setelah merasa selamat dari bencana yang menjadi berita nasional tanggal 27 maret lalu, aku mencoba menggali potensi yang mungkin bisa aku maksimalkan. membantu evakuasi jelas bukan pilihan yang bagus karena aku tak punya bekal keahlian berenang yang mumpuni. bukannya paranoid, tapi aku berusaha realistis. melakukan sesuatu yang diluar kemampuanku hanya akan menyusahkan orang lain maka biarlah para ahli yang bekerja di area itu.
lumpur yang menutupi seluruh permukaan yang sebelumnya digenangi air jelas sangat mengganggu ketika orang mondar-mandir melakukan sesuatu. aku merasa ada yang bisa dilakukan atas lumpur itu. dengan peralatan seadanya aku menyisir lumpur ke pinggir jalan dan sebagian diantaranya tertumpahkan ke selokan kecil.
hanya beberapa langkah dari jalan itu, ada sebuah toko serba ada yang memang serba ada. semuanya porak poranda dan nyaris tak menyisakan sesuatu yang berharga. maka tergeraklah hati dan ragaku untuk menghampiri. di sana, semua barang berantakan dan terlumuri lumpur pekat.
sang pemilik toko bersusah payah membereskan barang yang terserak dan menyingkirkan genangan lumpur di lantai. dengan rasa iba yang membuncah karena memperkirakan kerugian materil dan psikologis yang diderita sang pemilik, maka aku tenggelamkan diri untuk merasakan pula sedikit kerugian itu.
hari makin siang. segerombolan orang semakin mendekat tempatku berada. setelah ku tahu, tak heran gerombolan itu bergerombol. manusia nomor dua di republik ini datang berkunjung. dan itu cukup menyunggingkan senyum di bibirku. dan mungkin di bibir orang lain juga.
saat manusia nomor dua republik ini semakin mendekat, seseorang nampak menghentikan langkahnya. kemudian orang itu menunduk seraya berlutut dengan tangan yang berusaha melipat celana panjang sang manusia nomor dua di republik ini. setelah itu sang manusia nomor dua di republik ini seakan menghilang. ia tertutupi manusia-manusia yang disebut ajudan. berselang lima detik kemudian, manusia nomor dua di republik ini pun muncul lagi. kali ini ia memakai sepatu boot berwarna kuning. tentu saja kuning, ia tak mungkin memakai yang warna merah, biru, hijau, atau warna lain.
gerombolan itu melewati tempatku berdiri dengan banyak kamera yang menyorot jelas ke gerombolan itu. gorombolan itu semakin bergerombol karena sebagian warga ingin menjadi bagian dari gerombolan itu. tetapi itu tak terjadi padaku, bukannya tak tertarik, tetapi ada yang lebih menarik bagiku daripada mengikuti kemana sang manusia nomor dua di republik ini bergerak.
sepatu. sesuatu yang menarik lebih menarik perhatianku adalah sepatu kerja. tentu bukan sepatu kerja biasa . . . eh, maaf, tentu sepatu kerja itu biasa saja, tetapi menjadi tak biasa karena sepatu kerja itu dimiliki oleh sang manusia nomor dua republik ini. dan sekarang, nasib sepasang sepatu kerja itu begitu istimewa. betapa tidak, dengan lumpur yang tak begitu berarti, sepasang sepatu itu diperlakukan bak lampu aladin yang digosok dengan begitu cermat oleh seseorang yang juga disebut sebagai ajudan. padahal jelas takkan ada jin yang keluar dari sepatu itu untuk mengabulkan tiga permintaan atau berapapun permintaan.
tak lama berselang, sang manusia nomor dua di republik ini kembali melewati tempatku berada. tentu dengan gerombolan yang sama pula. ia bergerak menjauhi tempat yang sebelumnya ia tuju dan berlalu nyaris tanpa kesan.
mani bereum pisan hurupna :D,
BalasHapusRemind me for something in the past.
ada seorang kawan yang berkomentar kalo postingan ini menceritakan tentang JK. kawan itu benar, tetapi itu bukan esensinya.
BalasHapustulisan ini adalah bentuk penggambaran betapa menyedihkannya manusia-manusia yang datang ke daerah bencana situ gintung hanya untuk berkunjung. bukan keprihatinan yang mereka bawa, melainkan hanya sebuah rasa penasaran atas bencana ini. dan itu jels sangat menyedihkan.