24 Juni 2009

ceracau rasa sayang


tulisan ini terpikirkan saat atasanku kehilangan kucing kesayangannya. singkat kata, kucing itu dicuri. ketika pertama kali mendengar berita itu, ia melelerkan air mata. ia bahkan tak berhenti meracau betapa sayangnya ia pada peliharaannya itu. 

saat mendengar ceracaunya, aku sungguh bersimpati (sungguh), tetapi terus terang sulit bagiku untuk berempati. entah mengapa, yang pasti aku bukan orang yang diberi kegemaran merawat hewan peliharaan. pernah, aku punya sekelompok laba-laba yang aku kumpulkan di pohon jambu ku ketika aku kecil. tetapi itu pun, sama sekali tak ada tangis ketika sekelompok laba-laba itu berkurang jumlahnya.

orang mungkin akan bilang bahwa kehilangan hewan peliharaan kesayangan itu sama saja seperti kehilangan anak. apalagi jika kita merawatnya semenjak lahir. tapi kenapa begitu? jelas sekali hewan peliharaan bukanlah manusia. lagipula jika kehilangan hewan peliharaan kita bisa saja dengan mudah membeli yang baru dan kesedihan teratasi bukan?

meski aku bukan termasuk orang yang diberi kemewahan rasa sayang kepada hewan peliharaan, tetapi aku sepakat bahwa rasa sayang adalah sesuatu yang istimewa dan merupakan anugerah Tuhan yang tak mungkin dibuat secara artifisial. 

hingga saat ini, bahkan aku yakin hingga kapan pun, takkan mungkin tercipta robot asimo yang memiliki rasa sayang. lebih dari akal, rasa sayang adalah keistimewaan yang tak tergantikan yang dimiliki mahluk hidup. 

entah berlawanan atau berpasangan, tetapi sifat sayang sering bersanding dengan sifat benci. begini contohnya, anggaplah seorang lelaki kehilangan kekasihnya yang disebabkan oleh lelaki lainnya. kecenderungan tindakan yang akan diambil lelaki pertama adalah membalas dendam kepada lelaki lainnya itu. dari sini silakan dilihat apakah yang mendorong lelaki pertama membalas dendam. rasa sayang atau rasa benci? atau keduanya?

contoh lain ketika seseorang perempuan mencintai seorang lelaki (atau sebaliknya), namun ternyata perasaan sang perempuan bertepuk sebelah tangan. dikarenakan kekecewaan, perempuan itu mulai mencari-cari kekurangan sang lelaki (atau sebaliknya) agar ia merasa tak perlu mencintainya lagi. sayang yang berakhir benci. sungguh ironis. dan lebih jauh lagi, apa itu perlu?

ada pula benci yang menjadi cinta (oke, aku pun tak yakin ini ada, tapi anggaplah ini nyata). apa yang menjadikan perasaan seseorang berputar 180 derajat seperti itu? bahkan ada yang terjadi dalam waktu singkat. ini sungguh konyol (mungkin itulah kenapa aku belum pernah merasakannya).

tapi ada juga kasus di mana kisah cinta tak ada hubungannya dengan benci. bagaimana itu terjadi? takdir Tuhan lah jawabannya. seorang kawan pernah bilang bahwa cinta itu seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. kita tidak akan pernah tahu di mana anak panah itu akan menancap, bahkan meski kita adalah penembak jitu sekalipun. mungkin takdir Tuhan adalah gambaran tepat dari apa yang dikatakan kawanku itu. 

sulit untuk mengakhiri ceracauan ini, bahkan aku sama sekali tak membayangkan bagaimana ujungnya saat memulainya. jadi, silakan kecewa karena aku pun sama sekali tak tahu apa klimaksnya. tetapi aku harap kekecewaan itu tak perlu berakhir menjadi benci.

salam sayang . . . :)

3 komentar:

  1. GOOG Stori..it's Funny^_^ ada yah..org am pe sigitu syngnya ama kucingnya...hehehe

    BalasHapus
  2. GOOD Story...it's Funny^_^ ada yah..org yg segitu syngnya ama kucingnya..hehehe

    BalasHapus
  3. ya iyalah kehilangan kucing kesayangan pasti sedih, gmana gak sedih, tapi kejadian diatas b'lebihan bgt, ada2 aja :) semoga sudah ketemu kucingnya

    BalasHapus