Malam kemarin (22/2) saya sempat disapa oleh seseorang melalui facebook messenger. Ia memuji anak saya setelah saya memposting foto anak saya yang sedang membuka-buka buku. Sebenarnya, anak saya belum bisa membaca, ia baru 3 tahun pada 1 januari lalu. Saya sengaja memotretnya dan memberi kesan kalau ia sedang membacanya. Saya merasa itu momen yang bagus untuk diabadikan. Buku yang ia buka itulah hasil tulisan orang yang menyapa saya, Nigel Gan namanya.
Saya tidak tahu apakah Nigel Gan itu nama aslinya atau bukan. Ia orang Singapura. Saya mengenalnya melalui facebook karena kami memiliki satu kesamaan, kami adalah Laziale. Bagi yang kurang tahu sepak bola, Laziale itu bahasa italia yang berarti pendukung klub sepak bola SS Lazio.
Obrolan kami berlanjut tentang perjalanan dia ke kota Roma beberapa hari sebelumnya. FYI, sejak 2011, setiap tahun ia berangkat ke kota Roma, stadion Olimpico tepatnya, untuk menyaksikan Derby Della Capitale (DDC). DDC itu artinya pertandingan antara dua tim kota Roma, SS Lazio lawan AS Roma. Nigel selalu berangkat ke Roma sendiri sambil membawa banner yang bertuliskan "Da Singapore 10.000 KM Per Te" yang berarti "Dari Singapura 10.000 KM Untukmu".
Lantas saya bertanya, berapa biaya yang diperlukan untuk berangkat ke Roma dan pulang kembali ke Singapura. Ia menjawab sekitar $3.000USD. Sebuah harga yang sebenarnya wajar, tapi saya bereaksi seperti orang tidak percaya karena sadar bahwa itu harga yang sangat mahal untuk diri saya pribadi.
Sekitar pertengahan tahun 2013, Nigel menerbitkan buku yang memaparkan pengalamannya berangkat ke Roma dan deskripsi-deskripsi yang menjelaskan betapa besar cintanya kepada SS Lazio. Terus terang, pertama kali memutuskan membeli buku itu agak ragu juga bakal selesai dibaca atau tidak karena bahasa yang digunakannya bahasa inggris. Tapi ternyata penggunaan bahasa inggrisnya mudah dipahami sehingga tamat juga akhirnya.
Dari buku itu, saya menilai sosok Nigel sebagai penulis profesional karena alur tulisannya terasa nyaman dibaca sehingga memberikan kesan bahwa Nigel adalah penulis yang berpengalaman. Penilaian saya itu akhirnya terungkap kesalahannya. Kemarin malam saya sampai pada pertanyaan soal pekerjaan Nigel. Dia menjawab, "Security guard".
Saya mengerti arti harfiah dari 'Security guard'. Tentu saja artinya Satpam. Tapi karena membayangkan sudah 4 kali Nigel berangkat ke Roma, saya bersikeras menyangkal arti yang saya pahami. Menurut saya, pekerjaan satpam, terutama di Indonesia, bukanlah pekerjaan yang bisa membuat orang berangkat ke Roma 4 kali berturut-turut setiap tahun.
Kemudian saya bersikap seolah tak mengerti dan berharap ada arti lain dari arti yang saya pahami. Nigel akhirnya menjelaskan bahwa profesinya itu ya memang satpam. Akhirnya pula, saya menyerah karena penyangkalan saya salah.
Satu hal yang bisa saya simpulkan dari perbincangan itu adalah bahwa sebagai negara, Indonesia telah kalah jauh, benar-benar jauh, dari Singapura. Singapura, sebuah negara pulau yang sangat kecil, yang bahkan tak punya bahasa ibu, mampu memberikan kesejahteraan secara finansial kepada warga negaranya. Bukan hanya soal finansial, tapi coba renungkan, seorang satpam memiliki kemampuan menulis yang luar biasa baik. Bagi saya, itu adalah prestasi sebuah negara.
Hal lain yang menarik adalah reaksi Nigel menanggapi reaksi saya. Ia bilang, "Imposible is nothing. I don't earn a lot too, but I saved up."
Wow....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar