Bicara soal peluang Anies Baswedan menjadi Presiden itu memang agak rumit. Ia bukanlah Prabowo Subianto yang berhasil membesarkan Gerindra menjadi salah satu kekuatan politik, meski belum dominan, tapi cukup diperhitungkan. Anies Baswedan meniti karir di bidang pendidikan dan berada jauh dari hingar bingar dunia politik.
Untuk menjadi Presiden, Anies Baswedan mesti memenangkan persaingan di konvensi Partai Demokrat. Jika pun menang, ia tak otomatis menjadi Capres karena keputusan sepenuhnya ada di Majelis Tinggi PD. Bisa saja Majelis Tinggi PD membatalkan keputusan hasil konvensinya. Oke, kita asumsikan Anies Baswedan menang konvensi dan dicalonkan secara resmi oleh PD. Langkah selanjutnya pun masih belum pasti, hal ini terkait dengan perolehan suara PD. Jika PD mampu menjadi partai dengan perolehan suara signifikan, bisa jadi langkahnya lebih mudah. Namun, lain halnya jika ternyata perolehan suara PD tak lebih dari 10% suara nasional, PD bisa jadi tak bisa menentukan Capres pilihannya karena harus tarik menarik kepentingan dalam koalisi yang nanti terbentuk. Rumit kan?
Ketika ditanya soal peluangnya, Anies Baswedan menjawab seperti ini:
Saya bedakan antara Kalah dan Menyerah. Memang belum tentu bisa menang, bisa jadi saya kalah, itu resikonya. Tapi saya tidak menyerah dan tinggal diam.
Segala hal yang kita lakukan pasti hanya akan berujung pada dua hasil : sukses atau gagal. Itu lumrah dan semua orang tahu itu. Tapi apakah setiap orang yang tahu itu menyerah sebelum berjuang? Bukankah orang tua kita bilang, "kalau ada niat pasti ada jalan"? Dan Tuhan jelas tak pernah tidur, Ia pasti melihat ikhtiar yang dilakukan oleh hamba-Nya.
Jadi, ketika kita tidak tahu usaha kita akan sukses atau gagal, kita hanya perlu menanamkan satu hal: KEYAKINAN. Keyakinan bahwa kita sedang memperjuangkan sesuatu yang benar dan keyakinan bahwa tujuan kita akan tercapai.
Keyakinan ini penting dan perlu terus dipupuk agar semangat kita terpompa dalam melakukan usaha untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Usaha itu harus terus disuarakan dalam bentuk ajakan untuk memilih Anies Baswedan karena memang begitulah aturannya, siapa yang paling banyak dipilih dialah yang menang. Nah, seberapa besar peluang ajakan kita akan digubris tentu itu tergantung dari cara kita mengajaknya, tetapi ada hitung-hitungan teoritis yang bisa dijadikan semacam gambaran seberapa besar harapan kita.
Pada tahun 2005, saat dalam keadaan menganggur karena baru lulus kuliah, saya pernah diajak seorang teman untuk mengikuti acara seminar tentang dunia kerja. Saya mengiyakan dan ikut hadir di acara tersebut. Ternyata acara itu bukan seminar, melainkan semacam event promosi perusahaan MLM Tiens dengan skala yang cukup besar. Itu terlihat dari jumlah pesertanya yang saya perkirakan lebih dari 1000 orang.
Terus terang, saya tidak tertarik pada bisnis MLM, tetapi ada poin penting dari yang disampaikan salah satu pembicaranya. Inilah satu-satunya poin yang saya ingat sampai sekarang. Disampaikan oleh pembicara, bahwa dalam teori persuasif dikenal sebuah pola 1:1:8. Sederhananya begini, saat kita mengajak 10 orang, maka akan ada 1 orang yang pasti ikut, 1 orang yang pasti menolak, dan 8 orang yang masih belum memutuskan ikut atau menolak.
Begitulah peluang kita dalam mengajak orang untuk memilih Anies Baswedan menjadi Presiden. Tak perlu kita fokus pada 1 orang kedua, tapi fokuslah menjaga 1 orang pertama dan memelihara peluang 8 orang ketiga.
Sekarang, mari lupakan segala kerumitan hitung-hitungan politisnya. Mari kita berusaha dan berusaha karena peluang selalu ada. Sepertinya hanya satu hal yang tak pernah diciptakan Tuhan : kemustahilan.