08 September 2009

it's no smoking area, even for a bad guys . . .

salah satu berkah bulan ramadhan (paling tidak buatku) adalah berhentinya orang-orang merokok di kantor (kecuali satu orang yang bukan muslim) sehingga mampu mereduksi polusi udara di kantor. dan hasilnya, badanku selalu cukup bugar ketika pulang kantor (dan aku yakin setiap orang pun begitu).

tak akan ada yang menyangkal jika seseorang mengatakan bahwa merokok sama sekali tak bagus untuk kesehatan. hal itu sudah menjadi fakta tak terbantahkan dengan puluhan ribu penelitian yang dilakukan di seluruh dunia sepanjang masa. semuanya menyimpulkan hal yang sama : no smoking!!!

tetapi entah mengapa masih saja banyak yang merokok. dan parahnya, candu merokok bukan hanya terjadi pada kalangan yang minim mengenyam pendidikan, tetapi juga sebagian profesor yang seharusnya memiliki pengetahuan berdasar keilmuan yang seharusnya—lagi—menghindarkan ia dari kebiasaan bobrok tersebut.

sebenarnya, betapa pun besarnya bea cukai yang diterima oleh negara, secara kumulatif, negara menanggung kerugian secara simultan dan berkelanjutan. faktanya adalah setiap negara mengalami penurunan kekayaan sebanyak 3% setiap tahun akibat rakyatnya banyak mengkonsumsi rokok. hal itu merupakan ‘kompensasi’ dari biaya kesehatan yang harus ditanggung terkait dengan masalah kesehatan yang “dianugerahkan” Tuhan pada para perokok. itu baru akibat langsung. banyak akibat tak langsung dari kebiasaan merokok. salah satunya adalah (bagi laki-laki) penurunan kualitas sperma yang jelas menurunkan kualitas keturunan si perokok. bayangkan jika anak-anak bangsa menurun kualitasnya pada setiap generasi!!!

ada orang yang bilang bahwa industri rokok berkontribusi dalam membiayai sektor-sektor tertentu. oke lah, di negara ini event-event besar dan penting seringkali disponsori oleh merek rokok. salah satunya event olahraga, tapi ada fakta yang menggelikan : prestasi olahraga anak negeri ini terpuruk hingga titik terdalamnya. contoh : 10-15 tahun lalu, negara ini boleh berbangga menjadi jawara sepak bola di asia tenggara, tetapi sekarang?? apakah kita lebih baik dari thailand, atau singapura? padahal, di negeri thailand sana, merek rokok dilarang mensponsori event olah raga, dan di singapura, peraturan mengenai rokok teramat sangat ketat sekali. tetapi fakta membuktikan bahwa mereka adalah jawara sepakbola asia tenggara saat ini. bahkan thailand memiliki peringkat bagus dalam FIFA.

fakta di atas membuktikan bahwa tanpa dukungan dana dari produk rokok pun, sebuah negara akan lebih maju—dalam hal ini—sepak bolanya karena anak-anak muda di sana lebih sehat dan tidak terjebak dalam kebiasaan tolol : merokok!!!

aku tertarik mengulas kebiasaan merokok ini dalam perspektif film. Dalam film-film tahun 80-an, jagoan-jagoan dalam film biasanya sering mengapit rokok di bibirnya, bahkan ketika beraksi. aku ambil contoh film ‘die hard’. john mcclane, sang jagoan, merokok entah berapa puluh batang ketika bersembunyi dari kejaran teroris. intinya, saat itu, rokok identik dengan pria perkasa dan protagonis.

kemudian waktu bergulir dengan mengalirkan dan menguatkan fakta bahwa rokok itu berbahaya. maka MPAA, badan rating amerika, mengkategorikan adegan merokok pada rating restricted. artinya film tersebut hanya bisa ditonton oleh manusia berusia di atas 17 tahun. imbasnya, (masih dalam contoh die hard) john mcclane tak merokok sebatang pun saat beraksi menyelamatkan amerika pada instalment terakhir saga die hard : live free or die hard. justru saat ini, dalam dunia perfilman, karakter perokok selalu berada pada posisi antagonis atau karakter yang menyebalkan atau karakter yang lemah, baik secara fisik maupun mental.

bahkan untuk tokoh penjahat sekali pun, seringkali sineas Hollywood—saat ini—tidak melekatkan rokok di bibir mereka. contohnya dalam serial tv amerika yang penuh dengan karakter penjahat, ‘prison break’, tak ada satu pun karakter jahat yang merokok di sana, bahkan untuk karakter theodore bagwell sang psikopat sekalipun. satu contoh lain, joker sama sekali tidak merokok di film the dark knight.

semua fakta di atas sebetulnya cukup untuk menggambarkan betapa tidak bagusnya merokok, bahkan bagi karakter penjahat sekalipun.

dalam dunia nyata, aku pernah ditanya seorang kawan di kantor. sebagai deskripsi, ia adalah seorang yang taat beribadah dan selalu mengajakku shalat berjamaah di masjid ketika azdan berkumandang, tetapi sayangnya ia adalah seorang perokok yang taat pula. ia bertanya, “bapak gak ngerokok ya?”. aku jawab, “enggak lah pak. ga penting.”. ia menimpali, “bagus, pak. mendingan jangan ngerokok. gak bagus.”. kemudian aku menimpalinya, “terus, kenapa bapak ngerokok?” ia menjawab, “ya mau gimana lagi, udah kecanduan mah susah berhentinya.”.

itu lah gambaran menyedihkan dari seorang perokok. ia memahami betul bahwa merokok itu tidak baik. tetapi apa daya, ia sudah terjebak dalam jebakan setan yang tak mampu ia lepaskan. dan coba tebak!!!! siapa saja yang menanggung kerugian itu?

jadi, jangan berpikir bahwa dengan merokok, kita telah berkontribusi pada negara. berkontribusilah dengan melahirkan generasi-generasi yang kuat dan wariskan lingkungan serta pemikiran yang sehat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar