Saat ini, rasanya cuma popularitas yang kurang dari sosok Anies Baswedan. Di kalangan akademisi tentu saja ia adalah sosok yang sangat populer, tetapi di kalangan masyarakat umum boleh jadi Farhat Abbas jauh lebih populer. Soal popularitas inilah yang sepertinya harus benar-benar digenjot oleh Anies Baswedan dan para relawannya.
Ada anggapan bahwa popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan elektabilitas. Popularitas hanya sebuah indikator seberapa banyak sosok seseorang dikenal oleh rakyat, sedangkan elektabilitas lebih berbobot, dalam hal pemilu, karena merupakan indikator seberapa banyak sosok seseorang akan dipilih oleh rakyat. Profil Anies Baswedan yang besar di lingkungan pendidikan tentu kumandangnya tak seluas jika dibandingkan dengan seseorang yang besar di dunia politik atau selebritis, misalnya.

Kembali ke soal popularitas dan elektabilitas, sebenarnya yang dibutuhkan oleh Anies Baswedan adalah popularitas, karena bagi seseorang dengan rekam jejak sebaik beliau, anggapan bahwa popularitas tak sejalan dengan elektabilitas bisa dipatahkan. Konklusinya begini, semakin populer Anies Baswedan, maka semakin besar pula elektabilitasnya. Alasannya tentu saja rekam jejak yang sangat baik. Sehingga ketika rakyat tahu siapa Anies Baswedan maka mereka akan memilihnya sebagai pemimpin. Rakyat tentunya sangat ingin dipimpin oleh seseorang yang memiliki rekam jejak yang bersih, berintegritas, mampu berpikir global sekaligus memiliki kearifan lokal yang tinggi dan memiliki dedikasi yang besar pada apa yang diperjuangkannya.
Nah, untuk menjadi populer ini, Anies Baswedan sama sekali tak mau mengekor Aburizal Bakrie atau Prabowo Subianto yang begitu genjar dengan biaya besar mengiklankan diri melalui media massa dengan jangkauan nasional. Anies Baswedan cukup cerdas untuk mengerti bahwa biaya politik yang tinggi pasti akan melahirkan pemimpin yang korup, itu alamiah. Oleh karena itu, ia melakukan sebuah gerakan yang disebut Turun Tangan. Ini adalah sebuah gerakan massa yang bersifat sukarela, yang tujuan jangka pendeknya, mempopulerkan sosok Anies Baswedan menjadi sosok yang dikenal rakyat Indonesia dengan pembiayaan seminimal mungkin. Bagaimana itu bisa berhasil? Pembuktian keberhasilan itu memang belum terlihat, tetapi arahnya menuju ke sana. Contohnya tulisan yang sedang anda baca sekarang ini. Saya tidak dibayar sama sekali untuk menuliskan ini, bahkan penggunaan fasilitas untuk menulis pun merupakan properti pribadi. Kenapa saya mau? Karena saya relawan.
Kemampuan menggerakan inilah yang harus dimiliki oleh pemimpin dan itu ada pada Anies Baswedan. Terkait dengan popularitas Anies yang tak sebagus Jokowi, Ruhut Sitompul pernah mengalihkan isu dengan berkata bahwa Jokowi itu bekerja sendiri, tapi Anies Baswedan mampu menginspirasi orang untuk melakukan sesuatu. Saya bukan fans dari Ruhut, tapi saya setuju dengan ucapannya. Tanpa memiliki kekuasaan (pemerintahan) pun Anies Baswedan mampu menggerakkan orang melakukan sesuatu yang baik (contoh Indonesia Mengajar), apalagi jika ia nanti diberi kekuasaan, tentu dampaknya bisa lebih besar lagi.
Saya bukan orang yang kontra dengan Jokowi. Prestasi Jokowi pantas diapresiasi. Tetapi Anies Baswedan dan Jokowi akan lebih baik bersinergi daripada berkompetisi. Lagipula, Jokowi masih punya utang pada warga Jakarta yang memilihnya. Pencapresannya hanya akan menunjukan betapa pragmatisnya PDIP.
Sekali lagi, Anies Baswedan perlu untuk populer. Ia perlu dikenal atas prestasinya. Visi, misi, dan program kerjanya perlu diinformasikan. Publik harus diberitahu pencalonannya sebagai Presiden RI 2014-2019.
Saya mendukungnya. Saya menugaskan diri saya untuk membuat Anies Baswedan populer dan saya akan melakukannya dengan segala yang saya bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar