25 Februari 2014

Peluang Selalu Ada

Bicara soal peluang Anies Baswedan menjadi Presiden itu memang agak rumit. Ia bukanlah Prabowo Subianto yang berhasil membesarkan Gerindra menjadi salah satu kekuatan politik, meski belum dominan, tapi cukup diperhitungkan. Anies Baswedan meniti karir di bidang pendidikan dan berada jauh dari hingar bingar dunia politik. 


Untuk menjadi Presiden, Anies Baswedan mesti memenangkan persaingan di konvensi Partai Demokrat. Jika pun menang, ia tak otomatis menjadi Capres karena keputusan sepenuhnya ada di Majelis Tinggi PD. Bisa saja Majelis Tinggi PD membatalkan keputusan hasil konvensinya. Oke, kita asumsikan Anies Baswedan menang konvensi dan dicalonkan secara resmi oleh PD. Langkah selanjutnya pun masih belum pasti, hal ini terkait dengan perolehan suara PD. Jika PD mampu menjadi partai dengan perolehan suara signifikan, bisa jadi langkahnya lebih mudah. Namun, lain halnya jika ternyata perolehan suara PD tak lebih dari 10% suara nasional, PD bisa jadi tak bisa menentukan Capres pilihannya karena harus tarik menarik kepentingan dalam koalisi yang nanti terbentuk. Rumit kan?

Ketika ditanya soal peluangnya, Anies Baswedan menjawab seperti ini: 

Saya bedakan antara Kalah dan Menyerah. Memang belum tentu bisa menang, bisa jadi saya kalah, itu resikonya. Tapi saya tidak menyerah dan tinggal diam.

Segala hal yang kita lakukan pasti hanya akan berujung pada dua hasil : sukses atau gagal. Itu lumrah dan semua orang tahu itu. Tapi apakah setiap orang yang tahu itu menyerah sebelum berjuang? Bukankah orang tua kita bilang, "kalau ada niat pasti ada jalan"? Dan Tuhan jelas tak pernah tidur, Ia pasti melihat ikhtiar yang dilakukan oleh hamba-Nya. 

Jadi, ketika kita tidak tahu usaha kita akan sukses atau gagal, kita hanya perlu menanamkan satu hal: KEYAKINAN. Keyakinan bahwa kita sedang memperjuangkan sesuatu yang benar dan keyakinan bahwa tujuan kita akan tercapai. 


Keyakinan ini penting dan perlu terus dipupuk agar semangat kita terpompa dalam melakukan usaha untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Usaha itu harus terus disuarakan dalam bentuk ajakan untuk memilih Anies Baswedan karena memang begitulah aturannya, siapa yang paling banyak dipilih dialah yang menang. Nah, seberapa besar peluang ajakan kita akan digubris tentu itu tergantung dari cara kita mengajaknya, tetapi ada hitung-hitungan teoritis yang bisa dijadikan semacam gambaran seberapa besar harapan kita.

Pada tahun 2005, saat dalam keadaan menganggur karena baru lulus kuliah, saya pernah diajak seorang teman untuk mengikuti acara seminar tentang dunia kerja. Saya mengiyakan dan ikut hadir di acara tersebut. Ternyata acara itu bukan seminar, melainkan semacam event promosi perusahaan MLM Tiens dengan skala yang cukup besar. Itu terlihat dari jumlah pesertanya yang saya perkirakan lebih dari 1000 orang.

Terus terang, saya tidak tertarik pada bisnis MLM, tetapi ada poin penting dari yang disampaikan salah satu pembicaranya. Inilah satu-satunya poin yang saya ingat sampai sekarang. Disampaikan oleh pembicara, bahwa dalam teori persuasif dikenal sebuah pola 1:1:8. Sederhananya begini, saat kita mengajak 10 orang, maka akan ada 1 orang yang pasti ikut, 1 orang yang pasti menolak, dan 8 orang yang masih belum memutuskan ikut atau menolak.

Begitulah peluang kita dalam mengajak orang untuk memilih Anies Baswedan menjadi Presiden. Tak perlu kita fokus pada 1 orang kedua, tapi fokuslah menjaga 1 orang pertama dan memelihara peluang 8 orang ketiga.


Sekarang, mari lupakan segala kerumitan hitung-hitungan politisnya. Mari kita berusaha dan berusaha karena peluang selalu ada. Sepertinya hanya satu hal yang tak pernah diciptakan Tuhan : kemustahilan. 

23 Februari 2014

Nigel Gan

Malam kemarin (22/2) saya sempat disapa oleh seseorang melalui facebook messenger. Ia memuji anak saya setelah saya memposting foto anak saya yang sedang membuka-buka buku. Sebenarnya, anak saya belum bisa membaca, ia baru 3 tahun pada 1 januari lalu. Saya sengaja memotretnya dan memberi kesan kalau ia sedang membacanya. Saya merasa itu momen yang bagus untuk diabadikan. Buku yang ia buka itulah hasil tulisan orang yang menyapa saya, Nigel Gan namanya.


Saya tidak tahu apakah Nigel Gan itu nama aslinya atau bukan. Ia orang Singapura. Saya mengenalnya melalui facebook karena kami memiliki satu kesamaan, kami adalah Laziale. Bagi yang kurang tahu sepak bola, Laziale itu bahasa italia yang berarti pendukung klub sepak bola SS Lazio.

Obrolan kami berlanjut tentang perjalanan dia ke kota Roma beberapa hari sebelumnya. FYI, sejak 2011, setiap tahun ia berangkat ke kota Roma, stadion Olimpico tepatnya, untuk menyaksikan Derby Della Capitale (DDC). DDC itu artinya pertandingan antara dua tim kota Roma, SS Lazio lawan AS Roma. Nigel selalu berangkat ke Roma sendiri sambil membawa banner yang bertuliskan "Da Singapore 10.000 KM Per Te" yang berarti "Dari Singapura 10.000 KM Untukmu".


Lantas saya bertanya, berapa biaya yang diperlukan untuk berangkat ke Roma dan pulang kembali ke Singapura. Ia menjawab sekitar $3.000USD. Sebuah harga yang sebenarnya wajar, tapi saya bereaksi seperti orang tidak percaya karena sadar bahwa itu harga yang sangat mahal untuk diri saya pribadi.
Sekitar pertengahan tahun 2013, Nigel menerbitkan buku yang memaparkan pengalamannya berangkat ke Roma dan deskripsi-deskripsi yang menjelaskan betapa besar cintanya kepada SS Lazio. Terus terang, pertama kali memutuskan membeli buku itu agak ragu juga bakal selesai dibaca atau tidak karena bahasa yang digunakannya bahasa inggris. Tapi ternyata penggunaan bahasa inggrisnya mudah dipahami sehingga tamat juga akhirnya.


Dari buku itu, saya menilai sosok Nigel sebagai penulis profesional karena alur tulisannya terasa nyaman dibaca sehingga memberikan kesan bahwa Nigel adalah penulis yang berpengalaman. Penilaian saya itu akhirnya terungkap kesalahannya. Kemarin malam saya sampai pada pertanyaan soal pekerjaan Nigel. Dia menjawab, "Security guard".

Saya mengerti arti harfiah dari 'Security guard'. Tentu saja artinya Satpam. Tapi karena membayangkan sudah 4 kali Nigel berangkat ke Roma, saya bersikeras menyangkal arti yang saya pahami. Menurut saya, pekerjaan satpam, terutama di Indonesia, bukanlah pekerjaan yang bisa membuat orang berangkat ke Roma 4 kali berturut-turut setiap tahun.

Kemudian saya bersikap seolah tak mengerti dan berharap ada arti lain dari arti yang saya pahami. Nigel akhirnya menjelaskan bahwa profesinya itu ya memang satpam. Akhirnya pula, saya menyerah karena penyangkalan saya salah.

Satu hal yang bisa saya simpulkan dari perbincangan itu adalah bahwa sebagai negara, Indonesia telah kalah jauh, benar-benar jauh, dari Singapura. Singapura, sebuah negara pulau yang sangat kecil, yang bahkan tak punya bahasa ibu, mampu memberikan kesejahteraan secara finansial kepada warga negaranya. Bukan hanya soal finansial, tapi coba renungkan, seorang satpam memiliki kemampuan menulis yang luar biasa baik. Bagi saya, itu adalah prestasi sebuah negara.

Hal lain yang menarik adalah reaksi Nigel menanggapi reaksi saya. Ia bilang, "Imposible is nothing. I don't earn a lot too, but I saved up."
Wow....

Menggenjot Popularitas Anies Baswedan

Saat ini, rasanya cuma popularitas yang kurang dari sosok Anies Baswedan. Di kalangan akademisi tentu saja ia adalah sosok yang sangat populer, tetapi di kalangan masyarakat umum boleh jadi Farhat Abbas jauh lebih populer. Soal popularitas inilah yang sepertinya harus benar-benar digenjot oleh Anies Baswedan dan para relawannya. 

Ada anggapan bahwa popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan elektabilitas. Popularitas hanya sebuah indikator seberapa banyak sosok seseorang dikenal oleh rakyat, sedangkan elektabilitas lebih berbobot, dalam hal pemilu, karena merupakan indikator seberapa banyak sosok seseorang akan dipilih oleh rakyat. Profil Anies Baswedan yang besar di lingkungan pendidikan tentu kumandangnya tak seluas jika dibandingkan dengan seseorang yang besar di dunia politik atau selebritis, misalnya.

http://kreavi.com/data/user-project/3937-603a7cc07f-kreavi.jpg

Kembali ke soal popularitas dan elektabilitas, sebenarnya yang dibutuhkan oleh Anies Baswedan adalah popularitas, karena bagi seseorang dengan rekam jejak sebaik beliau, anggapan bahwa popularitas tak sejalan dengan elektabilitas bisa dipatahkan. Konklusinya begini, semakin populer Anies Baswedan, maka semakin besar pula elektabilitasnya. Alasannya tentu saja rekam jejak yang sangat baik. Sehingga ketika rakyat tahu siapa Anies Baswedan maka mereka akan memilihnya sebagai pemimpin. Rakyat tentunya sangat ingin dipimpin oleh seseorang yang memiliki rekam jejak yang bersih, berintegritas, mampu berpikir global sekaligus memiliki kearifan lokal yang tinggi dan memiliki dedikasi yang besar pada apa yang diperjuangkannya.

Nah, untuk menjadi populer ini, Anies Baswedan sama sekali tak mau mengekor Aburizal Bakrie atau Prabowo Subianto yang begitu genjar dengan biaya besar mengiklankan diri melalui media massa dengan jangkauan nasional. Anies Baswedan cukup cerdas untuk mengerti bahwa biaya politik yang tinggi pasti akan melahirkan pemimpin yang korup, itu alamiah. Oleh karena itu, ia melakukan sebuah gerakan yang disebut Turun Tangan. Ini adalah sebuah gerakan massa yang bersifat sukarela, yang tujuan jangka pendeknya, mempopulerkan sosok Anies Baswedan menjadi sosok yang dikenal rakyat Indonesia dengan pembiayaan seminimal mungkin. Bagaimana itu bisa berhasil? Pembuktian keberhasilan itu memang belum terlihat, tetapi arahnya menuju ke sana. Contohnya tulisan yang sedang anda baca sekarang ini. Saya tidak dibayar sama sekali untuk menuliskan ini, bahkan penggunaan fasilitas untuk menulis pun merupakan properti pribadi. Kenapa saya mau? Karena saya relawan.

Kemampuan menggerakan inilah yang harus dimiliki oleh pemimpin dan itu ada pada Anies Baswedan. Terkait dengan popularitas Anies yang tak sebagus Jokowi, Ruhut Sitompul pernah mengalihkan isu dengan berkata bahwa Jokowi itu bekerja sendiri, tapi Anies Baswedan mampu menginspirasi orang untuk melakukan sesuatu. Saya bukan fans dari Ruhut, tapi saya setuju dengan ucapannya. Tanpa memiliki kekuasaan (pemerintahan) pun Anies Baswedan mampu menggerakkan orang melakukan sesuatu yang baik (contoh Indonesia Mengajar), apalagi jika ia nanti diberi kekuasaan, tentu dampaknya bisa lebih besar lagi.

Saya bukan orang yang kontra dengan Jokowi. Prestasi Jokowi pantas diapresiasi. Tetapi Anies Baswedan dan Jokowi akan lebih baik bersinergi daripada berkompetisi. Lagipula, Jokowi masih punya utang pada warga Jakarta yang memilihnya. Pencapresannya hanya akan menunjukan betapa pragmatisnya PDIP.

Sekali lagi, Anies Baswedan perlu untuk populer. Ia perlu dikenal atas prestasinya. Visi, misi, dan program kerjanya perlu diinformasikan. Publik harus diberitahu pencalonannya sebagai Presiden RI 2014-2019. 

Saya mendukungnya. Saya menugaskan diri saya untuk membuat Anies Baswedan populer dan saya akan melakukannya dengan segala yang saya bisa.