‘lelaki berasal dari mars dan perempuan berasal dari venus.’
terus terang, aku tak mengerti kalimat itu. konon kalimat itu berasal dari buku bestseller internasional, tetapi terus terang (lagi), aku belum pernah membacanya. jadi, jika ada seorang guru yang memintaku untuk menjelaskan perempuan dari sudut pandang lelaki, jelas sekali itu adalah pekerjaan rumah yang mungkin tak bisa aku kumpulkan tepat pada waktunya.
tetapi kenyataannya, memang ada yang memintaku menulis tentang hal itu. memang bukan seorang guru, bahkan aku hanya mengenalnya di dunia maya. tidak di dunia nyata. sehingga jelas aku pun tak harus melakukan apa yang dimintanya. tapi apakah semua itu menjadi alasan untuk tak melakukannya? jawabanku : tentu saja tidak. ini hal yang menarik untuk dilakukan. ini sebuah tantangan.
meski begitu, aku tak mau terjebak dalam situasi personal judgement. makanya semua tulisanku ini akan merujuk dari buku yang membahas hubungan lelaki dan perempuan. buku itu berjudul ‘why men don’t listen and women can’t read maps’ yang ditulis oleh allan & barbara pease. dan ‘why do men fall asleep after sex?’ tulisan leyner dan Goldberg.
oke, kita mulai . . .
‘pria dan wanita memang berbeda. bukannya lebih baik atau lebih buruk—hanya berbeda.’
itulah dua kalimat pertama yang tercantum dalam buku pertama. pernyataan ini cukup untuk melerai perdebatan siapa yang lebih baik atau lebih buruk. tak ada yang lebih baik atau pun lebih buruk. lalu, yang menjadi pertanyaan, apa yang menjadikan lelaki dan perempuan (aku lebih suka menyebut ‘lelaki dan perempuan’ ketimbang ‘pria dan wanita’) berbeda?
penjelasan ilmiah jelas lebih mendapat dukungan untuk menjawab pertanyaan ini ketimbang asumsi-asumsi atau mitos-mitos. so, salah satu penjelasan ilmiahnya adalah : otak!!!
otak lelaki dan perempuan berbeda. secara anatomis, kebanyakan otak perempuan 10% lebih kecil dari otak pria, tetapi hal ini tidak menjelaskan apapun mengenai kecerdasan. sebuah penelitian menyimpulkan bahwa otak sebelah kiri seorang gadis berkembang lebih cepat dibandingkan anak laki-laki. ini menjelaskan mengapa perempuan lebih pandai dalam membina sebuah hubungan emosi. sementara otak sebelah kanan anak-laki-laki berkembang lebih cepat dari pada anak perempuan. ini menyebabkan lelaki lebih handal di bidang keterampilan ruang, logika, dan penglihatan.
ada seorang kawan (perempuan) yang pernah bertanya : ada apa antara lelaki dengan pekerjaan? pertanyaan ini mengacu pada betapa lelaki sangat memprioritaskan pekerjaannya dibandingkan hubungan personalnya dengan pasangan.
otak lelaki tersusun untuk mengerjakan satu pekerjaan dalam satu waktu karena kekurangan serat penghubung antara belahan otak kiri dan otak kanan. ada sedikit penjelasan atas situasi ini dan kita akan pergunakan situasi yang agak santai. lelaki menonton tv, itu karena ia ingin menonton, sedangkan bagi perempuan, menonton tv hanya sebagai media pertemuan untuk mengobrol dan makan cemilan bersama. itu menjelaskan mengapa lelaki lebih banyak terpaku saat menonton dan perempuan terus bicara saat acara sedang seru-serunya (dan mengemil pula).
lebih jauh lagi, hal ini menjelaskan mengapa lelaki jarang menyempatkan diri untuk mengucapkan ‘selamat makan siang’ pada pasangannya saat istirahat kantor.
lalu mengapa lelaki tidak mendengarkan? ini pertanyaan abadi dari semua perempuan. penjelasan ilmiah diberikan pada jurnal neuroimage edisi September 2005. jurnal itu menjelaskan bahwa suara perempuan dan lelaki mengaktifkan wilayah yang berbeda dalam otak lelaki. para ahli mengatakan bahwa pada lelaki, suara perempuan merangsang area otak yang digunakan untuk memproses suara-suara yang kompleks alias tidak sederhana alias rumit alias sulit dicerna alias lebih baik tak diacuhkan alias lebih baik tutup telinga (stop!!! berlebihan tuh!!!). artinya saat lelaki mencoba mendengarkan perempuan berbicara, lelaki itu sama saja sedang mendengarkan penjelasan mengenai teori fisika quantum.
masalahnya adalah perempuan senang berbicara. mereka selalu membicarakan apa saja yang terjadi padanya hari ini dengan segala detail yang akurat. menyulitkankah bagi lelaki? tentu tidak, hanya menyebalkan (hahahhhaa . . . just kidding!!). dalam bukunya, allan & barbara pease menuliskan bahwa saat perempuan berbicara (baca:curhat), mereka tak membutuhkan solusi. mereka hanya perlu untuk didengarkan. atau paling tidak, merasa didengarkan. jadi tak sulit ‘kan bagi lelaki untuk berpura-pura mendengarkan dengan respon ‘hmm…’ atau ‘ohh…’ atau ‘oh ya?’ atau ‘masa sih?’ atau ‘gitu ya?’
intinya, lelaki dan perempuan itu berbeda. jadi berhentilah menyalahkan lelaki karena tidak perhatian. dan berhentilah menyebut perempuan sebagai mahluk cerewet.
masalah hubungan lelaki dan dan perempuan ini sangat kompleks dan luas sekali bidang jelajahnya. jadi, lebih baik disambung lagi lain kali saja, ya?
wakakaka bener banget dhit.....
BalasHapusGue pernah diginiin sama mantan gue:
"kalo memang udah memutuskan itu ya udah ngapain cerita dan minta pendapat lagi. Toh gak ada gunanya juga minta saran kalo sudah diputuskan"
HIks banget gak tuh dengernya...buat cowok2 belajarlah untuk mengerti cewek hihihi
tapi ya gue gak tuntas baca buku why men don't listen and women can't read maps. Sedikit membosankan (menurut gue lho ya)
Nice posting dhit....-VD-