia, 60 tahun bagai mobil yang mau parkir, jalannya ekstra waspada supaya jangan kecebur kali atau digebuk polisi. Tapi buat negara, 60 tahun masih kenceng-kencengnya, bagai pengantin di malam pertama. Bisa tiga kali semalam. Maksudku tiga kali bangun, mungkin bisa empat lima kali. Ada yang mengaku sepuluh kali. Lho, jangan salah, terpaksa bangun karena masih ada saja tamu kasep yang mau kasih selamat.

Jadi bukan soal makan atau tidak, tapi mau makan apa hari ini, Pak, kataku mengadu pada bupati. Tapi cepat-cepat aku disuruh pergi menjumpai pak wali. Dari kantor wali kota aku dikirim ke gubernuran. Sebelum gubernur menyarankan datang ke presiden aku ingatkan bahwa presiden sedang repot mengurus perdamaian dengan GAM, jadi lebih baik Beliau saja yang berperan. Apa yang bisa aku makan, Bapak Gubernur?

Walah, ente ini bagaimana, Indonesia kaya-raya, makan saja kok repot, kata gubernur. Sikat saja itu orang-orang tua, para pengemis, penganggur, dan anak-anak tanggung yang kerjanya bikin kerusuhan, sekalian bikin bersih kota, daripada sweeping orang-orang asing atau rumah judi. Itu kan bisa mengurangi pendapatan abdi-abdi negara yang sudah susah-payah mengamankan Anda. Ayo!

Aku kaget. Lho, gubernur, bapak serius? Jangan berkata begitu. Masak terus terang mengakui abdi-abdi negara itu melindungi judi. Betul itu? Kalau didengar oleh wartawan, sekarang juga kursi bapak bisa dicopot! Mereka kan sekarang sudah garang. Dan, ingat, itu bukannya tanggung jawab bapak juga!

Hahaha, guberbur tertawa, aku hanya guyonan katanya sambil menepuk pantatku, maaf bahuku. Ini campur sari. Kalau serius terus kita bisa cepat mampus. Ngurus rakyat yang semuanya mau enak sendiri, itu makan hati. Kalau tidak hati-hati, aku bisa mati berdiri. Jadi terpaksa sedikit pakai komedi. So what gitu lho! Oke, jadi ente datang untuk cari makan?

Iya, Pak, apa lagi! Itu kan bagian tugas bapak sebagai pemimpin rakyat, bukan hanya urusan perut kami.

Tenang, itu gampang dik, katanya sambil menunjuk seribu orang TKI yang tidak jadi diekspor ke luar negeri sebagai pembantu karena "N.G.". Itu semua aja ambil. Habis kalau nggak mati, pulangnya babak belur semua seperti Nirmala Bonar. Yang selamat, dipereteli di bandara oleh calo-calo yang kejemnya ngaujubilah, lupa bahwa ibunya juga perempuan yang susah cari makan. Itu saja, kata gubernur, silakan ambil semuanya, habiskan biar nggak jadi makanan koran. Lho, iya kan? Koran itu lho, televisi apalagi, edhan sekarang. Makin rusuh beritanya, makin banyak iklannya, makin tinggi oplagnya, makin nomor satu rating-nya. Namanya juga cari makan.

Lho, bapak kok nyuruh saya makan orang? Itu kan kanibal, Pak. Memangnya saya ikan Arwana? Emangnya saya, Bapak?

Ya, itu terserah. Ini negeri demokrasi. Bapak kan hanya menunjukkan peluang, silakan berjuang. Mainkan saja bolanya yang sekarang siap ditendang, aku masih banyak urusan. Jadi mohon diizinkan pamit demi melanjutkan pekerjaan. Masak mentang-mentang pejabat tidak berhak liburan, itu kan perikemanusiaan!

Sebelum sempat dicegah, gubernur sudah kabur. Lalu seribu perempuan, calon-calon pembantu yang "enji" itu datang berlari menyerbu. Yaaaaaa! Ya, Tuhan, kalau hanya empat, masih bisa kuatasi, ini seribu! Dengan dua ribu tangan yang menggapai-gapai mau menggerayangi barangku, maaf, maksudku menggerayangi tubuhku, minta dilindungi, aku jadi keenakan maksudku kewalahan, lalu tak sadar aku berteriak supaya mereka jangan ngamuk.

Awasssssss! Jangan terlalu dekat, Mbak, Ibu, Dik, sayang, aku bisa koit. Malah nanti tidak bisa melihat! Mundur! Udah ah! Di situ saja, aku sudah tahu kok, jumlah kalian seribu, semuanya sudah kena tipu dan sekarang mau mengadu. Betul nggak? Betul!!!!! Jawab mereka seru. Tetapi terus terang aku belum tahu mesti ngapaian dengan semua kamu. Apa yang bisa beta lakukan. Kan daku manula yang sudah rongsokan, masak mau duel dengan seribu perempuan yang kelaparan, maksudku tidak punya pekerjaan. Bukan hanya pekerjaan, kami juga sudah tidak punya kehormatan!

Ya, Tuhan, jadi kalian semua sudah tidak perawan? Jeger, aku ditampar sampai mental. Seribu pasang mata melotot mau membakar mulutku yang sudah becek lepas kontrol.

Kehormatan dan kehormatan itu berbeda pak, teriak pemimpinnya. Ternyata bekas calonya juga. Yang satu kehormatan di atas perut, yang bernama harga diri. Itu sudah kikis habis karena terpaksa kami gadaikan, tapi tak sanggup menebus agar dikembalikan. Yang lain, kehormatan yang lokasinya di bawah perut ini, tapi itu hari ini tidak kita bicarakan. Kami hanya minta satu saja. Jangan cuma janji mau menyejahterakan, carikan kami pekerjaan buat makan! Tanpa makan bagaimana bisa bertahan? Edhan!

Lho, aku sendiri juga mau makan, jangan suruh aku mengurus nasib kalian.

Kalau bapak juga mau makan, itu namanya lempar batu sembunyi tangan, lalu siapa lagi yang bisa kami harapkan?

Yang lain-lain! Kan banyak. Itu lho para konglomerat!

Ah, mana sempat! Semuanya juga mengaku melarat!

Kalau begitu lapor para wakil rakyat!"

Apalagi wakil rakyat! Mereka sedang baku hantam untuk melindungi rakyat!

Lha, kamu kan rakyat?

Bukan!

Ah, bukan? Lalu kamu siapa?

Kami perempuan. Perempuan bukan rakyat karena dianggap tidak masuk hitungan! Ya, kami selalu dikorbankan! Makanya kami selalu menuntut persamaan! Kalau terus-terusan cuci-tangan tidak mau menghiraukan, kami akan turun tangan!

Tiba-tiba, semuanya membuka pakaian. Waduh, aku penggemar gambar porno dan suka nonton penari strip yang sekarang mulai disuguhkan di kafe. Tapi seribu orang, amit-amit. Apalagi setelah telanjang bulat semua, mereka berlari datang menyerbu. Satu orang, empat orang, aku masih kuat ladeni, tapi ciloko seribu orang, lebih baik aku kabur. Tapi ngibrit ke mana lagi, sekelilingku sudah dikepung, aku akan habis terganyang dalam ronde pertama. Akhirnya aku meloncat keluar, yaak, dan terbangun dari mimpi.

Ya Tuhan, puji syukur, untung Kau ciptakan alam kesadaran, untuk menyelamatkan diri kalau sudah tidak ketulungan. Aku terbangun dari mimpi buruk. Alhamdulillah. Tapi aduh masih ada dua yang katut, sanggulnya tersangkut sepatuku lalu ikut tersembul keluar sambil memegang kakiku. Jangan pegang ini bukan punya kamu. Tapi dia menggigit, aduh pangeran, enak-enak geli tapi aku tidak mau ditarik kembali ke alam mimpi, lalu aku sentakkan. Jangan ditarik, nanti pedot, di mana cari serepnya nggak ada yang jual, aduh, aduh, aduh, aduh jadi melar ini. Isin aku! Aku terpaksa menarik dan menyentakkan, yaaaaaak! Dan berhasil? Beres! Tapi nanti dulu, celanaku merosot, celana dalamku ikut melorot mereka tarik. Aku jadi pindang, bebas tanpa hambatan! Aku berteriak dan mencoba menutupi auratku yang bebas hambatan. Tolonggggggg!

Tiba-tiba aku terkejut. Ternyata, ternyata, maaf nyuwun ngampuro, I am so sorry, tidak ada kata lain yang bisa menggantikan ucapan ini, kemaluanku sudah hilang. Kok bisa hilang, ya? Hilang bang, hilang. Padahal tadi masih gagah di sini. Wong aku eman-eman kok. Coba periksa sekali lagi. Ya Tuhan, benar, blas hilang! Aduh, aduh bagaimana aku bisa hidup tanpa kemaluan. Jangan-jangan sejak tadi, sejak kemaren-kemaren, sejak 30 tahun, sejak 60 tahun yang lalu, tanpa aku sadari, aku sudah kehilangan kemaluan. Jangan-jangan kita semua memang tidak punya kemaluan lagi.

Coba. Yang jujur aja! Itu yang paling belakang sana coba periksa, jangan tertawa, apa? Masih ada, tapi tinggal separo katanya. Ini yang di depan kelihatan geli, kenapa Mas? Oh! Memang tidak hilang, katanya, tapi sekarang jadi kembar. Lihat ini dua! Waduh bahaya! Kemaluan tidak perlu banyak, satu saja asal yang mantap, karena kalau kebanyakan kita juga repot. Aku juga hanya punya satu, tapi sekarang sudah hilang. O, tidak! Sudah ada lagi, tapi, ya, Tuhan kenapa sekarang bercabang-cabang!

Cabangnya tambah banyak. Di cabangnya tumbuh cabang lagi. Ganas seperti akar tunjang. Panjang-panjang, kenceng lagi. Seperti gurita menggapai-gapai. Dia hidup sendiri. Menjurai ke segala arah. Apa saja mau ditonjok dan dibelit. Ganas dan lapar. Ya Tuhan, aku juga dibelit. Kakiku, seluruh tubuhku dililit. Tanganku tidak lagi berfungsi, otakku juga beku. Hanya mataku dan mulutku yang masih bisa dipakai. Aduh aku sudah dihajar habis oleh kemaluanku sendiri. Tolongggggg!

 

Dua

INI pasti perbuatan setan. Setanlah yang sudah bertugas membayang-bayangi kehidupan manusia dengan kegelapan. Dari dulu sampai sekarang, segala malapetaka berasal dari setan. Setanlah yang sudah membuat negeri ini terpuruk oleh berbagai macam musibah. Krisis ekonomi, kegoncangan politik, separatisme, disintegrasi, narkoba, judi, bom, terorisme, tsunami, bencana banjir, televisi semakin ganas, brutal dan asosial, korupsi dan harga-harga naik lagi! Semuanya karena ulah setan. Termasuk perselingkuhan. Setan mau menyulap bangsa dan negeri kita ini menjadi kerikil yang cakar-cakaran. Dan itu akan kejadian karena kita tidak sanggup melawan setan. Kita hanya bisa membenci, mengutuk, menghujat dari jauh, tanpa berbuat apa-apa. Setan tidak pernah kalah apalagi menyerah.

Apa pun yang kita lakukan pasti sia-sia. Sudah waktunya kita harus ganti taktik. Sebaliknya dari membenci. Sebab itu hanya memboroskan enersi. Kita harus berhenti membuat jarak, lalu merangkul. Memeluk setan supaya dia merasa akrab, lalu berjalan bersebelahan, berpegangan tangan, bagai prajurit yang saling setia kawan, sebab kita sama-sama berjuang. Mari bergotong-royong dengan setan!

Tapi jangan lupa, itu semua hanya taktik dan strategi, bukan tujuan. Begitu setan lengah dan mulai percaya sama kita, pelan-pelan lehernya kita bekuk, lalu masukkan belati ke tenggorokannya supaya urat nadinya putus. Kita gorok dia supaya tamat riwayatnya, supaya kita benar-benar bebas dan mereka mati dalam arti yang sesempurna-sempurnanya.

Yak. Sudah waktunya menulis surat kepada setan. Sekarang. Jangan ditunda lagi.

"Merdeka! Horas! Sahabat sejati, Setan yang baik hati. Di mana pun kini kau berada, aku menyampaikan salam hormat dan cinta. Mari akhiri permusuhan, bergotong-royong menggarap kesempatan demi masa depan mapan anak-cucu kita seratus keturunan. Selama kita saling dengki dan curiga mencurigai, hasilnya akan kurang memadai. Masa lalu yang tidak produktif harus diakhiri. Mulai detik ini, kita bahu-membahu, dalam satu barisan yang padu. Semua laba kita bagi rata. Kalau perlu kau sembilan puluh persen, aku sisanya. Aku tunggu balasanmu secepatnya, setan!"

Surat aku masukkan ke pos tanpa membubuhkan nama atau pun alamat. Tukang pos pasti tahu ke mana harus dibawa. Siapa yang tidak tahu rumah setan. Kalau toh tukang posnya bego, setan sendiri pasti akan langsung mengambil surat itu, sebab dia tahu apa yang harus dia lakukan. Namanya juga setan.

Lalu aku menunggu. Berhari-hari, berminggu-minggu, setahun, lima tahun, kalau perlu sampai 30 tahun aku akan tetap setia menanti. Ternyata tidak ada jawaban. Aku panik. Jangan-jangan setan menolak. Jangan-jangan ia sudah tahu akal bulusku mau mengguntingnya dalam lipatan. Jangan-jangan ia sudah di-upgrade hingga tidak bisa lagi dikecoh. Setan kan selalu lebih hebat dari manusia. Kenapa aku jadi lupa?

Rasa takut mulai menusuk. Sukmaku bergetar, ngeri kalau-kalau setan menyerang karena merasa terhina. Habis aku sudah memperlakukannya seperti idiot. Sebentar-sebentar kalau ada mobil berhenti di depan rumah, aku panik, siap kabur. Tapi jebulnya itu hanya pegawai negeri yang pulang naik angkot sebelum selesai jam kantornya. Kan Jumat. Ketakutan makin membengkak, aku ngos-ngosan terhimpit. Akhirnya aku coba mengatasi dengan ekstasi, tapi semakin diatasi, semakin menjadi-jadi.

Dengan panik aku mengunjungi psikolog. Tapi alumni mancanegara itu mengulangi lagi nasihat basi, aku harus berpikir positif. Jangkrik. Aku balik ke rumah dan akhirnya berdoa.

"Tuhan, ini tidak adil, aku kan makhluk ciptaan-Mu. Tak mungkin Kau tidak mencintai yang Kau ciptakan sendiri. Lindungi aku. Jangan biarkan setan menang. Aku bersumpah kalau manusia yang menang, aku jamin dunia ini akan lebih indah. Orang tidak perlu mati sebelum masuk surga, sebab dunia bisa kami bikin jadi surga oleh rasa cinta yang pada dasarnya juga adalah karunia-Mu kepada kami juga!"

Doa membawa ketenangan. Akhirnya aku pasrah. Cemas sudah membuatku berpikir. Dengan berpikir muncul ide-ide baru. Takut adalah bagian dari karunia untuk membuat peradaban manusia sempurna.

Waktu itu kringgg, kringggg, tukang pos datang. Ada surat untuk Anda, katanya sambil tersenyum sopan, silakan diterima. Aku mengurut dada lega, syukurlah, akhirnya tiba. Orang sabar kasihan Tuhan. Setelah membubuhkan tanda tangan tanda terima, lalu penasaran surat aku buka:

"Merdeka! Horas! Kawan sejati, Setan yang baik hati. Di mana pun kini Anda berada, aku menyampaikan salam hormat dan cinta. Mari akhiri permusuhan, bergotong-royong menggarap kesempatan demi masa depan mapan anak-cucu kita seratus keturunan. Selama kita saling dengki dan curiga-mencurigai, hasilnya akan kurang memadai. Masa lalu yang tidak produktif harus diakhiri. Mulai detik ini, kita bahu-membahu, dalam satu barisan yang padu. Semua laba kita bagi rata. Kalau perlu kau sembilan puluh persen, aku sisanya. Aku tunggu balasanmu secepatnya, setan!"

Ya Tuhan ini kenapa jadi begini, aku bukan setan, aku bukan setan, aku bukan setannnnnn! Aku bukan setan..., kata Setan.***